Kecelakaan dan Penyesalan Bagi Orang yang Tidak Pandai Memilih Teman dalam Bergaul

Sumber Foto dari google

Ada banyak teman, dan ada banyak jenis pertemanan. Semakin banyak teman, akan banyak merasakan apa yang tak pernah sebelumnya dirasakan, atau sesekali menganggap diri tak berarti, tapi disisilain bersyukur di pihak yang lain masih ada orang yang tidak bisa seberuntung kita. Meski pada akhirnya kita harus pandai membatasi diri sejauh mana pertemanan kita.

Berteman dengan orang yang baik akan mengantarkan kita kepada jalan yang baik dan benar, berteman dengan orang yang malas atau jauh dari agama, meski awalnya kita taat kepada ajaran agama, kita akan bawa secara perlahan dengan tidak sadar ke jalan  yang semisal dengannya entah menjadi pemalas atau menjadi tidak taat kepada agama.

Pertemanan diibaratkan apabila bergaul dengan seorang penjual minyak wangi, maka setidaknya kita akan mendapatkan bau wanginya, apabila berteman dengan pandai besi, setidaknya kita akan mendapatkan bau yang tidak sedapnya. Seperti Hadist Bukhari Muslim berikut ini :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan akan adanya penyesalan bagi orang yang tidak pandai memilih teman, teman yang seharusnya mengajaknya kepada jalan yang benar, yang selalu membersamai kepada kebaikan dan kebenaran, ia malah sebaliknya. Seberpengaruh itukah pertemanan kepda kehidupan kita nanti di akhirat?

Tentu akan sangat berpengaruh, karena pada fitrahnya manusia adalah mahluk sosial, menurut Ahmad Susanto, “perkembangan sosial merupakan  pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi, meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama” maka pada hakikatnya manusia adalah ia yang selalu menyesuaikan diri kepada lingkungannya, apabila lingkungannya baik maka akan terbawa baik, apabila lingkungannya buruk, akan terbawa buruk secara tidak sadar. Seperti yang dijelaskan di dalam Q.S Al-Furqan; 27-19 :

وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًا

Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku” (Al Furqan:27)

 

Imam Syafi’i berkata:
“Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman-baik- itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali”

Allah SWT berfirman :

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: Ayat 67).

Wallahu’alam Bishawab

Originally posted 2017-07-04 10:16:24.