Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Thalhah bin Ubaidillah, perisai Rasul yang bergelar Asy Syahidul Hayy ‘Syahid Yang Hidup’

Kisah Thalhah bin Ubaidillah, perisai Rasul yang bergelar Asy Syahidul Hayy ‘Syahid Yang Hidup’

hijaz.id
- Thalhah bin Ubaidillah adalah sahabat Rasulullah yang  berasal dari kaum Quraisy yang termasuk dalam as Sabiqunal al Awalun dan merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin akan masuk surga.


Beliau merupakan saudara ipar Rasulullah SAW melalui perkawinannya dengan Ummu Kulsum binti Abu Bakar yang merupakan saudara dari Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasulullah SAW.

Thalhah merupakan seorang laki-laki dengan tubuh kuat yang memiliki pendirian teguh dan tegar. Beliau lahir di wilayah Hijaz yang merupakan tempat yang berupa hamparan padang pasir.


Dengan fisik, serta karakternya yang begitu kuat ditambah dengan latar belakang kehidupannya yang tumbuh di padang pasir yang kering, yang cenderung akan membangunkan karakter keras pada penghuninya, Thalhah menjadi salah satu sahabat Rasulullah yang tahan dengan kerasnya pertempuran. Meskipun demikian, Thalhah adalah orang yang memiliki rasa dermawan dan baik hati.

Kisah Thalhah saat memeluk Islam
Dalam perjalanan kisahnya memeluk agama Islam, sahabat Thalhah tidak ragu menghabiskan seluruh hartanya demi untuk membela agama Islam. selain itu, ia juga tidak ragu menyerahkan nyawanya demi untuk membela jalan Allah.

Thalhah bin Ubaidilah dalam kisahnya, mendapatkan sebuah gelar Asy Syahidul Hayy atau bisa di artikan sebagai syahid yang hidup. Julukan yang diberikan kepadanya oleh Rasulullah SAW saat perang Uhud. Pada saat itu Thalhah telah syahid karena mengorbankan dirinya. Beliau berkorban dengan menjadikan dirinya sebagai perisai yang menahan laju anak panah yang dilepaskan oleh kaum Quraisy kepada Rasulullah SAW.

Alasan Thalhah bin Ubaidillah bergelar Asy Syahidul Hayy
Dikisahkan bahwa, saat ditemukan, Thalhah masih dalam keadaan hidup. Meskipun pada saat itu di tubuhnya ditemukan banyak luka. Paling tidak ada 79 tebasan pedang, tusukan lembing dan panah yang memenuhi seluruh tubuhnya. Serta luka pada kening, dengan bibirnya robek beserta dengan giginya yang patah. Dari kepala hingga tubuh dilumuri oleh lumuran darah segar. Karena itulah Thalhah disebut sebagai Asy Syahidul Hayy yaitu syahid yang masih hidup.

Dalam setiap pembicaraan yang membahas perang Uhud, Abu Bakar as Shidiq selalu menambahkan bahwa perang itu (perang Uhud) adalah perang milik Thalhah.

Selanjutnya pada perang Badar, Thalhah tidak turut serta. Pada saat itu beliau sedang mendapatkan perintah dari Rasulullah untuk menjadi mata-mata di luar kota bersama dengan Sa’id bin Zaid.

Thalhah bin Ubaidillah gugur dalam perang Jamar yaitu perang yang terjadi di Basra antara umat muslim yang berpihak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan umat muslim yang berpihak kepada Aisyah.