Ampuni Hamba Ya Allah Meski Shalat Sudah Rutin, Tapi Maksiat Jalan Terus

Sumber Foto Dari : ayoshalat.blogspot.co.id

Shalat adalah kunci kehidupan. Sumber dari segala kesuksesan dan kelancaran. Solusi dari segala macam persoalan dan kesulitan. Jiwa seorang muslim, ruh keimanan seorang hamba. Sejatinya tidak ada satu pun perkara dunia yang tidak bisa diselesaikan dengan shalat. Hanya kebanyakan manusia kurang memahami, terlalu menggampangkan ibadah yang sakral ini. Padahal darinyalah pertemuan dengan Allah dapat hampir setiap waktu dilakukan, sebelum kelak ruh kita yang dipertemukan pada hari penghisaban.

Masalahnya, sudahkan kita menyadari betapa sangat pentingnya pertemuan dengan Dzat yang Maha Agung. Lima kali dalam satu hari kita diundang untuk bertemu menghadap sang Ilahi Rabbi, sudahkah kita menemui dengan sebaik-baik pertemuan? Atau sekiranya kita hanya menganggap shalat sebagai kegiatan rutin yang tanpa pemaknaan? Menghadap seadanya, pakaian semaunya, menemui di waktu-waktu akhir?

Jika hendak bertamu dan bertemu ke sesama manusia saja kita sedemikian rupa berpenampilan, maka dengan Yang Maha Menciptakan mengapa justeru sembarangan? Pantaskah demikian, saat diminta menghamba dan mengabdi semaunya, tetapi di saat sulit dan terjepit kita memohon dan mengemis kepada-Nya?

Satu dari hakikat utama diwahyukannya perintah shalah adalah agar menjaga manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Tetapi tidak jarang kita menemukan, atau bahkan terjadi pada diri masing-masing kita, sudah melaksanakan shalat lima waktu, merajinkan diri, tetapi masih saja mudah tergoda untuk melakukan maksiat pada Allah, berdusta, mengkhianati janji, mencuri, merampas hak orang lain, berbuat dzalim.

Apa yang salah dari shalat kita, bukankah ianya berguna sebagai perisai bagi kita untuk lebih kuat menghadapi tipu daya syaitan?

Telah diterangkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, tercantuk jelas pada surah Al-Ankabut ayat ke 45, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” Shalat adalah pelindung bagi kita dari berbuah yang dilarang oleh Allah. Karena sejatinya, dengan shalat yang dijalankan secara benar, akan berdampak pada keimanan serta ketaqwaan pada Allah. Hingga selalu ada kekhawatiran di dalam jiwa, selalu merasa diawasi oleh Allah. Meski luput dari pandangan manusia, tetap tak akan pernah bisa mengelabuhi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dia senantiasa dekat, menyaksikan apa-apa yang kita kerjakan. Sebab itulah orang-orang yang menegakkan shalat secara khusu’ akan terus berusaha menghindari diri dari berbuat yang dilarang-Nya.

Dalam hadist bersanad shahih, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.” Lebih jauh Al-Hasan berkata di dalam sebuah riwayat shahih yang dikeluarkan oleh Ath Thobari, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan munkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.”

Selalu ada pergolakan di dalam hati kita, perdebatan antara bisikan malaikat dan tipu daya syaitan. Ada kecenderungan untuk menghindari maksiat yang pada saat bersaman ada pula dorongan kuat untuk mendekatinya. Bahkan saat hendak shalat sekali pun, syaitan terus menggoda manusia agar tetap melakukan kelalaian hingga ritual fisiknya tak bernilai apa-apa.

Ada beberapa sebab yang mungkin bisa dievaluasi pada diri masing-masing kita, mengapa shalat sudah jalan, tetapi maksiat masih terus dilakukan.

(1) Shalat ialah perjumpaan dengan Allah, bukan sekadar penggugur kewajiban. Pemaknaan ini yang seringkali luput dari jiwa kebanyakan manusia, terkhusus para muslim. Hakikat penciptaan manusia di muka bumi ini ialah menyembah pada Dzat yang Maha Sempurna. Coba resapi sebuah ayat yang barangkali sudah kita sering dengar, tertuang dalam surah Adz-Dzariat ayat 56, “Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia selain untuk menyembah kepadaku.”

