Apa Itu Rukhsoh dan Siapa Sajakah Orang yang Mendapat Rukhsoh?

 

Sumber Gambar dari markazinayah.com

Agama Islam adalah agama yang sempurna. Dari berbagai sudut yang ada tak kan ada seorangpun yang dapat menemukan kecatatan di dalamnya. Adapun kecatatan yang dilihat manusia, itulah cacat yang terdapat dalam diri ummat muslim. Itulah kekurangan yang secara fitrah dimiliki oleh manusia. Jadi setujukah kalian Islam adalah agama yang sempurna? Sempurna dalam ajarannya, sempurna dalam kitabnya, dan sempurna dalam segala aspek yang mengatur kehidupan manusia.

Agama Islam dengan segala aspek yang mengatur kehidupan manusia, bukan berarti Agama Islam senang memberi beban kepada ummat-Nya, namun Allah Maha Mengetahui kemampuan hamba-Nya, dan juga senang menjaga ummat-Nya agar selalu dalam maslahat. Batapa indahnya bukan agama Islam yang Allah berikan? Karena Agama Islam lah satu-satunya Agama dan kitabnya Allah jaga sampai kelak hari kiamat. Subhanallah.

Agama Islam dalam mengatur kehidupan manusia, tidak selalu memberatkan ummat-Nya. Terdapat keringanan bagi siapa saja ummat-Nya yang membutuhkan.

Keringanan dalam syari’at Islam disebut dengan rukhsoh. Rukhsoh secara bahasa berarti izin pengurangan atau keringanan. Penjelasan selanjutnya akan dibahas di paragraf berikutnya, jadi disimak terus ya!
Baca juga : Makan Terlalu Kenyang, Haramkah?
Kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hamba-Nya serta kebaikan dalam Agama Islam sebagai agama yang mudah lagi tidak memberatkan, maka tertuanglah dalam hukum Islam adanya rukhsoh. Rukhsoh merupakan keringanan dalam hukum Islam, hukumnya mencakup semua hukum diantaranya seperti wajib, sunnah, haram dan mubah dapat terjadi keringanan jika terdapat udzur di dalamnya. Agar lebih jelasnya mari kita bahas macam-macam rukhsoh dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Rukhsoh menggugurkan kewajiban, artinya boleh meninggalkan kewajiban ataupun yang disunnah jika terasa berat untuk melaksanakannya dan akan menyebabkan bahaya pada dirinya atau orang lain jika tetap mengerjakan kewajibannya itu. Contohnya seorang wanita yang tengah dalam keadaan haid atau nifas, maka hukum solat baginya tidak lagi menjadi wajib karna terdapat kotoran yang najis yakni darah. Atau contoh, seorang ibu hamil yang dalam keadaan payah dan khawatir terhadap kondisi bayi dalam rahimnya sementara saat itu tengah bulan Ramadhan, maka hukum puasa baginya tidak wajib atau boleh tidak berpuasa dan diganti dalam bulan yang lain.
Rukhsoh juga dapat mengurangi kadar kewajiban, seperti kewajiban untuk solat zuhur atau asar yang empat rakaat dapat diringkas menjadi dua rakaat disebut dengan qasar. Hal tersebut boleh dikerjakan bagi orang yang sedang dalam keadaan musafir yakni berpergian jauh dan perjalanannya baik menurut syariat Islam.
Rukhsoh dalam hal mengganti kewajiban dengan kewajiban lain yang lebih ringan, dikarenakan kesukaran yang terjadi. Misalnya, ketika hendak solat di satu kampung tidak menemukan air dalam kadar yang cukup untuk berwudhu’, maka hukum wudhu’ yang semula wajib boleh digantikan dengan tayamum dengan debu yang suci.
Rukhsoh menangguhkan pelaksanaan kewajiban, karena ada udzur syar’i yang membolehkannya. Seperti, mengangguhkan kewajiban shalat Zuhur ke shalat Ashar yakni disebut dengan jama’ takhir, diperbolehkan bagi para musafir. Contoh lagi, seorang yang kelelahandan baru bangun jam enam pagi serta belum mengerjakan solat subuh, maka boleh baginya solat subuh pada jam ketika ia bangun.
Rukhsoh mendahulukan pelaksanaan kewajiban. Contohnya, pelaksanaan kewajiban zakat fitrah wajib dilakukan pada akhir Ramadhan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu mengelurkan zakat sehari atau dua hari sebelum hari raya. (HR. Bukhari). Namun karena dalam kondisi khawatir menjadi terlupa akan kewajibannya, maka ia mendahulukan mengeluarkan zakat fitrah pada pertengahan bulan Ramadhan, maka hal ini diperbolehkan.
Rukhsoh sebagai merubah kewajiban yang masih diperbolehkan dalam syari’at Islam, misalnya merubah tata cara pelaksanaan shalat ketika dalam keadaan sakit maupun perang. Merubah tata cara pelaksanaan shalat ketika seorang sedang dalam keadaan sakit misalnya, tidak mampu berdiri, maka boleh bagi nya shalat dalam keadaan duduk.
Rukhsoh yang terakhir membolehkan mengerjakan perbuatan yang asal mula hukumnya haram dikarenakan udzur syar’i. Seperti boleh memakan segala yang diharamkan dalam Al-Qur’an dan Hadits seperti bangkai, darah, daging ular atau binatang buas lainnya dengan catatan terdapat udzur syar’i, seperti keadaan darurat saat tersesat dan sudah kehabisan cadangan makanan, maka dengan niat mempertahankan hidupnya dan agar tetap bisa menjalankan perintah Allah mereka memakan makanan yang asal mulanya haram.
Imam muslim dari Hamzah bin Umar Al-Aslamy berkata; “ya Rasulullah diantara kami ada yang kuat melaksanakan puasa ketika musafir apakah mereka salah (kalau berpuasa)? Rasulullah menjawab: itu adalah rukhsoh dari Allah barangsiapa yang mengambilnya maka itu lebih baik, barangsiapa yang ingin berpuasa maka tidak ada dosa baginya. (HR. Muslim)

Pendapat mayoritas ulama yang menyatakan keharusan mengamalkan rukhsoh adalah baik itu wajib atau sunnah adalah rajih (kuat) dengan alasan yang kuat pula.

Wallahu A’lam bishawab

Baca juga : Mengapa Masijd Al-Aqsha Diperebutkan?

Rujukan: Ustadz Nurul Mukhlisin Asyrafuddin dengan judul Makna Rukhsah dan pembagiannya.

 

Originally posted 2017-07-31 16:13:04.