Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Azab Kubur Bisa Meringankan Siksa Neraka, Benarkah?

Azab Kubur Bisa Meringankan Siksa Neraka, Benarkah?

hijaz.id
- Dalam Islam, kita meyakini bahwa setelah kematian adalah kehidupan sesudahnya yang sifatnya kekal. Informasi mengenai hal ini seringkali disampaikan dalam Al-Qur’an, maka dengan demikian sudah sepatutnya kita mempersiapkan akhir yang baik untuk kehidupan setelahnya yang indah.
Jika baik selama hidupnya dalam arti taat akan perintah Allah Ta’alaa dan Rasul-Nya, maka kelak dia akan diberikan balasan surga. Tetapi jika sebaliknya, maka neraka adalah seburuk-buruknya tempat kembali baginya.

Mengenai hari kesudahan yang tidak diragukan lagi, kita mengenal salah satu fase yang akan dilalui yaitu memasuki alam kubur. Terkait hal ini, ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa adzab kubur merupakan salah satu perkara yang bisa meringankan siksa kelak di neraka, apakah benar demikian? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits.

Kebenaran yang tidak boleh kita ragukan, bahwa Allah itu Maha Bijaksana dan Maha Adil, tidak mendzalimi manusia sedikitpun. Allah menegaskan,

مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا

Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. (QS. Ghafir: 40)

Allah juga menegaskan,

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya.  (QS. al-An’am: 160)

Kita juga mengimani, siapa yang mati tidak membawa dosa syirik, dia akan masuk surga, meskipun bisa jadi sebelumnya mendapat hukuman, baik di alam kubur maupun di akhirat. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

Siapa yang mati, sementara dia membawa dosa perbuatan syirik, akan masuk neraka.

Kata Ibnu Mas’ud,

وَقُلْتُ أَنَا مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Aku sampaikan, ‘Siapa yang mati dengan tidak membawa dosa syirik sedikitpun, akan masuk surga.’ (HR. Bukhari 1238 & Muslim 278).

Sebaliknya, orang yang mati dengan membawa dosa kekufuran, dia tidak berhak mendapat surga. Allah berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. al-Maidah: 72).

Orang yang tidak membawa dosa kekufuran sampai mati, merekalah ahli tauhid. Adzab kubur bagi ahli tauhid, apakah bisa meringankan hukuman kelak di akhirat? Sebagian ulama menyebutkan, ada beberapa kondisi yang bisa menjadi kaffarah (penebus) bagi dosa seseorang. Kita simak keterangan mereka.

Syaikhul Islam mengatakan,

قد دلَّت نصوص الكتاب والسنَّة على أن عقوبة الذنوب تزول عن العبد بنحو عشرة أسباب

Terdapat beberapa dalil dari al-Quran dan sunah bahwa hukuman terhadap perubatan dosa, bisa dihapuskan dari seorang hamba dengan 10 sebab,

Kemudian beliau menyebutkan sebab yang pertama adalah taubat. Lalu beliau sebutkan yang kedelapan,

السبب الثامن: ما يحصل في القبر من الفتنة والضغطة والرَّوعة، فإن هذا مما يكفر به الخطايا

Sebab kedelapan, suasana mencekam yang terjadi di alam kubur, seperti pertanyaan kubur, himpitan kubur, dan suasana menakutkan di alam kubur, semua ini termasuk yang bisa menjadi kaffarah dosa. (Majmu’ al-Fatawa, 7/501)

Ibnul Qoyim ketika membantah aqidah khawarij, juga menjelaskan,

وإن ارتكبوا بعض الذنوب التي تقع مكفرة بالتوبة النصوح والاستغفار والحسنات الماحية, والمصائب المكفرة, ودعاء المسلمين لهم في حياتهم وبعد موتهم, وبالامتحان في البرزخ وفي موقف القيامة

Ketika mereka melakukan sebagian dosa yang bisa ditutupi dengan taubat nasuhah, istighfar, amal soleh yang menghapus dosa, musibah yang menghapus dosa, doa kaum muslimin untuk mereka ketika masih hidup maupun sudah meninggal, ujian di alam kubur dan di padang mashsyar… (I’lam al-Muwaqqi’in, 2/304)

Wallahu a’lam bish shawab.