Permusuhan dan Perselisihan Bisa Terjadi Karena Shalat, Ini Penjelasannya!

Sumber Foto Dari: Wajibbaca.com

Shalat berjamaah merupakan tuntunan yang bagi sebagian ulama ialah kewajiban bagi kaum laki-laki. Meski sebagian ulama yang lain lebih lembut dengan hanya menggunakan pendepatan kelipatan pahala, yakni 27 derajat lebih besar dibandingkan dengan shalat sendirian. Terlepas dari itu semua, sesungguhnya terdapat nilai-nilai sosial kemanusiaan yang terkandung dalam ibadah shalat kita. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang maknanya selalu mendampingkan antara ibadah vertikal dan horizontal. Sebagaimana kewajiban shalat yang hampir selalu dibarengkan dengan zakat. Artinya selain harus fokus pada hubungan pribadi dengan Allah, aspek kemanusiaan juga tidak boleh ditinggalkan.

Meski begitu, dari gerakan shalat yang kita kerjakan pun sudah mengandung nilai-nilai yang mengisyaratkan bahwa sebagai manusia, kita wajib peduli pada sesama manusia. Semisal sujud, memaknakan bahwa siapa pun kita, apa pun derajat kita, berapa pun jumlah harta benda kita, secara lahiriah dihadapan Allah sama rata. Kita bersedia meletakkan kepala tepat di belakang telapak kaki orang lain, tidak segan menempelkan dahi pada bumi yang diinjak-injak orang lain. Semisal lagi salam, mengapa disyariatkan menengok ke kanan dan ke kiri? Sebab diakhir puncak peribadatan kita pada Allah, ialah bentuk kualitas kepedulian kita pada orang lain, kualitas hubungan kita pada sesama manusia.

Begitu pula dengan syariat merapatkan shaf. Mengapa di setiap persiapan melaksanakan shalat berjamaah, imam selalu dan tidak bosan-bosannya mengingatkan, “lurus dan rapatkan shaf, karena lurus dan rapatnya shar merupakan bagian dari kesempurnaan shalat kita.” Rapatnya shat itu bukan sekadar perkara sepele yang dengan mudahnya diabaikan. Rasulullah mengajarkan suatu amalan sudah tentu ada tujuan dan manfaatnya.

Sebagaimana tertuang dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” Imam An-Nawani menjelaskan dalam Syarh Muslim, “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.”

Ada beberapa kekeliruan di tengah masyarakat kita tentang makna merapikan shaf (lurus dan rapat). Sebagian orang dengan semaunya sendiri berdiri tanpa memerhatikan jarak antara saudara di kanan dan kirinya. Sebagian hanya berpatok pada besar sejadahnya, yang dengan ukuran tersebut menimbulkan jarak antara makmum satu dengan yang lainnya. Sebagian lagi ada yang sama sekali tidak memerdulikan kerapian shaf, pokoknya dimana tempat ia berdiri, disitulah ia shalat.

Ketahuilah bahwa shaf yang tidak dirapatkan akan membuka pintu masuk syaitan, sehingga dapat mengakibatkan ketidak-khusyu’an selama menjalankan ibadah shalat. Rapat pun belum tentu terbebas kita dari godaan syaitan Khanzab, apalagi mengabaikan sunnah Rasulullah untuk merapatkan dan meluruskan barisan.

Selain menghindari tipu daya syaiton, rapat dan lurusnya shaf juga memiliki nilai-nilai sosial yang secara tidak disadari punya dampak psikologis bagi penegaknya. Kaki dan bahu yang bersentuhan, akan menimbulkan rasa persaudaraan di antara umat muslim, menciptakan rasa keutuhan umah, tergambar lewat barisan yang kuat dan kokoh. Berbeda dengan ketika shaf tidak tertata, jarak berjauhan, makmum yang satu lebih ke depan – yang satunya terlalu mundur ke belakang. Inilah gambaran ketidakserasian, umat yang barisanya terpecah belah. Hilangnya rasa persaudaraan, hingga muncul perselisihan, mudahnya menebar kebencian antara satu dengan yang lainnya.

Imam Bukhari dalam sebuah hadist dengan jelas menyampaikan, tentang bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk memastikan rapi dan lurusnya shaf, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Luruskanlah shaf kalian, aku melihat kalian dari belakang punggungku.” Lantas salah seorang di antara kami melekatkan pundaknya pada pundak temannya, lalu kakinya pada kaki temannya.”

Tersebab pentingnya merapikan shaf, di masa ke-khalifahan Ustman bin Affan, beliau tidak akan memulai shalat sebelum datang petugas-petugas yang diamanahi untuk merapikan shaf, dan mereka telah melaporkan bahwa shaf selesai dirapikan dan diluruskan, maka barulah beliau memulai shalatnya.

Demikian pentingnya merapikan shaf di saat shalat. Ini bukan tentang siapa diri kita, bukan tentang siapa sebelah kita. Ini adalah tentang rasa persaudaraan, bahwa pada hakikatnya setiap muslim bersaudara. Dan punya kewajiban yang sama untuk menjaga keutuhan umat. Salah satu bukti kokohnya barisan muslimin, ialah dapat digambarkan melalui kokohnya barisan shalat berjamaah.

 

Originally posted 2017-07-25 13:57:31.