Hijrahlah, Seperti Sahabat Nabi dari Romawi Ini!

Sumber Foto Dari : islamindonesia.id

Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam.

Dengan merujuk kepada hijrah yang dilakukan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tersebut sebagaian ulama ada yang mengartikan bahwa hijrah adalah keluar dari “darul kufur” menuju “darul Islam”. Keluar dari kekufuran menuju keimanan.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 207)

“Mengorbankan dirinya”, mengorbankan segala yang dimiliki untuk berhijrah dijalan Allah. Siapa yang di bahas dalam ayat ini? Sahabat dari Romawi yaitu Suhaib bin Sinan Ar Rumi. Dia datang ke mekah untuk berdagang dan menjadi orang kaya raya di mekah, saat dia akan berhijrah dia di hadang oleh Abu Jahal dan orang-orang kafir Quraisy; dan mengatakan

“Yaa Suhaib, kalau kamu hijrah, silahkan hijrah, tetapi jangan pernah membawa harta-harta yang ada di kota Mekah, karena dulu kamu datang kesini dalam keadaan tidak punya apa-apa, kalu kamu mau pergi, kamu pergi dan tidak boleh membawa apa-apa. Kecuali kalau kamu mau tetap di Mekah dan bersama kami, maka harta itu tetap milikmu, silahkan kamu pilih”

Akhirnya dia mengatakan:

“Saya memilih Allah dan Rasul-Nya. Silahkan kalian ambil semua sampah-sampah dunia itu, saya tidak masalah. Saya memilih Allah dan Rasul-Nya”

Hijrahlah Suhaib bin Sinan Ar Rumi, jalan kaki sendiri selain Ali bin Abi Tholib yang jalan kaki. Begitu Suhaib sampai di Madinah, Nabi mengakatan:

“Selamat! Beruntungnya Suhaib, beruntungnya Suhaib”

Kenapa dia beruntung? Karena dia telah berhijrah memilih Allah, Allah menggantikan untuk Suhaib yang lebih besar dan lebih banyak dari pada yang pernah dia tinggalkan.

Jadi cerita Suhaib, salah satu bukti Allah tidak akan pernah mengecewakan orang-orang yang berhijrah. Sehingga kalau kita berhijrah dari satu pekerjaan yang mungkin Subhat, dan itu berisiko karena kita belum tentu mempunyai pekerjaan yang lebih baik dari itu, maka kita adalah Suhaib bin Sinan Ar Rumi untuk zaman kita sekarang. Tidak usah khawatir, tinggalkan sesuatu yang haram, karena Allah kalau berhijrah mencari yang halal walaupun belum jelas tetapi tidak ada yang tidak mungkin, karena semua pembendaharaan di dunia ini ada di tangan Allah.

“Dan Allah itu Maha Luas, Maha Kaya, dan Maha Penyang kepada hamba-Nya”

Sehingga kalau kita pergi dengan jaminan Allah, maka kita tidak akan kecewa. Tapi kalau kita tetap dalam pekerjaan yang haram dan meninggalkan jaminan Allah,

“Janganla begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui.” (Q.S. At-Takathur [102] : 3-4)

Allah mengancam itu, maka karena itu kita tidak perlu ragu-ragu untuk hijrah; hijrah pekerjaan, hijrah status, hijrah amal sholeh, dari yang tadinya punya kebiasaan-kebiasan buruk sekarang hijrah kepada kebiasaan baik. Tidak usah khawatir untuk berhijrah, khawatir itu apabila kita ragu-ragu dalam berhhijrah. Lakukan sekarang juga, Insha Allah kita akan melihat keajaiban dalam hidup kita.

Wallahu A’lam Bishawab

Originally posted 2017-07-22 16:25:55.