Ustman Bin Affan, Sahabat yang Masyhur dengan Sifat Pemalunya  

Sumber Foto Dari: jateng.dompetdhuafa.org

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Umatku yang paling pengasih adalah Abu Bakar, yang paling keras menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Ustman…” potongan hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi.

Ustman bin Affan ialah salah seorang dari sahabat Rasulullah yang unggul dalam keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Dianugerahi kekayaan luar biasa, Ustman jugalah yang menjadi salah satu penyokong terbesar perjalanan dakwah Nabi. Dengan hartanya, Ustman memberikannya di jalan Allah tanpa hitungan. Dengan kesempatan hidupnya, Ustman menghabiskan siang dengan berpuasa dan menjalani malam dengan menegakkan shalat.

Di antara banyak keutamaannya, satu ibrah yang bisa kita ambil dari sosok Ustman Bin Affan ialah sikap pemalunya. Kemuliaan itu hingga membuat Allah dan Rasul terkesima kepadanya. Dalam sebuah riwayat Imam Muslim diceritakan, bahwa suatu ketika Rasulullah sedang tidur terlentang, kemudian datang Abu Bakar dan Ustman bertamu ke rumah beliau. Ketika Ustman meminta izin untuk masuk Rasulullah segera menutup betisnya dan berkata, “Bagaimana aku tidak merasa malu dengan orang yang malaikat pun malu kepadanya.”

Dalam sebuah kisah diceritakan, jika Ustman bin Affan ketika mandi, beliau tetap menggunakan pakaian yang menutupi auratnya. Ketika ditanya apa sebabnya beliau berlaku demikian, padahal kamar mandinya tertutup dan tidak seorang pun dapat melihatnya. Ustman Bin Affan menjawab, “meski tidak satu pun orang yang melihatku, tapi Allah selalu memerhatikanku”. Tersebab itulah beliau malu jika mandi dalam keadaan tidak berbusana atau tidak menutupi auratnya.

Betapa rasa malu Ustman bin Affan sampai pada derajat yang banyak orang tidak sampai memikirkannya. Meski sudah dijaminkan surganya oleh Allah, tetapi para sahabat justeru memiliki kualitas pribadi yang teramat jauh dari kita, manusia berlumur dosa yang belum pasti selamat kepungan godaan dan ujian.

Rasa malu adalah sebagian dari iman seseorang. Terkhusus rasa malu untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum Allah. Malu ketika ingin berbuat dosa, malu jika tidak memanfaatkan waktu untuk beribadah kepada Allah.

Jika Nabi dan para sahabatnya pun memiliki rasa malu yang demikian itu, maka sudah sepantasnya pula kita berupaya maksimal. Memiliki sifat sebagaimana Ustman bin Affan tentu tidak mudah, tetapi berusaha mengupayakannya adalah sesuatu yang dengan keMaha-Murahannya dicatat sebagai niat menjadi lebih baik.

Saatnya masing-masing kita mengukur, seberapa kualitas dari rasa malu tertanam di dalam diri ini, khususnya yang berkaitan dengan menjalankan perintah Allah dan menyudahi perilaku yang melanggar aturannya.

Originally posted 2017-07-08 04:08:51.