Orangtua Susah Dinasehati, Bagaimana Solusinya Menurut Islam?

Sumber foto dari google.com

Menyampaikan kebenaran hukumnya menjadi wajib bagi seorang muslim. Tidak ada syarat khusus ketika akan melakukannya, hal terpenting adalah kebenaran itu tersampaikan. Tidak masalah jika nantinya terjadi penolakan. Adalah suatu hal yang wajar, karena setiap objek dakwah tentu akan memiliki penerimaan yang berbeda.

Nah, tantangan terbesar bagi seorang seorang muslim adalah menyampaikan kebenaran itu kepada keluarga, termasuk orangtua sendiri. Tidak sedikit dari kita yang pandai memberitahu oranglain, bahkan menjadi jalan hijrah bagi orang lain, tetapi hal tersebut tidak dilakukan kepada keluarganya sendiri dengan alasan terjadi penerimaan atau respon negatif semacam penolakan. Sampai akhirnya menyerah dan merasa enggan untuk mengajak lagi.

Tapi, hal tersebut tentunya jangan menjadi alasan jika memang kita ingin keluarga atau orangtua kita selamat dari siksa api neraka. Dan, tidaklah rugi ketika kita mengajak kepada kebenaran karena sejatinya kita sedang mengumpulkan pundi-pundi amal kebaikan, meskipun kita tidak  menyadarinya.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Lalu, jika orangtua masih sulit dinasehati. Terpenting kita menyadari bahwa setiap orangtua, kakak, adik ataupun kakak mempunyai hak untuk dinasehati. Tentunya cara menasehatinya dengan sikap yang lemah lembut atau sesuai kemampuan juga kondisi dari objek yang akan dinasehati itu.

Berbuat baik kepada mereka merupakan perkara wajib, menurut kemampuan. Allah Ta’alaa berfirman:

وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ {14} وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ {15}

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk memperseukutan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik..” (QS. Luqman: 14-15)

Hal lain yang harus diperhatikan adalah sebelum menyampaikan kebenaran itu, pastikan bahwa kita sudah melakukannya. Karena, metode dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah dakwah bil hal atau dakwah dengan perbuatan. Seperti dalacontoh, misal kita menyampaikan kepada orangtua bahwa shalat itu perkara wajib. Nah, sebelum menyampaikan hal tersebut, kita harus terlebih dahulu melakukan shalat, disamping orangtua bisa melihat, pun mereka tidak bisa menyanggah ketika diberitahu karena terbukti orang yang menyampaikannya pun melakukannya.

Selain itu, pahami kondisi emosi orangtua supaya kita bisa mengimbanginya. Hal yang menjadi masalah adalah tendensi yang berbeda yang mengakibatkan terjadi kesalahfahaman. Alih-alih menyampaikan kebenaran tapi karena caranya salah dan penyampaian yang kuran tepat maka yang ada malah terjadi perseteruan.

Wallahu a’lam bish shawwab

Originally posted 2017-07-04 10:07:05.