Apakah Boleh Merayakan Ulang Tahun dan Bagaimana Hukumnya Menurut Islam?

Sumber foto dari google.com

Ulang tahun, bagi kebanyakan orang dianggap sebagai hari yang sangat spesial. Selain sebagai  kelahiran, dianggap juga sebagai momen tepat untuk melakukan evaluasi diri. Kebiasaan lainnya yang sering dilakukan adalah merayakannya dengan pesta dan dilengkapi acara potong kue juga tiup lilin. Pun, akan disisipkan sebuah ritual khusus berupa “Make a Wish“, memanjatkan do’a dan harapan, biasanya dilakukan sebelum acara tiup lilin.

Hal ini kemudian ditiru oleh sebagian besar penganut agama Islam, terutama anak remaja. Padahal, jika ditinjau dari sejarah, mengenai hukum ulang tahun ini, dalam agama Yahudi sendiri masih diperdebatkan mengenai kebolehannya. Walaupun, dalam agama lain seperti Budha, Hindu, Sikh, Kekristenan dan lainnya dilakukan sebuah perayaan khusus berikut ritual-ritualnya.

Nah, sekarang kita akan meninjau daru sudut pandang syari’at Islam: Apakah boleh merayakan ulang tahun dan bagaimana hukumnya?

Hal ini penting diketahui, karena jangan sampai kita terlena oleh suatu budaya yang ternyata tidak sesuai dengan syari’at. Coba perhatikan sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut ini:

من تشبه بقوم فهو منهم

Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban)

Mengenai perayaan ulang tahun ini memang terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, ada yang melarang dengan alasan karena  perayaan hari kelahiran (maulid) termasuk amalan yang tidak dituntunkan dalam Islam sehingga tak perlu diamalkan.Lalu, menurut pendapat yang memperbolehkan diantaranya karena alasan sebagai rasa syukur kepada Allah atas karunia jatah umur yang masih diberikan dengan tidak disertai ritual khusus seperti yang selama ini dibudayakan oleh kebanyakan orang (potong kue, tiup lilin dan lainnya).

Maka, jelasbahwa memang merayakan ulang tahun, itu tidak diperbolehkan karena mengenai “rasa syukur”, sudah sepatutnya kita lakukan dan itu bukan hanya ketika ulang tahun saja, melainkan setiap hari, setiap hembusan nafas.

Lalu, ketika ada yang merayakan ulang tahun kemudian memberikan makan, bagaimana sikap kita seharusnya sebagai seorang muslim dalam menghadapi kejadia seperti itu?

Memakan makanan saat acara tersebut tidaklah dibolehkan. Namun, ada yang menganggap bahwa memakan makanan tersebut tak masalah karena tujuannya adalah untuk memuliakan tamu dan semuanya tergantung niat.

Akan tetapi yang lebih tepat, maksud menyajikan makanan ketika itu adalah untuk memperingati acara yang tidak ada tuntunannya. Sedangkan makan makanan yang ada pada acara tersebut termasuk dalam tolong menolong dalam dosa dan melampaui batas. Allah Ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al Maidah: 2)

Jika ada yang berkata “Memang ada masalah apa dengan perayaan kaum musyrikin? Bukankah tidak berbahaya jika kita mengikutinya”. Jawabnya, seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah-lah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka, ini tercakup dalam ayat,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadalah: 22)

Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah– menjelaskan : “Panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatan-Nya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka” (Dinukil dari terjemah Fatawa Manarul Islam 1/43, di almanhaj.or.id).

Maka, dari uraian diatas kita dapat mengambil beberapa benang merah, diantaranya: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan bijaklah dalam menghindarinya. Ketika akan menolak untuk menghindari, tunjukkan dengan sikap yang berwibawa dan tidak menyinggung. Jika mampu, sampaikan pula mengenai hukumnya dalam Islam.

Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Pun, mengenai evaluasi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan terutama ketika momen ulang tahun saja. Semoga bermanfaat.

Untuk lebih lengkapnya bisa disimak video berikut.

Wallahu a’lam bish shawab.

Originally posted 2017-07-12 00:48:07.