Inilah Pintu Surga Yang Letaknya Sangat Dekat, Tapi Sering Diabaikan!

Sumber Foto Dari: www.ummi-online.com

Siapa yang tidak berkeinginan masuk ke dalam surga, siapa pula yang rela jasadnya dibanamkan pada kepulan pai neraka? Tiada seorang pun. Semisal ada manusia paling berdosa sekali pun, ia tentu tetap berpengharapan akan surga, meski laku hidupnya sangat dengan kepada neraka.

Tiada manusia yang menolak jika kelak dihadiahkan surga oleh Allah Subhanau Wa Ta’ala. Meski kebanyakan manusia lalai mengupayakannya. Jelas tertuang cara dan jalan menujunya, tetapi masih saja terus berkelok pada apa-apa yang justeru akan membawanya ke nereka. Perintah ditinggalkan, larangan dijalankan. Kewajiban dilalaikan, sunnah diabaikan. Keseharian dipenuhi amalan pembawa dosa dan kemaksiatan. Lantas apa yang kita harapkan dari hidup setelah kematian? Adakah murid yang seketika mendapat juara kelas sedang tiada pernah belajar dan buruk di hasil ujian?

Mari mulai perlahan memikirkan, sudahkah seimbang antara pengharapan kita akan surga, dengan upaya kita menujunya. Atau jika belum, sudahkan dengan sekuat tenaga kita ikhtiarkan untuk menjadi sebaik-baik hamba? Manusia yang senantiasa menunjukkan niat untuk berubah jadi baik, memanfaatkan semua pintu-pintu kebaikan agar bekal lebih banyak dari dosa yang dibuat?

Tidak cukup disitu, sebagian besar manusia juga sibuk mencari surganya pada apa-apa yang sulit baginya. Mencari kebaikan pada sesuatu yang letaknya terlalu jauh. Tidak salah, tetapi fokusnya kita pada yang sulit dan jauh itu jangan justeru menjadikan lupa pada yang dekat dan utama. Betapa Maha Baiknya Allah telah menyediakan bagi kita surga-surga yang dekat, yang tanpa bergerak jauh pun sudah demikian utamanya di sisi Allah.

Ia ada di dalam rumah kita sendiri. Setiap waktu kita lihat, setiap saat kita bersamai. Ialah yang tanpa harus keluar rumah pun bisa sangat kita upayakan fadhilahnya. Ada pintu-pintu surga yang lekat dengannya. Ada keutamaan-keutamaan yang bisa kita ambil dari berbakti kepadanya. Ialah kedua orangtua, ibu dan ayah kita.

Baca Juga: MasyaAllah! Ternyata Yang Kita Kejar-Kejar Selama Ini Lebih Hina dari Bangkai

Sebuah riwayat dari Imam Bukhari menjelaskan, dari Abdirahman Abdullah bin Mas’ud, Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” 

Betapa banyak seorang anak yang terlihat sangat baik pada rekannya, pada keluarganya, pada sejawat koleganya. Tetapi ketika kembali ke rumah, begitu ketus pada ibunya, mudah tersulut emosinya saat dipanggil oleh ayahnya. Betapa ia sangat tidak baik memperlakukan kedua orang tuanya, sebagaimana baiknya memperlakukan orang yang bukan siapa-siapanya. Betapa ramahnya ia pada pimpinan di kantornya, tidak sebanding dengan nada tinggi dan kata-kata kasarnya yang seringkali diucapkan pada wanita yang bertaruh nyawa melahirkannya.

Lagi-lagi, tidak perlu menengok orang lain, tengoklah jauh ke dalam diri kita masing-masing. Bagaimana selama ini cara kita memperlakukan kedua orang tua. Dua manusia yang sudah berjuang pagi-siang-malam. Ibu yang sembilan bulan menahan beban, seumur hidup mendoakan. Ayah yang tak kenal waktu berjibaku dengan pekerjaan, di papar teriknya matahari, di tusuk dinginnya angin malam. Tak pernah berhenti berupaya, menuntaskan ikhtiar agar kita bisa makan, bisa membeli mainan kesukaan, bisa mengenyam pendidikan, bisa berpakaian sebagaimana keinginan.

Sadarkah kita bila ada surga pada keduanya. Ada surga pada baktinya kita pada ibu, ibu dan ibu. Ada jalan surga pada baktinya kita pada ayah. Ada murka pada sedikit saja kata-kata kasar. Se-sederhana “ah” yang tak terhitung kita utarakan. Ada dosa yang akan disegerakan oleh Allah balasannya di dunia.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi, Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [diakhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).”

Betapa Allah mewajibkan kita untuk senantiasa berbakti pada kedua orang tua. Sebab tak akan pernah sanggup kita membalas budi baik. Segunung permata tak akan cukup. Tidak ada yang bisa benar-benar setara dengan perjuangan seorang ibu, dan pengorbanan seorang ayah.

Maka jika pun masih ada kedua orang tua kita, manfaatkanlah kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk meraih ridhanya. Meraih ridha Allah agar kelak kita tidak tergolong ke dalam orang-orang yang lalai pada ibu dan ayahnya. Agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang terhina menurut baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Doakanlah senantiasa keduanya, upayakanlah untuk selalu menghadirkan bakti dan membahagiakan keduanya. Sebab jika sudah dicukupkan umurnya, akan tertanam dalam rasa penyelasan di dalam hati kita. Sebab jika sudah tiada lagi kesempatan untuk berbakti secara nyata pada keduanya, yang tersisa hanyalah luka mendalam, sebab waktu tak akan pernah bisa diputar ulang.

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”

Baca Juga: Waspadalah! Rasulullah Melarang Kita Shalat di Waktu Ini

Originally posted 2017-08-06 02:22:01.