Bolehkah Wanita Menggunakan Bulu Mata Palsu Saat Rias Wajah?

Sumber Foto Dari: Trivia.id

Perkembangan mode, gaya berbusana, penampilan dan cara mempercantik diri terus melaju di era modern sebagaimana hari ini. Terkhusus lagi bagi wanita, yang hakikatnya dilanda begitu banyak ujian dan godaan dari berbagai sudut kehidupan. Sadarkah engkau wahai wanita, jika tak luput sedikit pun dari dirimu kecuali aurat yang semestinya dipelihara?

Hasrat mempercantik diri memang naluri setiap wanita. Hanya saja, Islam teramat jelas mengatur bagaimana dan kapan mesti dilakukan. Kecantikan wanita hanya dibolehkan terumbar di depan mahramnya saja, bukan terbuka bebas di mana-mana. Tidak mudah memang menjaga, meski terasa sudah sesuai aturan yang dibenarkan oleh ajaran agama.

Salah satu godaan yang seringkali dilakukan oleh kebanyakan wanita, yang tidak disadari sebagai sebuah kesalahan ialah menggunakan bulu mata palsu untuk tujuan mempercantik diri di saat-saat tertentu.

Sebuah hadits dari Asma binti Abu Bakr radiyallahu ‘anhuma, yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, bahwa ada seorang wanita yang mengadu kepada Rasuullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya memiliki seorang putri yang baru menikah. Ternyata dia sakit panas, sampai rambutnya rontok. Bolehkah saya menyambung rambutnya (dengan rambut palsu)?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat al-washilah (orang yang menyambung rambut) dan al-mustaushilah (orang yang minta disambungkan rambutnya). “

Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim An-Nawawi, 14: 103, menjelaskan jika yang dimaksud Al-Washilah (wanita yang menyambung rambut) adalah orang yang berprofesi menyambung rambut seorang wanita dengan rambut lainnya. Sedangkan Al-Mustaushilah adalah wanita yang meminta orang lain menyambungkan rambutnya. Hadits ini secara tegas menunjukkan haramnya menyambung rambut, dan laknat bagi wanita yang menyambung rambut atau konsumen yang disambungkan rambutnya secara mutlak.

Dalam fatwa senada, Syaikh Abdul Karim Al-Khudhair menjelaskan secara terperinci guna menemukan kepahaman mendalam tentang keadaan yang relevan dengan masa kini. Beliau menjelaskan, “Bulu mata yang dikenakan di kelopak mata atau bagian mana pun pada mata, jika ia terbuat dari rambut maka tidak ragu lagi keharamannya. Karena ini termasuk perbuatan menyambung rambut, dan pengharamanya terdapat jelas dalam hadist Rasulullah. Jika ia terbuat dari bahan lain, namun bentuknya sejenis dengan bulu mata yang terbuat dari rambut, maka hukumnya tidak berbeda. Karena orang yang melihatnya akan mengatakan bahwa ia washilah (wanita yang menyambung rambut). Jika ia terbuat dari bahan selain rambut dan tidak menyerupai bulu mata yang terbuat dari rambut, maka setidaknya hukum ini makruh. Sebab disini tetap ada penyambungan.”

Lebih tegas, Ulama Syafi’i menyatakan bahwa pemanfaatan rambut manusia untuk apa pun juga, diharamkan demi kehormatan dan kemuliaan manusia itu sendiri.

Fenomena ini marak terjadi di kalangan wanita era kini. Hanya karena ingin terlihat cantik, secara tidak sadar telah melanggar apa-apa yang dilarang oleh Allah azza wa jalla. Sungguh secantik-cantik seorang wanita ialah bukan hanya tersebab baik parasnya, tetapi aqidah dan akhaq mulianya jauh lebih utama.

Perhatikanlah ketentuan yang jelas diberikan dalam A-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Jika secara jelas terdapat pelarangan, maka sungguh tidak ada pilihan kedua untuk mencari-cari alasan pembenarannya. Meski mungkin berat bagi sebagian wanita yang terbiasa menggunakan, percayalah ridha Allah lebih utama dari seisi muka bumi. Bahagialah jika pujian itu datang dari penduduk di atas langit, bukan sebatas tipu daya duniawi.

Originally posted 2017-07-14 12:06:42.