Abu Bakr Ash Shidiq dan Ali Bin Abi Thalib: Semakin Mulia Seseorang, Semakin Jauh Dari Kesombongan

Sumber Foto Dari: dakwatuna.com

Ada segumpal darah di dalam tubuh manusia, yang apabila baik ia, maka baik pulalah semuanya. Tetapi jika rusak ia, maka rusak pula yang lainnya. Ialah hati, tempat segalanya bermuara. Kebaikan dan keburukan seorang hamba, ditentukan dari bagaimana ia memperlakukan hatinya. Membiarkannya berpenyakit, atau tak pernah jeda menyuburinya dengan nilai-nilai kebaikan.

Sifat sombong memang sudah menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari  keseharian manusia. Hasrat ingin menjadi yang terdepan di antara manusia lain, keinginan untuk dilihat sebagai seorang yang lebih dari yang lain, sudah menjadi fitrah yang semestinya disikapi dengan teramat bijak. Kesombongan bukan hanya tentang apa yang kita punya, lebih dari itu ialah pembawaan.

Sebagian manusia memiliki lebih banyak, tetapi cara membawakan kepemilikannya santun dan biasa-biasa saja. Ada pula sebagian lain yang hidupnya biasa, tetapi dibawakan dengan segudang keangkuhan agar dilihat mewah dan menawan.

Ketahuilah wahai manusia, hanya Allahlah dengan segala Ke-Maha Agungannya yang berhak menyombongkan diri. Sebagai manusia, kita ini punya apa? Jika bukan Allah yang Maha Baik memberikan sebagian anugerah-Nya pada kita? Jika bukan Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang yang hingga kini masih terus memberikan kenikmatan-kenikmatan?

Kita ini hanya makhluk teramat lemah dan tak berdaya. Tetapi mengapa seringkali tertanam di dalam hati kita hasrat untuk sombong dan membusungkan dada? Seolah-olah segala capaian dan kepemilikan di dunia ini murni tersebab diri sendiri. Merasa sebab lahirnya kepandaian adalah mutlak karena rajin belajar dan usaha keras. Menganggap kekayaan tersebab rajin bekerja dan kehebatan pribadi. Jika Allah tidak mengizinkan, jangankan harta benda, sehelai rambut pun tidak akan tumbuh tanpa seizin dan sepengatahuan Dia.

Tertuang di dalam Al-Qur’an surah Asy-Syu’ara ayat 215, “Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.”

Sebuah kisah dari dua sahabat Nabi yang jelas dijamin surganya oleh Allah dan Rasul-Nya. Suatu ketika Abu Bakr dan Ali bin Abi Thalib berjalan berdua menuju rumah Rasulullah. Sesampainya di hadapan pintu rumah beliau, keduanya saling mempersilahkan untuk lebih dahulu masuk.

“Wahai Ali, silahkan engkau masuk lebih dulu”, pinta Abu Bakr.

“Mana mungkin aku akan mendahukuimu ya Abu Bakr, sedang Rasulullah sendiri pernah bersabda tentangmu, ‘Belum pernah matahari terbit atau terbenam atas seseorang sesudah para Nabi, lebih utama dari Abu Bakr” jawab Ali bin Abi Thalib.

“Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Abu Bakr, sedang Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Kalau iman umat ini ditimbang dengan iman Abu Bakr, tentu akan berat timbangan iman Abu Bakr’” tambah Ali memuji sahabatnya itu.

“Mana mungkin aku akan mendahuluimu ya Ali, sedang Rasulullah pernah bersabda tentangmu, ‘Dikumpulkan Ali bin Abi Thalib di padang mahsyar pada hari kiamat kelak dengan kendaraan bersama Fatimah, Hasan dan Husein, lalu orang-orang bertanya, ‘Nabi siapa gerangan itu?’ Lalu ada yang menjawab, ‘ia bukan Nabi, tetapi Ali bin Abi Thalib dan keluarganya” jawab Abu Bakr menimpali.

“Mana mungkin aku akan mendahuluimu wahai Abu Bakr, sedang Rasulullah pernah bersabda, ‘Kalau aku harus mempunyai kekasih selain dari Rabbku, tentu aku akan memilih Abu Bakr sebagai kekasihku” Ali kembali memuji sahabatnya itu.

“Mana mungkin aku akan mendahuluimu wahai Ali, sedang Rasulullah pernah bersabda, ‘Pada hari kiamat aku bersama Ali, lalu Allah berfirman kepadaku; Wahai kekasihku, aku telah pilihkan untukmu, Ibrahim al-Khalil sebagai ayah terbaikmu, dan aku telah pilihkan untuk Ali sebagai saudara dan sahabat terbaikmu” jawab Abu Bakr.

“Mana mungkin aku akan mendahuluimu ya Abu Bakr, sedang Allah Ta’ala pernah berfirman tentangmu, ‘Dan orang yang datang membawa kebenaran dan orang yang membenarkannya, mereka itu adalah orang-orang yang bertaqwa” Ali mengutip sebuah ayat dari surah Az-Zumar (33).

“Mana mungkin aku akan mendahuluimu ya Ali, sedang Allah Ta’ala juga telah mengisyaratkanmu dalam firman-Nya, ‘Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari kerelaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya’” Abu Bakr pun mengutip sebuah ayat dari surah Al-Baqarah (207).

Di saat keduanya saling membicarakan keutamaan masing-masing, datanglah Jibril kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ya Rasulullah, di luar sana ada Abu Bakr dan Ali hendak menemuimu. Pergilah, sambutlah keduanya.”

Bangkitlah Rasulullah dan segera membukakan pintu untuk keduanya. Beliau menyambut mesra dan mempersilahkan kedua untuk masuk dan ditempatkanlah Abu Bakr di sebelah kanannya, dan Ali di sebelah kirinya, kemudian beliau berkata kepada keduanya, “Demikianlah kami kelak dibangkitkan di hari Kiamat.”

Betapa rendah hatinya Abu Bakr dan Ali bin Abi Thalib. Sahabat dengan berjuta keutamaan dan kemuliaan, punya kadar iman beribu kali lipat dari kita, punya nilai ketaqwaan bertingkat-tingkat jauh di atas kita, tetapi justeru kerendahan hati lebih utama di dalam diri keduanya. Bagaimana dengan kita, yang masih menunda ibadah, yang masih sulit menyedekahkan harta, yang masih sangat dhaif dan sukar taat pada ketentuan Allah?

Jika kesombongan layak di dimiliki, maka satu-satunya yang berhak ialah Dzat Maha Kuasa, Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka tetaplah rendah hati, karena kesombongan hanya akan menyeret kita pada kenistaan akhlaq dan catatan buruk di sisi Allah azza wa jalla.

Originally posted 2017-07-12 03:51:19.