Tapakilah Jalan Ini, Niscaya Allah Akan Hadiahkan Surga Kelak di Akhirat

Sumber Foto Dari: Mizan.com

Sebagai manusia, banyak kebutuhan yang harus dipenuhi – bukan saja menyangkut hal-hal bersifat materil, akan tetapi hal-hal non-materil juga menjadi penting untuk dipenuhi. Salah satu bentuk kebutuhan non materil yang teramat penting ialah ilmu, sebab kadarnya pada diri seseorang akan menentukan bagaimana pribadinya terbentuk dan bagaimana ia memahami hakikat berkehidupan.

Sebagai sebuah ajaran, Islam telah jauh-jauh hari mengajarkan betapa pentingnya menuntut ilmu. Sebagai permulaan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memulai turunnya ayat dengan perintah “bacalah”. Ulama sepakat jika makna dari turunnya perintah membaca di permulaan turunnya Al-Qur’an, ialah isyarat jelas bahwa sebagai seorang hamba, sudah sewajibnya kita membekali setiap diri dengan ilmu – yang tidak diberikan batasan tentang waktu mencarinya. Belajar adalah tugas seumur hidup, dari lahir hingga masuknya jasad ke liang lahat. Sebab tidak ada seorang pun yang mampu berkata cukup, sedangkan apa-apa yang diketahuinya hanya seperti setetes air di lautan.

Berangkat dari ayat tersebut, Allah seakan ingin memberitahukan bahwa membaca adalah salah satu cara terbaik untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Tetapi ironisnya, justeru budaya membaca terasa semakin jauh dari kalangan masyarakat kita. Jiwa-jiwa pembelajar terasa semakin sulit ditemukan pada diri anak-anak kita. Arus modernitas sudah menggeser pola berpikir dan berkehidupan mereka. Semakin hari, perkembangan tekhnologi – yang seharusnya memudahkan – justeru seperti bom waktu yang tinggal tunggu kapan meledaknya.

Belajar dari rentetan sejarah peradaban Islam, membuktikan bahwa agama ini anti terhadap kebodohan. Banyak sahabat nabi yang dituntut oleh situasi untuk bisa belajar dari lembaran-lembaran mushaf Al-Qur’an. Dimulai dari membaca hingga menghafalkannya. Sebuah semangat yang patut dicontoh ketika zaman masih berselimut keterbatasan. Kemudian melangkah pada masa kejayaan, Islam membuktikan jayanya peradaban dengan melahirkan banyak ilmuan yang berpengaruh di seantero bumi, seperti Al-Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Batutah dan masih banyaklagi yang lainnya.

Baca Juga: Manusia Berada Dalam Kerugian, Kecuali yang Menjalankan Perintah Ini!

Tiada merugi, bahkan teramat beruntungnya, orang-orang yang menyadari makna pentingnya belajar, menuntut ilmu dengan tujuan mengharap keridhaan Allah. Sebagai bagian dari upaya menyempurnakan amal ibadah di dunia, hingga kelak di akhirat tergolong ke dalam hamba-hamba yang dimasukkan oleh-Nya ke dalam indahnya alam surga.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, “Barang siapa keluar untuk mencari ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai meninggal dunia.” 

Baihaqi menambahkan penjelasan di dalam sebuah riwayatnya,Jadilah engkau orang yang berilmu, atau orang-orang yang menuntut ilmu atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka”

Teringat sebuah kisah dari seorang sahabat di era dahulu. Ia adalah seorang pendosa dengan sederet kemaksiatannya pada Allah. Beberapa waktu sebelum meniti jalan ini, ia sudah genap menghabisi nyawa 100 orang. Ialah pembunuh yang terketuk hatinya ingin kembali pada jalan Allah, memohon ampun dan berkeinginan kuat untuk hijrah. Mulailah ia mencari seorang guru yang dapat membimbingnya belajar memahami agama. Kuat tertancap di dasar hatinya, bahwa ia sungguh ingin berubah. Jalan ini ditempuhnya sebagai bagian dari upaya menuju hijrahnya.

Belumlah sampai pada sang guru, tersebab amat jauh perjalanan, ia pun sudah dipanggil kembali oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wafatnya di tengah perjalanan, mengundang diskusi di antara dua malaikat. Keduanya saling berkuat pendapat tentang masa depan lelaki ini kelak di akhirat. Kemudian di hitunglah jarak, dan ternyata jarak yang sudah ditempuhnya lebih banyak sedikit dari jarak sisa perjalanannya. Kemudian Allah mengganjarkannya dengan balasa surga.

Bisa dibayangkan, seorang pembunuh 100 jiwa manusia pun di ampuni dan diberikan balasan surga oleh Allah, saat ia berkeinginan kuat untuk meniti jalan-jalan ilmu. Berguru pada seorang alim ulama yang diharapkannya mampu memberikan bimbingan untuk kembali pada Allah. Bagaimana dengan kita yang jangankan membunuh seorang manusia, melakukan kemaksiatan setara dengan itu pun tidak. Maka marilah mulai menyadari, betapa Allah sangat mengangungkan orang-orang yang memilih jalan ilmu sebagai salah satu cara menggapai ridha-Nya.

Baca Juga: Hati-Hati, Sering Menyanyi di Kamar Mandi Bisa Menimbulkan Berbagai Penyakit

 

Originally posted 2017-07-28 06:38:37.