Belum Juga Menemukan Jodoh, Mungkin Ini Penyebabnya!

Sumber Foto Dari: voa-islam.com

Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Sudah menjadi sebuah fitrah manusia, jika akan tiba saatnya membutuhkan orang lain yang didekatkan secara syariat untuk melengkapi setiap kekurangannya, keterbatasannya. Akan tiba suatu masa ketika kita tidak mampu mengurus kehidupan ini sendiri, maka di masa itulah syariat mencari pasangan hidup dijatuhkan.

Menikah bukan hanya semata kebutuhan biologis manusia. Namun ianya juga merupakan salah satu jalan utama kita menuju kesempurnaan pengabdian pada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana tertuang dalam penjelasan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Hakim, “Barangsiapa menikah, maka ia sudah mengkapi separuh agamanya. Dan hendaknya ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.”

Tidak heran jika perjalanan menuju tuntunan syar’i ini dilalui berbeda-beda oleh setiap manusia. Meski ketetapan tentang siapa, kapan dan dimana sudah jelas tertulis sejak jasad bersemayam di rongga rahim, namun proses menujunya seringkali tidak mudah. Ada sebagian manusia yang dengan ikhtiar dan doanya dimudahkan oleh Allah. Tetapi sebagian lain justeru dengan upaya kerasnya belum juga menemukan. Ada yang masih muda sudah dimampukan oleh Allah, dicukupkan jodohnya, dilancarkan urusannya. Ada pula sebagian yang sudah ingin, sudah mapan, sudah merasa cukup dengan segala persiapan, hanya Allah belum lengkapkan jodoh di sisinya.

Jika benar demikian, maka sadarilah bahwa Allah sedang menuji kesiapan dan kepantasan hamba-Nya menerima anugerah terbaik di hidupnya. Tidak ada sesuatu pun diberikan di muka bumi selain untuk menguji kadar keimanan dan ketaqwaan. Begitu pula jodoh, hikmah dari keterlambatan setelah ikhtiar yang maksimal diusahakan ialah kesempatan untuk terus mengupayakan perbaikan-perbaikan. Lebih dekat dengan Allah, lebih ikhlas dan sabar memaknai setiap ujian dan cobaan.

Menuju keadaan pribadi yang jauh lebih baik, ada beberapa hal yang sekiranya bisa dijadikan alat untuk mengukur kapasitas diri.

Baca Juga : Nabi Yunus Alaihi Salam dan Ikan Nun yang Hidup Hingga Akhir Zaman

(1) Belum sepenuhnya yakin pada Kuasa Allah. Ketetapan sudah tertulis di catatan besar Lauhul Mahfudz. Tugas kita hanya menjemputnya dalam sebaik-baiknya keadaan. Sebab siapa pasangan kita ialah ditentukan oleh siapa diri kita. Meski teramat cintanya kita pada seseorang, jika ia tidak ditakdirkan menjadi pasangan kita, maka akan dengan mudah Allah jauhkan. Sebaliknya, betapa jauhnya jarak seseorang, jika ialah yang ditetapkan maka dengan mudah pula Allah mendekatkan. Pintalah pada yang Maha Memiliki takdir, yang Maha Memiliki hati. Mohonkan pada Allah agar orang yang kita damba itu juga menaruh rasa sebaiknya pada kita. Kembalikan segala sesuatunya pada Dia, jika sudah dimintakan pada Sang Maha Empunya kehidupan, maka tidak ada yang berhak menghalangi ketetapan. Jika berharap dan yakinnya hanya pada Allah, tidak akan pernah muncul rasa sakit hati, patah hati, atau penyakit-penyakit hati lainya yang justeru merusak keimanan.

(2) Masih seringkali melalaikan perintah. Salah satu cara Allah membuktikan rasa cinta-Nya pada seorang hamba ialah lewat ujian-ujian kehidupan. Karena dengan cara itulah Allah bisa melihatnya kembali dan mengemis kepada-Nya. Karena saat diujilah manusia ingat pada Rabbnya. Karena ketika merasa sudah tidak mampulah manusia berharap dan menyerahkan segala sesuatu hanya kepada Dia, Dzat yang tiada kekuatan melebihi Kuasa-Nya. Karena itu maknailah keterlambatan atau kesulitan menemukan jodoh sebagai bagian dari cara Allah untuk semakin mendekatkan kita kepada-Nya. Teruslah berbenah, teruslah berpasrah. Sebab dalam janji-Nya Allah mengatakan tidak akan membiarkan orang-orang beriman dan bertaqwa hidup dalam kekurangan dan kesempitan. Koreksi kembali kualitas ibadah kita. Sudahkan menjalankan yang wajib? Jika belum sepenuhnya maka sempurnakan. Jika sudah, maka lengkapilah dengan amalan-amalan sunnah. Perbanyak amal ibadah, tegakkan puasa sunnah, sebab bisa saja dengan amalan-amalan itu akan mendekatkan kita pada takdir jodoh yang datangnya tidak diduga-duga.

(3) Mencarinya dengan jalan yang tidak dibenarkan. Allah dan Rasul-Nya sudah memberi ketentuan yang tegas bagaimana yang harus dilakukan oleh seorang mukmin dalam mencari pendamping hidupnya. Dalam surah Al-Israa ayat ke 32, Allah Subhanahu wa wa’ala tegas mengingatkan, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” Ikhtiarknlah dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh baginda Nabiullah Muhammad. Bagi laki-laki, jika engkau menyukai seorang wanita, maka datanglah pada orang tuanya, pintalah izin untuk taaruf denganya. Jika sudah saling suka, maka khitbahlah, ikatlah ia dengan ikatan yang suci lagi terhormat. Jika sudah saatnya, maka nikahilah ia. Jangan sekali-kali menempuh jalan yang mengandung unsur-unsur zina. Sebab bukan memudahkan, tetapi justeru mempersulit bertemunya engkau dengan sebaik-baiknya pendamping hidup.

Di sisa waktu ini, sembari terus berusaha mencari, di saat yang sama terus jugalah melakukan perbaikan pada diri. Jangan berharap mendapat jodoh shalih/shalihah, jika itanya sendiri jauh dari taat. Jangan mimpi punya suami/istri penghapal Qur’an, jika kitanya sendiri jauh dari ketepatan dan keseriusan mempelajari Qur’an. Jangan berharap mendapat yang terbaik, jika kitanya pun tidak berusaha keras menuju kebaikan.

Originally posted 2017-07-17 12:38:29.