Tidak Akan Sabar Manusia Melihat Bagaimana Allah Mengatur Keadilan

Sumber Foto Dari: patch.com

Sebagian kita pernah menuduh Allah tidak adil, hanya tersebab apa yang diinginkan tidak mampu dicapai. Sebagian kita pernah menyebut Allah tidak adil, hanya karena orang lain mendapatkan dan kita tidak. Sebagian kita pernah berkata Allah tidak adil, padahal kita pun hanya datang kepada-Nya disaat-saat butuh saja.

Memang teramat sulit bagi kita untuk seketika menyadari, betapa ke-Maha Adilan Allah mengatur setiap sisi kehidupan, tanpa terlewat sedikit pun. Bagaimana Allah Maha Adil menentukan yang baik-baik bagi kita, meski terkadang terlihat tidak demikian. Bagaimana Allah menghindarkan keburukan dari hadapan kita, meski seringkali tidak disadari.

Sebuah kisah dari Nabiullah Musa alaihi wa sallam, suatu ketika beliau meninta kepada Allah, agar ditampakkan kepadanya cara Allah mengatur keadilan di muka bumi ini. “Wahai Allah, perlihatkan kepadaku keadilan-Mu” pinta Nabi Musa. Kemudian dijawablah oleh Dzat yang Maha Mengetahui lagi Menyaksikan, “Engkau laki-laki yang tangkas, cekatan dan pemberani, tetapi tidak akan mampu bersabar untuk memahami keadilan-Ku.”

Musa menjawab dengan yakin, “InsyaAllah aku akan mampu bersabar dengan taufikmu”. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala meminta Nabiullah Musa untuk pergi ke salah satu sumber mata air, lalu bersembunyi di baliknya dan saksikanlah apa yang akan terjadi.

Bergegaslah Nabi Musa mendatangi mata air itu dan bersembunyi tepat dibaliknya. Tidak lama setelahnya datang seorang laki-laki penunggang kuda. Tepat di sumber mata air itu, turunlah ia untuk mengambil air dan mengisi kantong minum di sakunya. Secara tidak sadar, saat menunduk jatuhlah sekantong uang sejumlah 1000 dinar. Selepas penuh kantong airnya, pergilan laki-laki itu kembali menunggang kudanya tanpa ia tahu jika telah jatuh uangnya tepat di tepi sumber air itu.

Selepas itu, datanglah seorang anak kecil yang juga minum dan mengambil air dari sumber itu. Melihat ada sekantong uang, tanpa berlama-lama kemudian dibawanya pergi uang itu.

Peristiwa selanjutnya yang cukup mengagetkan Nabi Musa, datanglah seorang buta yang hendak minum dan mengambil wudhu dari air itu. Kemudian ia shalat dan sejenak beristirahat. Bersamaan dengan istirahatnya lelaki buta itu, datanglah si penunggang kuda yang baru menyadari jika uang di sakunya telah terjatuh. Nabi Musa melihat keduanya cek-cok, dan seketika itu dihunuslah pedang dan dibunuhlah lelaki buta oleh si pengunggang kuda karena dikiranya lelaki buta itulah yang telah mengambil uangnya. Sebab menurutnya, tidak ada lagi orang yang datang ke sumber air itu, kecuali dirinya dan si lelaki buta.

Secara sederhana, sebagian besar kita atau bahkan semuanya mengira, yang salah ialah si anak kecil yang telah mengambil uang yang sesungguhnya bukan haknya.

Tetapi begitulah manusia yang selalu tidak mampu sabar melihat bagaimana Allah mengatur keadilan. Seketika menyaksikan kejadian itu, Nabi Musa bermunajat kembali pada Allah, “Tuhanku dan junjunganku, kesabaranku benar-benar habis dan Engkau sungguh Dzat yang Maha Adil, maka berilah saya pengetahuan dan penjelasan bagaimana semua ini bisa terjadi?”

Kemudian Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk memberikan penjelasan kepada Nabi Musa. “Wahai Musa, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Aku mengetahui rahasia dan lebih mengetahui dari pada yang kamu ketahui. Adapun anak kecil yang mengambil kantong uang itu, sebenarnya ia hanya mengambil haknya sendiri. Karena orang tuanya anak kecil itu adalah seorang pekerja si penunggang kuda itu, yang ada sebagian upahnya yang belum dibayarkan. Upah yang harus diterimanya terkumpul dalam jumlah uang yang ada di dalam kantong laki-laki penunggang kuda itu. Akan kecil hanya mengambil haknya.

Adapun laki-laki buta itu, ialah orang yang telah membunuh ayah dari penunggang kuda sebelum ia buta. Allah telah mengambil darinya hukum Qishash dan menyampaikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Keadilan kami (Allah) sangat lembut.”

Selepas mendengar penjelasan Malaikat Jibril, Nabi Musa pun memohon ampun kepada Allah tersebab keinginanya melihat cara Sang Maha Kuasa mengatur keadilan.