Hindari Memakan Harta Riba, Sebab Dosa Terkecilnya Seperti Menyetubuhi Ibu Kandung  

Sumber Foto Dari: citra.org

Dalam riwayat shahihnya, Imam Bukhari menjelaskan jika Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.”

Riba secara bahasa berarti tambahan. Sebagian ulama menyimpulkan, jika riba memiliki makna tambahan yang dipersyaratkan dari transaki utang piutang. Abu Bakar al-Jashshash menjelaskan, riba yang dulu dikenal oleh orang-orang Arab hanyalah berupa pinjaman dirham dan dinar sampai batas waktu tertentu dengan memberikan sejumlah tambahan dalam pinjaman sesuai kesapakatan mereka. Riba yang demikian adalah termasuk riba nasi’ah dan sangat masyhur di kalangan bangsa Arab di masa Jahiliyah. Ketika Al-Qur’an turun, maka datanglah pengharaman terhadap kegiatan ini.

Aktivitas keseharian di era modern ini justeru seperti mendekatkan kita pada hal-hal yang bersentuhan dengan riba. Semisal, para pedagang kecil yang dekat dengan pinjaman dana berbunga dari rentenir. Tidak terkecuali sebagian kita, yang melakukan transaksi keuangan dengan sistemasika berbasis bunga.

Tambahan dalam Islam tidak dilarang, jika diperoleh dengan cara-cara yang tepat. Selayaknya seorang pedagang yang mengambil keuntungan dari barang yang dijualnya. Dana yang berbunga disepakati sebagai bagian dari riba oleh mayoritas ulama adalah karena pengambilannya tidak didasarkan pada ketentuan yang tepat. Tambahan yang dibolehkan hanya melalui proses jual beli, dan bukan utang piutang. Selain itu, keberadannya pun dapat menyebabkan kemudharatan bagi salah satu pihak, khususnya si peminjam dana (ada pihak yang terdzalimi). Sebab itulah riba menjadi salah satu dosa yang begitu berat ganjarannya.

Sekecil-kecilnya dosa riba, setara dengan berzina dengan ibu kandungnya sendiri. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda, “Dosa riba memiliki 72 pintu,  dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.”

Allah Subhanahu wata’ala memberikan ancaman yang teramat berat bagi siapa pun yang makan dan mengambil harta riba. Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 275, Allah Subhanhu wata’ala berfirman, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila…”.

Berhati-hatilah dalam melakukan transaksi keuangan. Sebisa mungkin hindari segala hal yang mengandung unsur-unsur riba. Jika hanya karena sejumlah harta di dunia membuat kita tersiksa kelak di akhirat, maka lebih baik ditinggalkan saja. Cukuplah Allah Sang Maha Memberi Kelapangan yang mencukupkan kebutuhan hidup kita. Ikhtiarkanlah rezeki dengan cara-cara yang diridhai oleh Dia. Karena sesungguhnya, kenikmatan harta riba hanya tipu daya sesaat yang balasannya akan langsung kita terima di dunia, terlebih kelak di hari pembalasan.

Originally posted 2017-07-09 06:22:58.