Apa yang Akan Kita Dapatkan Dari Bersedekah?

Sumber Foto Dari: assalammadani.or.id

Ada cukup banyak manusia yang tidak menyadari jika pada sebagian hartanya, terdapat hak-hak orang lain. Ada cukup banyak manusia yang belum memahami, jika pada anugerah kekayaan yang sedang dimiliki terdapat tanggungjawab untuk menggunakannya dalam membantu di jalan Allah. Masih ada cukup banyak manusia, yang seperti berhitung-hitung dengan Allah, sangat berbeda jika dibandingkan dengan perkara duniawi, yang bisa dengan mudah menghambur-hamburkan uang tanpa pikir panjang.

Tidak perlu menengok orang lain, lihatlah saja dulu jauh ke dalam diri masing-masing kita. Sudah berapa persen dari harta kita yang digunakan untuk bekal menuju Allah, dan dihabiskan untuk keperluan duniawi. Mengapa justeru kita sangat berat menabungkan sebagian harta yang sudah diamanahkan oleh Sang Pencipta, untuk kemudian kita ambil kembali di akhirat. Mengapa sebagian besar manusia terus disibukkan dengan mengejar kecukupan duniawi, kelimpahan harta di muka bumi, sedang lalai jika segal sesuatu yang dengan susah payah dicari itu tidak akan setia membersamai. Pada akhirnya, kitalah seorang diri yang dimasukkan ke sepetak lubang tanah. Hanya sendiri, terbujur kaku tak berdaya. Tanpa harta, tanpa tahta, tanpa makhota.

Jika terus mengagungkan harta, seketika dapat dengan mudah Allah ambil kembali. Bukankah hakikat segala sesuatu yang kita miliki saat ini sebatas hak pakai, hanya pinjaman dan bukan hak milik. Karenanya kapan pun yang memberi pinjaman akan mengambilnya, apa kuasa kita? Sebab itu selagi diberi kepercayaan untuk menerima dan mengelola pinjaman, manfaatkanlah untuk sebaik-baiknya mencari bekal. Jangan menunggu Allah mengambilnya, lalu lahir penyesalan berlipat ganda.

Malu rasanya melihat kisah para sahabat, yang sudah turut dijaminkan surganya oleh Allah, tetapi masih terus menerus tanpa henti meninggikan amal sholeh. Suatu ketika saat akan perang Tabuk, Abu Bakr Ash Sidiq membawa seluruh harta yang dimilikinya menghadap Rasulullah, untuk diinfaqkan membantu perjuangan dakwah di jalan Allah. Melihatnya, tertegun baginda Nabi, kemudian beliau bertanya, “Apa yang kau sisakan untuk keluargamu, wahai sahabatku?” Dengan teramat yakin Abu Bakr menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.”

Pada kesempatan lain Umar bin Khattab pernah menyedekahkan separuh hartanya. Ustman bin Affan menginfaqan 300 ekor unta dan 1000 keping dirham. Merekalah para sahabat yang berjuang membela tegaknya Islam, memperjuangkan agama tidak hanya dengan lisan, bahkan nyawa ditaruhkan. Masih bersedia memberikan harta yang jumlahnya tidak biasa. Lantas bagaimana kita, yang surga pun belum jelas, hisab masih menegangkan, sakaratul maut teramat menyeramkan.

Jika manusia berpendapat, bila memberikan sebagian harta akan mengurangi jumlah harta yang dimiliki, sungguh tidak sama sekali benar. Sejatinya menyedekahkan harta di jalan Allah akan justeru menumbuhkembangkan harta itu, dan kemanfaatan bukan hanya kita terima di dunia, tetapi kelak juga di akhirat.

Sebab Allah berjanji di dalam surah Al-Baqarah ayat ke 261, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan 70 tangkai, pada setiap tangkainya terdapat 100 biji. Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

Setidaknya ada tiga dari sekian banyak manfaat sedekah, di antaranya ialah:

(1) Menyuburkan Harta dan Menumbuhkan Pahala. Sedekah adalah salah satu amalan yang kebaikannya tidak hanya akan kita rasakan di dunia. Jelas di dalam Al-Qur’an surah An-Nisaa’ ayat ke 39, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan apakah kerugian yang akan menimpa kepada mereka jika mereka beriman kepada Allah SWT dan hari Akhir, serta mensedekahkan sebagian dari yang Allah telah karuniakan kepada mereka? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Selain itu, pahala sedekah yang kita kerjakan selama di dunia, akan menjadi amalan yang terus menerus mengalir dan tercatat di buku kebaikan meski jasad sudah tertanam di liang lahat. Tertuang dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Jika manusia itu mati terputus semua amalannya kecuali 3 perkara, kecuali sedekah jariyah dan ilmu yang dimanfaatkan dan doa anak sholeh yang mendoakannya (Kedua orangtua).”

(2) Membuka pintu-pintu rezeki. Sebagian harta yang kita berikan kepada orang lain akan menjadi tabungan yang kapan pun Allah berkehendak, akan dengan mudah dikembalikan dalam jumlah yang berlipat-lipat. Betapa dahsyatnya menabung di sisi Allah, jika dibandingkan hanya dengan konsep menabung ala logika matematis manusia. Tertulis dalam sebuah hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat turun, salah satunya berkata: “Ya Allah berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq. Sedangkan malaikat yang lainnya berkata: “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan hartanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

(3) Menyembuhkan Penyakit. Ada cukup banyak kisah mengenai cara pengobatan yang jarang diterapkan manusia. Inilah salah satu kelemahan kita, seringkali hanya fokus pada hal-hal yang sifatnya keduniaan, hingga lupa melibatkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Ada kisah sari seseorang yang sedang mengidap sebuah penyakit kronis, bahkan divonis sudah tidak akan bertahan lama hidup di dunia. Pengobatan sana-sini sudah dikerjakan, ikhtiar sudah dirasa habis dilakukan. DI akhir cerita, ia kemudian berpasrah pada Allah, dan memilih untuk bersiap-siap pulang dengan segala kemunginan amalan yang bisa dikerjakan. Secara kebetulan, ia punya sis harta yang masih bisa disedekahkan di jalan Allah. Dengan teramat ikhlas, hanya berharap jika jatah hidupnya dicukupkan, harta itu menjadi bagian dari pemberat timbangan kebaikan. Secara tidak dimengerti oleh medis, penyakit yang dideritanya perlahan membaik. Terus berangsur pulih hingga sembuh secara menyeluruh.

Lihat bagaimana cara kerja Allah. Bila Dia berkehendak terhadap sesuatu, maka teramat sangat mudah. Apa yang tidak pernah ada dalam pikiran manusia sekali pun, akan dapat dengan mudah terjadi. Sebab itulah, mari senantiasa belajar untuk selalu menyertakan Allah dalam setiap pekerjaan, niat kebaikan, urusan dan persoalan. Ambil kebaikan dari langit dengan cara-cara yang sudah ditentukan oleh Allah, dan salah satu daru cara itu ialah dengan memperbanyak bersedekah

Ath Thabrani dalam riwayatnya menjelaskan, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit dengan bersedekah dan siapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.”

Originally posted 2017-07-20 12:38:20.