Ahli Ibadah Tetapi Masih Bermaksiat, Apakah Kita Termasuk Orang yang Seperti Itu?

Sumber foto dari google.com

Shalat wajib merupakan ibadah yang harus dilaksanakan oleh muslim/muslimah yang baligh dan berakal, pun Islam memberikan rukshshah (keringanan) bagi muslim yang sakit atau sedang safar (dalam perjalanan).

Misal, jika seseorang sakit dan tidak mampu berdiri, maka dia bisa melaksanakan shalat dengan cara duduk. Jika tidak mampu duduk, maka dia bisa melaksanakan shalat dengan cara berbaring atau jika masih belum mampu dengan bergerak, masih bisa melaksanakan shalat dengan menggunakan isyarat saja. Pun, bagi yang sedang dalam perjalanan, Islam mengaturnya dengan pelaksanaan shalat jamak ataupun qashar (diringkas), lengkap dengan panduan dan tata caranya.

Namun, ada pertanyaan: Apa yang menyebabkan seseorang itu melakukan maksiat sedang dirinya termasuk orang yang taat dalam beribadah? Bagaimana cara mengatasinya dan apakah kita termasuk ke dalam orang yang seperti itu?

Fenomena semacam ini banyak sekali kita temui di zaman yang penuh dengan fitnah ini. Namun, hal ini ternyata pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikan sebuah hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّيْ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرِقَ؟ فَقَالَ: “إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ

Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Ada seseorang yang biasa shalat di malam hari namun di pagi hari ia mencuri. Bagaimana seperti itu?” Beliau lantas berkata, “Shalat tersebut akan mencegah apa yang ia lakukan.” (HR. Ahmad 2: 447, sanadnya shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Namun, kita ketahui bersama bahwa shalat yang baik akan menjadikan pembenteng bagi seseorang dalam melakukan dosa atau kemungkaran lainnya.

Allah Ta’alaa berfirman,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut (29):45)

Jika sudah shalat tetapi tetap melakukan kemaksiatan, berarti ada yang sangat penting kita periksa dan segera perbaiki, yaitu shalat. Sudahkah sesuai dengan syarat dan rukunnya? Sudahkan shalat tersebut dilaksanakan ikhlas hanya karena Allah Ta’alaa saja? Sudahkah shalat tersebut dilakukan dengan khusyu’ dan lain sebagainya.

Al Hasan berkata,

مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ تَنْهَهُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ بِهَا مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا

Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al Hasan)

Maka, berdasarkan uraian tersebut, ada yang penting untung kita fahami bahwa shalat bukan sekedar ibadah ritual saja. Sahalat adalah kewajiban dan juga kebutuhan bagi kita sebagai makhluk Allah Subhanahu Wata’alaa. Mulailah laksankan shalat dengan penuh kekhusyu’an dan berusahalah menjalankan syari’at secara kaffah.

Allah Ta’ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al Baqarah: 208)

Untuk lebih lengkapnya bisa disimak video berikut.

Wallahu a’lam bish shawab.

Originally posted 2017-07-15 11:44:09.