Bagi Kamu Yang Sering Berdiri di Belakang Imam Saat Shalat Berjamaah, Perhatikan Beberapa Hal Ini!

Sumber Foto Dari: muslimprosjektet.wordpress.com

Tidak ada manusia di muka bumi yang bisa terbebas sepenuhnya dari godaan dan tipu daya syaitan. Se-shaleh apa pun kita, bisa saja dengan keshalihan itu syaitan memalingkan niat, merusak keikhlasan. Se-dermawan apa pun kita, bisa saja syaitan dengan tanpa lelah meniupkan sifat-sifat riya, hingga amalan tak bernilai sedikit pun di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Se-taat apa pun kita, bisa saja syaitan yang terus menggoda tanpa jeda menggelincirkan hati kita dengan tujuan selain kepada-Nya.

Tersebab syaitan merupakan musuh yang nyata bagi setiap manusia, maka tidak ada seorang pun yang bisa benar-benar melawan kecuali dengan pertolongan Allah. Bahkan saat shalat sekali pun, syaitan bernama Khanzab terus menerus menyelinap dalam kepiawaiannya menggoda manusia. Diganggunya kekhusyu’an kita, dibuatnya kita lupa pada jumlah rakaat dan bacaan yang sedang dibaca. Hingga tidak jarang kita menemukan saat shalat berjamaah, seorang imam yang tetiba kehilangan ingatannya tentang bacaannya, lupa berapa rakaat sudah dilaluinya.

Jika terjadi seperti demikian, imam yang lupa bacaan atau jumlah rakaatnya, maka sudah seharusnya dibantu oleh makmuk yang ada di belakangnya. Tugas makmum ialah mengingatkan. Tanggung jawab mengingatkan imam terletak paling utama pada makmum yang berada tepat dibelakang imam. Jika ia pun tak sanggup, maka barulah beralih ke makmuk disebelahnya dan seterusnya.

Baca Juga: Terburu-Buru Mendatangi Shalat Berjamaah, Bolehkah?

Kesalahan dalam membaca

Mungkin sebagian dari kita pernah menemui kesalahan semacam ini saat shalat berjamaah. Ketika imam membaca surat, ada lafadz yang tidak sesuai dengan lafadz yang sebenarnya. Ketika menemui situasi seperti ini dianjurkan kepada makmum untuk mengingatkan kepada imam dengan melafadzkan bacaan yang benar. Begitu juga ketika lupa, makmum diperintahkan untuk melafadzkan sesuai dengan lanjutan bacaan sesuai dengan bacaan sebelumnya.

Sebuah hadist dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, diriwayatkan oleh Abu Daud, Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan shalat dan membaca (beberapa ayat Al-Qur’an) dalam shalatnya, dan beliau terbalik-balik dalam bacaannya, seusai shalat beliau bersabda kepada Ubay : “Apakah kamu tadi ikut shalat bersama kami?” Ubay menjawab;”ya.” Sabda beliau :”Apa yang mencegahmu ( untuk tidak membenarkan tentang ayat tadi)?”

Syaikh Abdul Aziz bib Baz rahimahullah menjelaskan di dalam Majmu’ fatawa bin Baz, “Imam diberikan dua pilihan, yaitu bertakbir untuk rukuk dan menghentikan bacaan atau membaca surat/ayat yang lainnya”.

Seperti yang dijelaskan diatas, ketika kondisi imam dan makmum saling tidak mengetahui lafadz ayat yang sebernarnya, imam bisa mengambil keputusan diantara dua pilihan, yaitu melanjutkan untuk rukuk atau mengganti dengan surat yang lain.

Kesalahan dalam jumlah rakaat

Keraguan dalam jumlah rakaat dalam shalat mungkin pernah ditemui. Ada dua kemungkinan, yaitu jumlah rakaat yang tertambah atau jumlah rakaat yang terkurangi. Ketika dalam kondisi berjamaah makmum wajib mengkoreksi kesalahan imam, termasuk dalam jumlah rakaat. Ketika rakaat kurang atau lebih makmum pria mengingatkan dengan cara mengucapkan subhanallah, dan makmum wanita menegur dengan cara tepukan tangan.

Dalam situasi lain ketika kita dalam kondisi ragu berapa jumlah rakaat yang telah dilakukan hendaknya melakukan sujud sahwi untuk menyempurnakan shalat kita.

“Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam . Jika ternyata ia shalat lima rakaat maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya empat rakaat, maka sujudnya itu penghinaan bagi setan”. (HR. Muslim no. 571)

Dalam uraian hadist diatas bisa saja terjadi ketika keraguan itu timbul dalam pertengahan atau bagian akhir dari shalat itu sendiri.

Meski sudah berusaha untuk sempurna dalam shalat, tetpi selalu ada kemungkinan terjadinya kekhilafan atau keslaahan. Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan solusi agar ibadah shalat bisa tetap sempurna meski terjadi kesalahan atau keraguan yang disebabkan oleh tipu daya syaitan.

Baca Juga: Permusuhan dan Perselisihan Bisa Terjadi Karena Shalat, Ini Penjelasannya!

Originally posted 2017-07-30 23:13:42.