Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Berucap Kata “InsyaAllah”

 

Sumber foto dari kalam28.com

Janji merupakan perkataan yang harus bisa dipegang dan harus memiliki bukti dalam usaha menepatinya. Seringkali janji merupakan ucapan yang biasa diucapkan namun belum tentu ada jaminan dalam penepatannya. InsyaAllah, merupakan suatu perkataan dalam Islam ketika seseorang berniat memiliki janji kepada orang lain. Namun seringkali pula kata “InsyaAllah” hanya dijadikan kata-kata pelarian dari janji seseorang yang memang pada awalnya tidak berniat menepati. Lalu bagaimana hukum mengucapkan kata InsyaAllah tanpa niat menepati? Bolehkah? Berikut simak ulasannya.

  • Hukum Mengucapkan InsyaAllah

Secara bahasa kata “In” yang berarti “jika”, “sya’a” yang berarti “menghendaki”, yang secara keseluruhan berarti “Jika Allah Menghendaki” merupakan istilah ketika seseorang berniat membuat janji namun segalanya disandarkan kepada Allah tentang terjadi atau tidaknya hal yang dijanjikan. Dalam suatu ayat Al Quran, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi kecuali dengan menyebut InsyaAllah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS. Al Kahfi: 23-24)

Ayat tersebut turun saat dahulu Rasulullah mengatakan janji kepada kaum Quraisy tentang roh, kisah Ashabul kahfi, serta kisah Zulkarnaen, karena hal tersebut maka turunlah kedua ayat tersebut.

Dalam pernyataan lain disebutkan, yaitu Ibnu katsir menjelaskan tentang ayat Al Kahfi tersebut, beliau berkata:

“Inilah petunjuk Allah Ta’ala kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang adab tatkala beliau berkeinginan kuat akan sesuatu dan pasti akan melakukan perbuatan tersebut di waktu mendatang maka hendaknya diikuti denga ucapan InsyaAllah. Karena Dia-lah dzat yang mengetahui perkara ghaib, mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, segala sesuatu yang akan terjadi, segala sesuatu yang tidak terjadi, dan bagaimana sesuatu yang tidak jadi tersebut seandainya terjadi. (Tafsir Ibnu Katsir)

Syaikh Ibnu Utsaimin juga menjelaskan tentang hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, bahwasanya:

“Sungguh aku akan memberikan bendera ini besok kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari 2768 Muslim 4431).

 Baca Juga: Amalan di Pagi Hari yang Bisa Mengundang Rezeki dan Pengganti Sedekah
  • Akibat Mengucapkan InsyaAllah Tanpa Berniat Menepati

Jika seseorang mengatakan InsyaAllah namun tidak berniat menepati berarti orang tersebut sama saja dengan berdusta, namun jika orang yang mengucapakan InsyaAllah tersebut berniat menepati namun dengan segala usaha maksimalnya janji tersebut belum bisa ditepati maka tidak termasuk orang tersebut sebagai seorang pendusta. Berkata “InsyaAllah” berarti menyandarkan kejadian atas janjinya sepenuhnya kepada Allah, sehingga semaksimal munkin seseorang yang berjanji tersebut haruslah berusaha untuk menepatinya, namun jika telah berusaha semaksimal mungkin namun hal yang dijanjikan tersebut belum bisa terlaksana berarti Allah belum menghendaki dan akan ada saat yang lebih baik untuk janji tersebut bisa terlaksana. Namun ketika seseorang tidak berniat menepati maka sama saja orang tersebut mempermainkan nama Allah dalam perkataan InsyaAllah karena pada dasarnya orang tersebut memang enggan untuk menepati. Dan akibatnya tentu rentan terjadi perpecahan ukhuwah dengan orang yang telah diberi janji. InsyaAllah adalah perkataan yang sangat dianjurkan, bahkan telah tercantum dalam Al Quran namun didalamnya juga diperlukan implementasi dari janji dalam bentuk bukti.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Meminjam Barang Hanya Sebentar Namun Tanpa Izin, Haramkah?

Originally posted 2017-07-31 05:25:38.