Kisah Sahabat Buta yang Terhapus Separuh Dosanya

Sumber Foto Dari: pks-mulyorejo.blogspot.co.id

Ada begitu banyak kisah dari para sahabat yang menunjukkan kemuliaan dan keagungan mereka. Hidup di zaman Rasulullah, bertemu langsung dengan manusia paling mulia, berjuang meneguhkan keimanan di tengah ujian teramat dahsyatnya. Tidak mudah, tetapi justeru dengan ujian berat itulah para sahabat dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Salah satu kisah yang menunjukkan betapa iman dan ketaqwaan para sahabat sungguh jauh melampaui kita. Ialah Abdullah bin Umi Maktum, seorang buta yang ceritanya menyejarah karena kemuliaan dan keimanan tak terhalanag oleh keterbatasan lahirnya.

Kebutaan yang dideritanya sejak kecil tak membuatnya berhenti menjadi bagian dari perjuangan Islam di masa-masa awal. Ia tak sama sekali mengendurkan semangatnya, hingga ibadahnya nyaris tak berbeda dengan sahabat lain yang sempurna fisiknya.

Suatu ketika Umi Maktum berjumpa dengan Rasulullah, kemudian beliau bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak keci.” Rasulullah pun bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi, “Allah Tabaraka wa ta’ala befirman, ‘Jika Aku mengambil penglihatan hamba-Ku, maka tidak ada balasan yang lebih pantas kecuali surga.”

Karena kebutaannya, Umi Maktum bermaksud untuk meminta keringanan kepada Rasulullah agar tidak diwajibkan untuk shalat berjamaah di masjid. “Wahai Rasulullah, rumahku sangat jauh dari masjid, dan aku tidak mempunyai penuntun dalam berjalan, maka apakah ada keringanan untukku (meninggalkan shalat jama’ah di masjid?)” Rasulullah pun memberikan kepadanya keringanan. Tetapi setelah ia berpaling dari hadapan Rasulullah, beliau bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendengar adzan?” Umi Maktum menjawab, “Ya.” Rasulullah bersabda, “Maka jawablah seruannya, karena aku tidak mendapatkan keringanan untukmu.” Peristwa itu tertuang dalam sebuah hadist riwayat Imam Ahmad di dalam kitab Al-Musnad: 3/23.

Sejak saat itulah, Abdullah bin Umi Maktum tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid. Saat adzan berkumandang, ia lekas-lekas beranjak, menapaki jalan dengan sebilah tongkat. Teman penuntunnya hanya tongkat itu, dan tak pernah luput menyertainya di setiap waktu shalat.

Hingga di suatu waktu, di tengah perjalanan menuju ke masjid, Umi Maktum tersandung sebuah batu. Hingga berdarah kepala Umi maktum sebab terjatuh-tersungkur. Meski begitu ia tetap meneruskan langkah kakinya untuk mengikuti shalat berjamaah di masjid. Betapa tegarnya Umi Maktum, di saat keadaan tidak mendukungnya, ujian berat menghalangnya, ia tetapkan langkah untuk tetap mencari ridha Allah.

Keesokan harinya, datang seoang pemuda yang menawarkan diri untuk menemani Umi Maktum, menuntunnya di setiap waktu shalat. Mendengar niat baik sang pemuda, Umi Maktum pun bersedia dan gembira hatinya. Pemuda itu dengan tekunnya menggandeng dan merangkul Umi Maktum dari rumahnya hingga masjid, pergi dan pulang.

Karena kebaikannya, di suatu kesempatan Umi Maktum memuji dan berterima kasih kepada pemuda itu dengan mendoakannya. Namun sang pemuda menolaknya, “aku tidak ingin didoakan.” Terkejutlah Umi Maktum mendengar pernyataan pemuda itu. “Baiklah, jika engkau tidak mau kudoakan, maka cukupkanlah niatmu membantuku. Tunjukkan kepadaku siapa dirimu” pinta Umi Maktum.

Pemuda itu berkata, “Apakah engkau benar ingin mengetahui siapa aku?” Umi Maktum dengan segera menjawab, “Ya, beritahukan kepadaku siapa dirimu?”

“Akulah iblis yang setiap hari menuntunmu” Semakin terpana Umi Maktum mendengar jawaban pemuda itu. “Bagaimana bisa engkau menuntunku setiap waktu ke masjid, sedang tugasmu adalah menggelincirkan manusia untuk ingkar pada Rabbnya.”

“Ingatkan engkau saat tersandung sebuah batu kala itu, hingga berdarah kepalamu”, kata Iblis yang menyamar sebagai pemuda itu. “Iya” tegas Umi Maktum. “Batu itulah godaanku untuk menyurutkan imanmu agar tidak lagi pergi shalat berjamaah di masjid. Tetapi engkau tetap melanjutkan langkahmu dan semakin kokoh imanmu. Aku mendengar jika Allah telah mengampuni separuh dosamu tersebab sandungan batu itu. Karenanya aku menjagamu untuk melindungi agar engkau tidak tersandung kedua kali sehingga terhapuslah semua dosamu.”

Sungguh, betapa keimanan seorang buta yang teramat menawan. Karenanya Allah dan Rasul-Nya memuliakan Umi Maktum. Hingga turun dua surah di dalam Al-Qur’an yang disebabkan peristiwa yang terjadi padanya.

Jika mengukur keimanan Umi Maktum dengan kita saat ini, yang lahir dalam keadaan sempurna tanpa kekurangan sesuatu apa pun. Sudahkah kita menjadi hamba yang mengabdi dengan sebaik-baik pengabdian? Sudahkah kita memperjuangkan Allah lebih dari memperjuangkan apa pun?

 

Originally posted 2017-07-13 12:43:33.