Memahami Makna Toleransi dalam Islam yang Bukan Integrasi

 

toleransi (bunderan.dutadamai.id)
Sumber Foto dari bunderan.dutadamai.id

Belakangan ini, isu tentang toleransi sedang banyak dibicarakan, bahkan diperdebatkan tentang makna dan implementasinya dalam tatanan bangsa yang takdirnya beragam. Menjadi umat yang saling memahami perbedaan memang teramat perlu. Karena berbeda bukan berarti tidak bisa hidup bersama dalam satu wadah tertentu. Saling memahami adalah kunci, karena mengedepankan perbedaan dari jalinan hubungan bersama merupakan sesuatu yang sia-sia.

Ketidaksamaan kita sebagai manusia adalah fitrah Sang Pencipta. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kami berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya akmi saling kenal-mengenal. (Al-Hujurat; 11).

Karenanya dalam lanjutan ayat 13 surah Al-Hujurat, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan agar sebagai manusia yang berbeda, tidak diperbolehkan untuk saling merendahkan satu dengan lain, karena bisa saja yang sedang ditertawakan lebih baik dari yang mentertawakan.

Tersebab itulah toleransi menjadi sering disebut-sebut sebagai solusi agar kita yang berbeda bisa menjalin hubungan baik dan hidup bersama. Tetapi kemudian, makna toleransi mestinya lebih dulu ditempatkan pada kedudukan yang tepat, sebelum banyak dari umat yang keliru memahami.

Hakikat toleransi adalah mampu menerima orang lain sebagai bagian dari kehidupan kita, tanpa menciderai segala sesuatu yang sudah menjadi keyakinan individu. Bersedia menerima kehidupan orang lain bukan berarti meleburkan dan memaksa menjadi sama. Sebagai umat Islam, setiap kita meski pandai memisahkan antara kehidupan sosial dan kehidupan beragama. Akhir-akhir ini, kita seperti menyaksikan begitu banyak pernyataan dan pemahaan yang sengaja membingungkan umat. Toleransi yang mencampuradukkan semua aspek, tak terkecuali nilai-nilai keagamaan.

Islam adalah agama yang santun, bernilai luhur dan cinta kasih sesama manusia, jauh dari kekerasan. Hanya karena kekeliruan memahami toleransi, justeru agama ini dipandang seperti bertolakbelakang dari semestinya. Islam disebut intoleran, mengedepankan kekerasan, dan citra buruk lainnya.

Tidak habis-habisnya bukti yang bisa dijelaskan untuk membuktikan jika Islam adalah agama yang paling toleran di dunia. Pada perjanjian yang tertuang dalam Piagam Madinah, kita dapat jelas melihat bagaimana Rasulullah mengatur kehidupan bersama tiga agama; Islam, Yahudi dan Nasrani. Mengatur hak dan kewajiban semua manusia sebagai warga negara. Karena sejatinya, sebagai makhluk sosial, Islam sangat mengedepankan toleransi.

Kita pun bisa kembali mengingat bagaimana Rasulullah teramat sabat ketika dihinakan oleh orang-orang Yahudi. Dilempari kotoran setiap hari, Rasulullah justeru menjadi orang pertama yang menjenguk ketika yang melempari jatuh sakit. Dihinakan oleh si buta yang juga Yahudi, Rasulullah justeru menjadi satu-satunya orang yang bersedia menyuapinya makan setiap waktu.

Islam sangat mengedepankan kasih sayang sesama manusia, terlepas dari apa pun agamanya. Hanya saja, Rasulullah berubah drastis sikapnya jika berkaitan dengan agama, tauhid dan ke-Esaan Penciptanya. Banyak sekali penduduk Madinah bernegosiasi agar Rasulullah bersedia bekerjasama dalam agama, saling menyembah Tuhan yang dipercaya.

Kemudian Rasulullah diingatkan oleh Allah dalam surah Al-Kafirun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Dalam sebuah riwayat yang diceritakan oleh Abdillah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan sebuah pertanyaan yang disampaikan kepada Rasulullah, Ditanyakan kepada Rasulullah, Agama apa yang paling dicintai oleh Allah? Beliau bersabda, “Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran)”.

Inti dari makna toleransi ialah menjaga keberlangsungan kehidupan sosial yang harmonis tanpa merusak keyakinan dan ketauhidan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pandailah memisahkan sisi kehidupan agama dan sosial. Bersikap toleransi sangat dianjurkan dalam Islam, namun bukan berarti mencampuradukkan nilai-nilai keTuhanan. Hiduplah berdampingan, tanpa ada hasrat untuk saling menyatukan.

Originally posted 2017-07-06 06:05:15.