Bolehkah Merayakan Ulang Tahun dalam Islam?

 

Sumber foto dari blog.urbanindo.com

Pada umumnya orang sering merayakan acara pada tanggal kelahirannya, atau yang biasa disebut dengan ulang tahun. Agenda ini bahkan dianngap wajib oleh sebagian orang, termasuk orang muslim. Pada zaman sekarang, hal tersebut dianggap sangat wajar bahkan jika tidak melaksanakan dianggap terdapat sesuatu yang kurang. Lalu bagaimanakah Islam menanggapi? Apakah diperbolehkan untuk merayakan ulang tahun? Berikut simak ulasan hukum Islam mengenai perayaan ulang tahun dalam Islam.

Dalam syiar kitab Al Iqna Juz 1 Hal 1 dijelaskan bahwasanya, Imam Qommuli berkata:

“Kami belum pernah mengetahui pembicaraan dari salah seorang ulama kita terkait ucapan selamat hari raya, Ucapan selamat ulang tahun tertentu atau bulan tertentu, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh banyak orang, akan tetapi berkata al-hafidz al-Mundziri dengan memberi jawaban tentang masalah yang demikian itu, Memang selama ini para ulama berselisih pendapat seputar Hukum merayakan ulang tahun, menurut pendapat kami, Tahni’ah itu mubah, tidak sunnah dan bukanlah perbuatan bid’ah, Imam Ibnu Hajar setelah menela’ah masalah itu mengatakan bahwa tahni’ah itu disyari’atkan, dalilnya adalah bahwa Imam Baihaqi membuat satu bab khusus untuk hal itu dan dia berkata : “Maa ruwiya fii qaulin nas” dan seterusnya, kemudian meriwayatkannya beberapa hadits Rasulullah SAW dan atsar yang dha’if-dha’if. Namun secara kolektif, riwayat yang demikian itu bisa digunakan sebagai sebuah dalil Hukum Islam tentang tahni’ah. Dalam Islam Secara umum, dalil tahni’ah bisa diambil dari adanya anjuran sujud syukur dan kata ucapan yang isinya menghibur sehubungan dengan kedatangan suatu nikmat atau terhindar dari suatu marabahaya, dan juga dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa sahabat Ka’ab bin Malik sewaktu ketinggalan atau tidak mengikuti perang Tabuk, dia bertaubat, ketika menerima khabar gembira bahwa taubatnya diterima, dia menghadap kepada Nabi Muhammad SAW. maka sahabat Thalhah bin Ubaidillah berdiri untuk mengucapkan ucapan selamat kepadanya”.

Baca Juga:Penting Untuk Para Muslimah! Membaca Al-Qur’an Dalam Keadaan Haid, Bolehkah?

Dalam suatu hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)
Perayaan ulang tahun pada dasarnya bukanlah kebiasaan orang Islam, dan acara perayaan tersebut adalah milik orang non muslim. Dalam Suatu hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]

Jika dalam merayakan tersebut dimaksudkan dalam rangka termasuk kewjiban seperti ibadah maka hal tersebut termasuk bid’ah. Dalam suatu hadits dijelaskan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.

Orang yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]
Umat muslim dengan segala adat yang telah dimiliki, hendaknya melaksanakan sesuatu berdasarkan dengan adat yang dimiliki sendiri. Karena sungguh setiap urusan terdapat kaidahnya dan Islam telah mengaturnya. Pun terdapat balasan pahala dari setiap perilaku yang sesuai dengan kaidah-kaidah tersebut.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Membagikan Daging Kurban, Sebaiknya Mentah atau Matang?

Originally posted 2017-08-04 12:22:50.