Membagikan Daging Kurban, Sebaiknya Mentah atau Matang?

 

Sumber foto dari rayapos.com

Hari raya Idul Adha merupakan salah satu agenda besar umat Islam yang mana ditunggu kehadirannya oleh setiap muslim di dunia ini. Hari raya tersebut selain dijadikan kesempatan untuk menjalin silaturrahmi juga merupakan hari dimana dijadikan kesempatan untuk saling berbagi, yaitu dengan adanya penyembelihan hewan kurban. Lalu bagaimanakah baiknya memberikan daging kurban dalam bentuk matang atau mentah? Yuk simak ulasan hukumnya.

Hukum yang Menganjurkan Daging Kurban Dibagikan Mentah

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah menyatakan:

“Kemudian memberi hadiah atau sedekah (dengan hewan kurban) itu dengan daging mentah belum dimasak. Jika datang hari Idul Adha kemudian engkau berkurban, lalu engkau mengirimkan yang dimudahkan kepada orang-orang fakir miskin, dan memberi hadiah kepada tetanggamu, dan teman karibmu yang dimudahkan dan makanlah sisanya.” (Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb rekaman yang ke 123)

Baca Juga:Inilah Nasib Keluarga Kita Kelak di Hari Kiamat!

Hukum yang Membolehkan Daging Dibagikan Mentah atau Masak

Dalam suatu pernyataan dalam suau fatwa diperboehkan untuk membagikan daging kurban dalam bentuk mentah atau matang.

“Menyembelih hewan kurban hukumnya Sunnah kifayah, dan sebagian ulama ada yang mewajibkannya (fardhu ‘ain), mengenai pembagian dagingnya, baik dalam keadaan dimasak atau mentah boleh keduanya, dan disyari’atkan agar yang berkurban memakan sebagian dari kurbannya, menghadiahkannya (kepada kerabat atau tetangga dll) serta bersedekah. (Maksudnya agar daging hewan kurban tersebut, dibagi menjadi tiga bagian: pertama untuk dimakan oleh yang berqurban, kedua dibagikan kepada kerabat, tetangga atau kenalan dan ketiga untuk kaum fakir miskin”. (Fatwa Al-Lajnah ad Daimah, No.9563)

Dijelaskan pula bawa membagi daging dalam keadaan mentah atau matang diperbolehkan agar dapat dimanfaatkan oleh orang lain terutama yang kekurangan. Dalam suatu ayat Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (Al Hajj: 28)

Hadits riwayat Bukhari, dari Salamah bin Al-Akwa’ beliau berkata, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa berkurban diantara kalian, maka janganlah sekali-kali masuk diwaktu pagi setelah hari ketiga sementara dirumahnya masih ada sedikit (dari daging kurban tersebut). Tatkala  datang tahun berikutnya orang-orang bertanya: Wahai Rasulullah, (apakah) kami melakukan sebagaimana yang kami lakukan tahun lalu (tidak menyimpan daging kurban), Beliau menjawab; makanlah, berilah makan, dan simpanlah. Karena tahun kemarin itu orang-orang terkena paceklik sehingga aku ingin kalian membantu menghadapinya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain disebutkan bahwasanya, dari Abi Dzar Radhiyallahu ‘anhu , dia berkata, Rasulullalh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak maraq, maka perbanyaklah airnya dan bagilah dengan tetanggamu.” (HR. Muslim)

Dalam hal ini pada dasarnya hakikat berbagi sangat dianjurkan dalam Islam, karena  didalamnya mampu lebih mengeratkan ukhuwah antar muslim satu sama lain.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Memajang Foto atau Lukisan Makhluk Bernyawa, Haramkah?

 

Originally posted 2017-08-04 07:48:17.