Manusia Berada dalam Kerugian, Kecuali Bagi yang Melaksanakan Perintah Ini!

Sumber Foto Dari: share.america.gov

Dalam surah Al-Ashr ayat 1-3 jelas ditegaskan, “Demi masa; Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian; Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Sebagai manusia kita menyadari bahwa setiap makhluk memiliki kekhilafan dan kesalahan, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Dari Kekhilafan dan kesalahan ini sudah seharusnya kita saling mengingatkan sebagai saudara seiman. Ketika kita mengkritik maka kita juga harus dengan terbuka untuk menerima kritikan, karena kesalahan tidak bisa kita hindari akan tetapi kita bisa mengurangi kesalahan-kesalahan yang akan terjadi.

Mencegah terjadinya kesalahan bisa dengan belajar dari pengalaman orang lain atau pun pengalaman yang kita miliki, termasuk kritikan yang datang dari orang lain bisa menjadi pengingat bagi kita. Lalu apakah kritikan hanya sekadar mengungkapkan kesalahan? Bagaimana jika kritikan/nasihat yang kita utarakan menyakitkan bagi orang lain?

Lembut dan Santun

 “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44)

Pada ayat di atas, kita dapat menemukan penjelasan bagaimana cara terbaik untuk memberikan masukan kepada orang lain tanpa harus membuat lawan bicara merasa tersinggung. Tentunya tutur kata yang baik dan benar serta niat baik akan lebih efektif daripada harus berteriak nyaring tanpa makna. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya dilakukan. Terlepas fenomena saat ini, kritik bukan hanya bertemu langsung, kritik pada era kini bisa disampaikan melalui berbagai media – yang memungkinkan kedua pihak tidak saling bertatap muka.

Cara merupakan satu dari dua unsur yang sangat menentukan tersampaikannya sebuah pesan. Konten yang baik, jika disampaikan dengan cara yang kurang tepat, justeru dapat memicu penerimaan yang keliru. Sebagaimana ada seorang pengemis yang meminta segelas air minum, kita memberinya – tetapi bukan dengan sopan menyodorkan, malah melemparkannya sedari jauh. Hilang haus si pengemis, tetapi akan mungkin berbekas pilu dihatinya. Demikian penting memang menentukan cara terbaik untuk menyampaikan sesuatu, termasuk ketika bermaksud mengingatkan saudara sesama muslim.

Baca Juga: Apa Yang Kita Dapat Dari Bersedekah?

Berbekal Ilmu Yang Cukup

Dalam arti luas, kritikan yang kita sampaikan sudah seharusnya dipikirkan dengan matang, tentu didasari oleh keukupan ilmu yang sesuai  dengan topik permasalahan. Pada dasarnya kritik merupakan upaya untuk bisa memberikan pertimbangan benar dan salah atas apa yang dilakukan.  Benar dan salah hanya disematkan atas apa yang dilakukan bukan untuk menilai pribadi yang melakukan, karena menyentuh pribadi seseorang sangat sensitif dan besar kemungkinan orang lain akan tersinggung.

“Jika yang kotor adalah kukunya, maka cukup potong saja kuku itu, jangan potong hingga jari-jarinya. Jika yang keliru adalah perbuatannya, maka cukup salahkan perbuatannya, bukan manusianya. Sebab ia tetap saudaramu yang secara kebetulan keliru menempatkan perbuatan.”

Sudah seharusnya hal-hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kemungkaran sesuai dengan apa yang dikatakan Ibnu Thaimiyah, “Hendaknya setiap orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar adalah seorang yang ‘alim terhadap apa yang ia perintahkan dan dia larang.”

Terlepas bagaimana pemahaman kita tentang urgensi kritik, lebih dari itu sesungguhnya Islam sangat menganjurkan untuk saling mengingatkan di antara sesama manusia. Tersebab kedhaifan dan besar kemungkinan berbuat kesalahan, saling ingat-mengingatkan ialah kewajiban, agar kelak kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi sebab kesesatan yang belum terampunkan.  

Baca Juga: Masih Merasa Sulit Mendapat Kecukupan Hidup? Bisa Jadi Amalan Ini Solusinya!

Originally posted 2017-07-27 06:13:52.