Bagaimanakah Cara Berpacaran yang Islami?

Sumber Foto Dari: dedysurya.com

Fenomena pacaran seperti sudah menjadi “darah daging” dalam kehidupan remaja era kini. Budaya barat yang terus merasuki hingga kemudian menjelma menjadi sesuatu yang sepertinya lumrah, tetapi justeru sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama. Belakangan fenomena pacaran yang bukan lagi sebatas status, tetapi sudah menjurus dan berbentuk perzinahan marak terjadi. Ironinya, sebagian dari yang melakukan masih brstatus pelajar atau anak-anak di bawah umur.

Kesalahan yang terus dibiarkan akan menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihindarkan. Layaknya pacaran, berapa dari mereka yang sadar jika perbuatannya melanggar ajaran Islam. Betapa syaitan dengan senangnya menggoda anak-anak, saudara, teman kita untuk melakukan hal-hal yang merusak akidah dan keimanan. Merusak waktu-waktu produktif yang sekiranya bisa digunakan untuk melakukan yang lebih bermanfaat.

Lebih parahnya, ada sebagian yang mencari-cari pembenaran. Berkedok pacaran Islami, hanya agar seolah-olah menutupi kesalahan. Membungkus yang buruk dengan keindahan tipu daya. Sungguh, tidak berguna sesuatu yang tidak dibenarkan oleh ajaran Allah dan Rasulullah, bukan justru mendapat kebahagiaan, melainkan hati dan diri yang semakin jauh dari Allah.

Dalam surah Al-Isra ayat 32, Allah dengan tegas mengingatkan, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Jika ada sebagian orang yang berpendapat dibolehkan pacaran asalkan tidak dengan hawa nafsu, sungguh lagi-lagi itu hanya pembenaran. Bagaimana mungkin syaitan tidak bermain dengan aktivitas yang mendekatkan manusia pada jurang kenistaan. Syaitan akan sedikit demi sedikit membisikkan kelonggaran, tipu daya, rasa suka pada yang bukan mahramnya, menanamkan rasa cinta yang tidak pada tempatnya.

Dengan keindahannya Islam mengatur agar manusia bisa mengendalikan hawa nafsunya. Karena setangguh-tangguh musuh ialah hawa nafsu. Karena itu baginda Rasulullah mengingatkan selepas perang, jika ada lagi musuh yang lebih kuat, ialah hawa nafsu yang setiap manusia harus melawannya. Dalam surah An-Nuur ayat 30, Allah Subhanahu wa ta’ala secara terperinci mengingatkan kaum laki-laki, “Katakanlah kepada laki-laki beriman, Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Begitu juga yang ditujukan untuk kaum wanita di dalam surah An-Nuur ayat ke-31-nya.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya.”

Lebih jauh penegasan tertuang dalam hadist riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”

Berdasar pada sejumlah keterangan pada dalil di atas, sudah dapat kita simpulkan bagaimana hukum berpacaran dalam Islam. Jika ada sebagian orang yang masih berkelit jika ia tidak berbuat apa-apa, sungguh itu adalah kebohongan yang besar. Begitu mudahnya syaitan menggelincirkan manusia taat, apalagi yang secara jelas mendekati kemaksiatan. Secara tidak sadar, dua orang yang sedang berpacaran akan melakukan perbuatan-perbuatan yang diharapkan oleh Allah.

Lebih awal, mampu menjaga sentuhan, tidak lama kemudian mulai berjabat tangan. Lalu mulai bergandengan, duduk berhimpitan dan diteruskan pada perbuatan-perbuatan yang tidak layak. Berpacaran hanya akan memungkinkan yang melakukannya kehilangan kehormatan sebagai fitrahnya manusia. Hancurnya kesucian diri, terlebih keimanan. Sudah begitu banyak bukti dari sekeliling kita, yang bisa hamil dan melahirkan sebelum menikah, naudzubillah.

Bagaimana cara berpacaran menurut Islam?

Islam sudah mengatur dengan jelas apa yang harus dilakukan jika dua orang saling suka dan tumbuh rasa cinta dihatinya. Bagi laki-laki, jika menemukan wanita yang disukainya, maka mintakan ia kepada orangtuanya. Khitbah ia, ikat dengan tali-tali Allah. Jangan biarkan rasa itu bergejolak yang kemudian menjadi pintu masuk syaitan untuk meniupkan rasa was-was, takut kehilangan dan sebagainya.

Jika sudah mampu dan siap, menikahlah. Sebuah hadist dari Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkn oleh Syaikh Al Albani, “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.”

Jika sudah dihalalkan hubungan dua insan, maka dapat sesukanya berpacaran. Berdua-duaan terhindar dari dosa dan kemaksiatan, bahkan jika diniatkan karena Allah justeru bernilai pahala di sisi-Nya. Bukankah sebaik-baik hubungan ialah setelah pernikahan. Demikian agungnya Islam menjaga kehormatan dan kesucian manusia. Hanya saja, hari-hari ini banyak manusia yang justeru gembira saat melakukan perbuatan yang melecehkan dirinya sendiri.

 

 

Originally posted 2017-07-19 15:04:58.