Bagaimana Hukum Membatalkan Puasa Saat Dihindangkan Makanan?

Bagaimana Hukum Membatalkan Puasa Saat Dihindangkan Makanan?
Sumber Foto Dari: boombastis.com

Bagi sebagian orang yang sudah mampu melaksanakan puasa Sunnah, baik Senin-Kamis hingga puasa Dawud, dalam beberapa keadaan dimungkinkan menghadapi situasi sebagaimana pertanyaan di atas. Saat sedang berpuasa, hadirlah undangan dari rekan untuk datang ke sebuah acara atau syukuran di kediamannya. Kemudian muncullah kebimbangan di dalam hati kita, apa yang semestinya dilakukan, melanjutkan berpuasa, atau memilih untuk membatalkannya tersebab niat untuk menghormati dan menjaga hati orang yang mengundang.

Hadir sebuah riwayat shahih dari Imam Muslim, hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah seorang di antara kalian diundang makan, maka penuhilah undangan tersebut. Jika dalam keadaan berpuasa, maka do’akanlah orang yang mengundangmu. Jika dalam keadaan tidak berpuasa, santaplah makanannya.”

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin dalam kitabnya Syarh Riyadhis Sholihin berpendapat jika seseorang diundang ke sebuah acara dalam keadaan tidak berpuasa, maka hendaklah yang diundang menyantap makanan, dan bukan hanya datang memenuhi undangan. Sebab orang yang mengundang secara sengaja mengajak kita untuk menikmati makanan yang telah disajikan. Maka bayangkanlah bagaimana perasaan ahlul bait yang telah menyiapkan berbagai hidangan sedangkan kita tidak memakannya.

Melengkapi penjelasan di atas, menurut jumhur ulama, maksud dari kata “falyusolli” adalah mendoakan orang yang mengundang agar dilimpahkan kepadanya keberkahan serta ampunan. Imam An-Nawawi berkata, terkhusus bagi orang yang berpuasa, maka tidak wajib baginya memakan hidangan saat diundang oleh seseorang, terlebih jika yang sedang dilaksankannya ialah puasa wajib, sebab kewajiban berpuasa tidak dapat digugurkan dengan alasan memenuhi undangan. Sedangkan jika yang dilaksanakan adalah puasa sunnah, maka dibolehkan membatalkan.

Lebih jelas Imam An-Nawani mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim, jika sampai orang yang mengundang merasa berat jika orang yang diundang tidak menyantap hidangannya, maka hendaklah ia batalkan puasanya. Jika tidak ada perasaan seperti itu, maka tidak mengapa tidak membatalkannya.

Kebolehan membatalkan puasa sunnah saat diundang dan diberikan hidangan kepada yang diundang tertuang dalam hadits riwayat Imam Muslim, Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau mempunyai sesuatu?” Maka aku menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai apa-apa.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kalau begitu aku berpuasa,” kemudian Rasulullah shallallau ‘aaihi wa sallam keluar dan kami mendapatkan hadiah atau datang orang berkunjung. ‘Aisyah berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali, maka aku sampaikan, ‘Wahai Rasulullah, kita diberi hadiah,’ atau ada orang yang berkunjung kepada kami, dan aku telah menyiapkan sesuatu untukmu.’” Beliau bertanya, “Apa itu?” Aku menjawab, “Makanan hias.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bawalah kesini?” Lalu aku membawakannya dan beliau makan, kemudian berkata, “Tadi aku berpuasa.”

Syaikh Ibu ‘Utsaimin menjelaskan tiga keadaan saat seseorang diundang:

(1) Jika diundang dalam keadaan tidak berpuasa, maka nikmatilah hidangan yang ada,

(2) Jika diundang dalam keadaan berpuasa wajib, maka tidak makan saat itu dan tidak membatalkan puasa (cukup mendoakan kebaikan pada yang mengundang sebagaimana diterangkan dalam hadist di atas), dan

(3) Jika diundang dalam keadaan berpuasa sunnah, maka punya pilihan saat itu. Jika ingin membatalkan berpuasa, santaplah hidangan yang telah disiapkan. Jika tidak ingin membatalkan, juga tidak mengapa namun kabarkanlah kepada yang mengundang. Namun hendaknya memilih mana yang lebih mashlahat. Jika dianggap bahwa membatalkan puasa itu baik, maka batalkanlah dan nikmati hidangannya. Jika tidak, maka meneruskan puasa itu lebih utama.

Keterangan inti dari persoalan ini ialah diberikan kemudahan oleh Allah untuk memilih salah satu. Jika keutamaan untuk menjaga, baik hati orang yang mengundang dan hati kita sendiri, agar terhindar dari niat-niat tidak lurus tersebab tipu daya syaitan, maka membatalkan mudah-mudahan lebih baik. Tetapi jika terdapat kemampuan menjaga kesucian niat untuk hanya kepada Allah, tanpa ada terselip hasrat agar diketahui oleh sesama manusia, maka meneruskan puasa lebih utama.

Originally posted 2017-07-15 04:46:51.