Lebih Baik Diam Daripada Menjadi Teman Iblis

Sumber Foto Dari : i1.wp.com

Suatu hari, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika sedang bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangannya dengan Rasulullah.

Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum. Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut.
Untuk ke tiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yg lebih menyakitkan dari sebelumnya. Selaku manusia biasa, akhirnya, dibalaslah makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Maka terjadilah ‘Perang Mulut’.

Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Beliau meninggalkan Abu Bakar ‘Tanpa Mengucapkan Salam’. Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung.

Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai di halaman rumahnya. Kemudian Abu Bakar berkata,

“Wahai Rasulullah, janganlah Engkau biarkan aku dalam kebingungan yang sangat dalam.
Jika aku berbuat kesalahan, tolong jelaskan kesalahanku…”

Rasulullah menjawab,

“Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan, memfitnahmu lalu mencelamu, kulihat engkau tenang, diam dan engkau tidak membalas. Aku bangga melihat engkau orang yg kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian. Dan aku tersenyum karena Ribuan Malaikat turun di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun untukmu, kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Begitu pun yg ke dua kalinya, ketika ia mencela serta memfitnahmu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya.
Oleh sebab itu, aku tersenyum.

Namun, ketika ke ketiga kalinya ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah iblis di sisimu.  Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu. Aku tidak ingin berdekatan dengan iblis , dan aku pun enggan memberi salam kepada iblis.”

Setelah itu menangislah Abu Bakar.

Sabar itu memang “sakit” dan “perih”. Namun Allah mengasihi dan selalu menyertai orang yg sabar.

Allah Ta’ala berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman. Minta tolonglah kepada Allah dengan ‘sabar’ dan ‘shalat’.
Sesungguhnya Allah itu selalu menyertai orang-orang yang “sabar”(QS. Al-Baqarah, [2]:153)

Bagi orang sabar maka pahala yang didapat adalah “tanpa batas”

Di pintu Surga Malaikat menyambut orang-orang yang sabar dengan mengucapkan

“SALAAMUN ‘ALAIKUM BIMAA SHABARTUM…”
(Semoga keselamatan selalu terlimpah untukmu karena kesabaranmu…)

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang sabar. Aamiin.

Wallahu A’lam Bishawab

Originally posted 2017-07-25 01:46:20.