Takjub! Wanita ini Rela Kehilangan Pekerjaan Demi Islam

jabat-tanganIslam merupakan agama yang mengajarkan segala hal dari yang paling besar sampai paling kecil. Seorang Guru Muslimah di Swedia, Fardous El-Sakka berusia 20 tahun yang saat ini menjadi pengajar di Sekolah Kkunskapsskolan di Helsnggborg, Swedia Selatan memiliki kisah yang mengesankan. Menurut keterangan setempat, Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya lantaran ada tindakan yang tidak sesuai menurut syariat Islam. Fardous juga melaporkan beberapa keluh kesahnya selama mengajar kepada Ombudsman Kesetaraan Swedia akibat adanya tindakan diskriminatif yang diterima oleh dirinya.

Rupanya Fardous menyindir salah satu staf pria yang bekerja di sekolah yang sama karena Fardous menolak untuk bersalaman dengan pria tersebut. Fardous adalah seorang muslimah yang taat, ia hanya berpegang sesuai ajaran Islam, karena Islam memiliki aturan ketat terhadap orang yang bukan muhrimnya dan mengajarkan untuk tidak bersentuhan atau bersalaman dengan laki-laki kecuali mahramnya yang sah.

Untuk menghormati, biasanya para Muslimah menempelkan kedua tangan di depan dadanya dan membungkukkan badan serta kepala, sebagai salah satu tanda menghormati lawan jenisnya.

“Jika ada yang didiskriminasi di sini, itu adalah karyawan yang menolak tangannya berjabat tangan dengan pria. Pria itu sangat tersinggung,” kata Kepala Sekolah Lidija Munchmeyer, seperti dikutip dari  Expressen, Jumat (23/9/2016) waktu setempat.

Setelah peristiwa tersebut, Fardous langsung dipanggil oleh kepala sekolah dan diminta agar menghargai dan menghormati seluruh nilai-nilai serta aturan yang ada di sekolah jika masih tetap ingin bekerja di sekolah tersebut. Kepala sekolah itu mengatakan hal tersebut merupakan sebuah simbol kesetaraan gender, tidak ada perbedaan. Namun Fardous menolak dengan hormat permintaan kepala sekolah itu. Fardous lebih memilih mematuhi aturan Islam dari pada mengikuti kesetaraan gender dan melanggar syariat Islam.

“Dia berdiri dan berkata, ‘Kalau begitu saya pergi sekarang,” kata Munchmeyer menceritakan kronologi berhentinya Fardous dari sekolah itu, dikutip dari republika.co.id.

Kepala sekolah itu menyampaikan bahwasanya sekolah tersebut hanya mengajarkan untuk tidak memperlakukan orang berbeda-beda, semuanya sama. Karena hal itulah yang diajarkan oleh para guru kepada siswa-siswi di sana, maka seluruh staf pun apalagi guru yang mengajarkannya juga harus melakukannya hal tersebut kepada sesama. Namun menurut Fardous, ia merasa diperlakukan oleh sekolah tidak adil terhadapnya, ada diskriminasi.

Kejadian ini bukan yang pertama di Swedia dan negara Eropa lainnya. Pada bulan Juni lalu, seorang petugas Imigrasi Muslim laki-laki yang bekerja di perbatasan Swedia juga mengalamu hal serupa. Ia dikabarkan oleh teman-teman perempuannya telah menolak untuk bersalaman dengan mereka. Kemudian pada bulan Juli lalu, seorang pegawai Muslim di Swedia Selatan dipecat setelah dirinya menolak untuk bersalaman dengan rekan kerja wanita. Seperti Fardous, tindakan sesuai syariat Islam malah dituduh melanggar kesetaraan gender.

Originally posted 2016-09-23 00:00:00.