Sebagian banyak manusia justeru terus menyibukkan diri dengan urusan dunianya. Kerja seharian, kadang lupa waktu, habis untuk mengurus segala keperluan hidup di dunia. Seringkali melupakan kewajibannya mendirikan shalat. Jika dikerjakan pun hanya sebagai penggugur kewajiban semata, terburu-buru karena masih banyak urusan dunia yang segera harus diselesaikan. Lebih mengutamakan pekerjaan dari perjumpaanya dengan Penciptanya. Bagaimana hendak menemukan keistimewaan dari ditegakkannya shalat jika dalam menjalankannya pun seperti hanya dipaksakan. Bagaimana hati bisa turut hadir bersama dengan gerakan shalat, jika kesadaran akan pentingnya pun belum juga ditemukan.

(2) Ada yang belum sempurna dari proses menujunya. Menurut ulama, shalat terbagi ke dalam tiga bagian penting, yaitu fase sebelum, saat dan setelah. Untuk bisa menjalankan shalat dengan khusyu dan khidmat, maka sangat ditentukan oleh sebaik apa persiapan menujunya. Di antaranya ialah ketika mendengar seruan adzan,yang kemudian berlanjut dengan bergegas mengambil air wudhu’. Saat tiba adzan berkumandang, segera sudahi semua aktivitas keduniaan. Hadirkan hati untuk bersiap memenuhi undangan Ilahi Rabbi. Kemudian bergegaslah mengambil air wudhu dan lakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallhu alaihi wa sallam. Shalatlah berjamaah di masjid, karena selain ganjaran yang berlipat ganda, shalat di masjid adalah lebih utama bagi laki-laki daripada shalat sendirian.

Bukankah telah banyak keterangan yang menjelaskan jika baik shalat seseorang, maka baik pula catatan amal yang lainnya, tetapi jika buruk shalatnya maka buruklah pula semuanya. Maka perbaikilah shalat kita, agar setiap sisi kehidupan kita juga diperbaiki oleh Allah azza wa jalla.

(3) Ketidakkhusyu’an saat menjalankan shalat. Shalat adalah bacaan, artinya ada yang harus kita baca sebagai bagian dari doa-doa dan pemujaan terhadap Sang Kuasa. Sadarilah disaat shalat, adalah waktu terbaik bagi kita untuk memanjatkan pengharapan, sebab adanya pertemuan langsung dengan yang Maha Mengabulkan Doa. Maka tidak heran jika shalat adalah salah satu di antara dua hal yan paling digemari Rasulullah, karena beliau bisa merasakan jiwa yang teramat dekat dengan Allah. Karena disaat shalat itulah, kesempatan teramat berharga bagi kita seorang hamba bisa bercakap langsung dengan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Aku membagi shalat ke dalam dua bagian, untuk-Ku dan untuk hambaku.” Kemudian saat kita membaca surah Al-Fatihah, resapi jika disaat bersamaan Allah sedang menjawab apa yang sedang kita baca. Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan Abu Dawud dijelaskan, “Apabila hamba-Ku mengucapkan:Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (segala puji tertentu bagi allah,tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam), maka Allah menjawab:  hamdani ‘abdi(hambaku memujiku). Apabila hamba-Ku mengucapkan: Arrahmanirrahim (Yang maha pengasih lagi maha penyanyang), maka Allah  menjawab:’Atsna alayya ‘abdi (hambaku menyanjungiku). 

Apabila hamba-Ku mengucapkan: Maliki yaumiddin (Maha penguasa hari kemudian), maka Allah menjawab: Majjadani abdi (hambaku mengagungkanku). Apabila hamba-Ku mengucapkan:iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (kepada engkau kami menyembah dan kepada engkau kami minta pertolongan), maka Allah menjawab: Hadza bayni wa bayna abdi,wali abdi wa saala (inilah bahagianku dan bahagian hambaku yg dimintanya). Apabila hamba-Ku mengucapkan: Ihdinash siratal mustaqim,siratal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdubi ‘alaihim waladh-dhaalin (pimpinlah kami ke jalan yang lurus,yakni jalan yang tidak engkau murkai dan tidak pula jalan orang yang sesat), maka Allah menjawab: Hadza li abdi,wali ‘abdi ma saala (inilah bahagian hambaku,untuk apa yang dimintanya).

Selanjutnya kita ucapkan “Aamiin” dengan ucapan yang lembut, sebab Malaikat pun sedang mengucapkan hal yg sama dengan kita.  Barang siapa yang ucapan “Aamiin-nya” bersamaan dengan para Malaikat, maka Allah akan memberikan Ampunan kepada hambaNya.”

 

 

 

 

Originally posted 2017-07-18 13:30:03.