Terbiasa Meniup Makanan atau Minuman Panas, Ternyata Ini Adab Islam Sebenarnya!

Sumber Foto Dari: hallomuslim.com

Secara tidak sadar, tumbuh dan berkembang beberapa kebiasaan di dalam keseharian kita yang sebenarnya belum tentu sesuai dengan ajaran dan tuntunan Islam. Padahal agama ini sudah memberikan ajaran kepada manusia dari hal-hal besar hingga perkara yang sepele, seluruh aspek tanpa terkecuali.

Tetapi kebanyakan manusia kurang memperhatikan atau bahkan sengaja tidak menghiraukan. Sebagian yang lain justeru lebih memilih mengikuti cara hidup orang-orang modern yang banyak kali berseberangan dengan adab-adab yang diajarkan oleh baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentang berpakaian misalnya, tentang cara berbicara, tentang cara makan dan lain sebagainya.

Di antara kebiasaan yang seringkali kita lakukan ialah meniup makanan dengan tujuan mempercepat dinginnya agar bisa segera dimakan. Tentu sebagian kita tidak sadar jika Islam mengatur adab hingga sedetail meniup makanan atau minuman panas. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, yang sanadnya dishahihkan oleh Syuaib Al-Arnauth, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian minum, janganlah bernafas di dalam gelas, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan,…”

Rasulullah melarang kita untuk meniup-niup minuman, baik untuk tujuan agar lekas dingin atau alasan yang lainnya. Jika makanan dihidangkan saat panas, maka lebih baik ditunggu beberapa saat hingga dingin. daripada harus meniupnya dan menyalahi adab yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Lebih jauh, sebaiknya hindari memakan dan meminum yang panas-panas, agar kemudian tidak tergoda kesabaran untuk segera menyantap dengan cara meniupnya.

Baca Juga : Inilah Latar Belakang Rasulullah Melarang Ali bin Abi Thalib Berpoligami

Dalam penjelasannya yang tertuang pada kitab Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi mengatatakan bahwa larangan bernapas di dalam gelas ketika minum termasuk adab. Karena dikhawatirkan akan mengotori air minum dengan jatuhnya sesuatu dari mulut. Ibnul Qoyyim menegaskan, jika air yang ditiup dikhawatirkan akan berubah menjadi tidak sedap apalagi jika ditiup dengan keadaan bau mulut.

Jika seorang manusia percaya pada tuntunan Islam, maka tidak ada alasan baginya untuk mengingkari. Selain diikhtiarkan sebagai menuruti jalan-jalan sunnah, yang dengannya tercatat sebagai pahala kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa wa’ala, ternyata larangan meniup minuman juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

Dijelaskan dalam Jurnal Sagacious tahun 2016, bahwa saat mulut mengeluarkan CO2 sebagai gas buang pernafasan dan bertemu dengan uap makanan atau minuman yang berupa H2O, maka akan membentuk H2CO3 yang bersifat asam. Situasi ini akan menyebabkan semakin bertambahnya sifat asam dari makanan dan saat makanan tersebut dikonsumsi, maka dapat mengakibatkan peningkatan jumlah kadar asam di dalam darah. Pada akhirnya, akibat yang dapat ditimbulkan setelah menyantap makanan dengan kadar asam yang berlebih adalah rasa lelah, mengantuk, susah berkonsentrasi hingga dilanda kebingungan.

Tidak ada suatu pelarangan atau penganjuran di dalam agama ini yang tanpa sebab dan manfaat. Jika diperkenankan, maka sudah pasti ianya bermanfaat bagi kehidupan manusia. Namun jika terdapat pelarangan, maka sudah tentu akan berakibat tidak baik bagi keberlangsungan hidup seorang hamba. Sebagai umat-Nya, kita hanya perlu meyakini apa-apa yang sudah ditentukan baik lewat firman-Nya maupun Sunnah Rasulullah. Jika sudah mampu hidup dengan pola-pola yang diajarkan oleh Islam, maka insyaAllah kita dapat terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan atau membahayakan.

 

Originally posted 2017-07-18 07:58:16.