Menguap Saat Shalat, Harus Ditutup atau Dibiarkan?

Sumber Foto Dari: www.ummi-online.com

HIJAZ.ID – Menguap bagi sebagian orang mungkin hanyalah hal sepele yang sehari-hari rutin dialami. Sebagai pertanda kantuk, atau terkadang di saat tak sedang mengantuk pun kita seperti dilanda penyakit menguap dalam intensitas yang lumayan banyak. Uniknya lagi, menguap seperti sebuah penyakit menular yang daya jangkitnya sangat cepat. Hanya dengan melihat orang lain menguap, dalam hitungan detik kemudian kita juga ikut menguap.

Meski seringkali dianggap tidak penting, ternyata Islam sangat memperhatikan perihal yang satu ini. Sebagai bagian dari pembahasan, maka kita akan melihat bagaimana Islam memberikan pedoman kepada umat ketika dilanda penyakit menguap saat sedang menjalankan ibadah shalat.

Sadar atau pun tidak, ketika shalat kita pernah atau bahkan sering tiba-tiba ingin menguap. Penting untuk kita pahami, tersebab shalat ialah ibadah yang sakral dan teramat sangat ketat aturannya, maka apa yang harus kita lakukan saat tetiba rasa ingin menguap sudah tidak bisa ditahan lagi. Apakah perlu menggerakkan tangan untuk menutupnya, atau sekiranya lebih baik dibiarkan saja karena ditakutkan akan mengganggu kekhusyu’an?

Imam An-Nawawi menjelaskan mengenai persoalan menguap yang banyak diabaikan, tetapi sangat penting untuk dipahami. Di dalam kitab At-Tibyan di Adabi Hamalatil Qur’an, beliau menerangkan bahwasanya “Pasal tentang beberapa masalah yang langka di tengah-tengah umat, namun sangat butuh untuk dijelaskan kepada mereka, adalah di antaranya: Seorang yang menguap ketika shalat, dia harus menghentikan bacaan shalatnya sampai menguapnya selesai, kemudian melanjutkan bacaanya. Ini adalah perkataan Mujahid, dan ini ucapan yang bagus. 

Baca Juga: Merasa Beriman? Beranikah Mencoba Do’a Rasulullah Yang Satu Ini!

Imam An-Nawawi melengkapi penjelasannya dengan mengutip salah satu hadist dari Abu Sa’id Al-Khudri, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaknya dia tahan mulutnya dengan tangannya, karena syaitan berupaya untuk masuk.”

Lebih dalam, Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan di dalam kitab Fathul Bari“Dan di antara yang diperintahkan bagi orang yang menguap adalah; jika sedang shalat, maka dia harus menghentikan bacannya sampai menguapnya selesai, agar bacannya tidak berubah. Pendapat yang seperti ini disandarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Mujahid, Ikhrimah dan para tabi’in.”

Berdasar pada beberapa penjelasan di atas, maka yang harus kita lakukan saat menguap di waktu sedang mengerjakan shalat ialah sekuat mungkin menahannya. Jika pun memang tidak sanggup, maka hendaknya menutup dengan tangan, agar tetap berusaha menghindarkan diri dari masuknya syaitan. Hal yang lebih penting menjadi penekanan para ulama ialah agar kita menghentikan bacaan selama menguap. Sebab ditakutkan ada bacaan yang terlewat, atau sekiranya tidak tepat kita membacanya.

Di dalam kitab Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Asy-Syaikh Khalil, Imam Malik menerangkan pentingnya menghentikan bacaan di saat sedang menguap. “Mulutnya ditutup dengan tangannya ketika shalat sampai selesai menguap. Jika menguap ketika sedang membaca bacaan shalat, kalau dia memahami apa yang dibaca, maka hukumnya makruh namun sudah mencukupi  baginya (bacaan dia). Tetapi jika tidak memahaminya, maka dia harus mengulangi bacaannya, dan jika tidak mengulanginya, -kalau bacaan tersebut adalah surat Al-Fatihah-, maka itu tidak mencukupi (tidak sah shalatnya), dan kalau selain Al-Fatihah, maka sudah mencukupinya (shalatnya sah).”

Imam Malik khawatir hingga pada peluang gugurnya shalat kita, tidak sah ketika menguap bertepatan dengan pembacaan surah Al-Fatihah. Tersebab tidak sah bagi seseorang yang tidak membaca surah Al-Fatihah ketika shalat, maca terlewatnya bacaan karena menguap pun dapat terhitung pada tidak sempurnanya bacaan tersebut.

Sungguh tegas agama mengatur hal yang seringkali kita anggap sebagai sesuatu yang teramat sepele. Bahkan sebagian manusia keliru berbuat, jauh dari kesesuaian dengan yang sebenarnya sudah disyariatkan oleh baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Sebagai penutup, perlu kita sadari bersama jika terdapat beberapa cara syaitan untuk masuk ke dalam tubuh manusia. Salah satunya ialah melalui lubang mulut yang terbuka saat menguap. Mungkin yang kita ketahui selama ini, menguap hanyalah tanda jika tubuh sudah mulai lelah dan mengantuk. Padahal tidak sesederhana demikian, syaitan telah meniupkan godaannya agar kita membuka mulut dan mereka masuk ke dalam tubuh. Ketika manusia lalai dari berlindung kepada yang sudah disyariatkan oleh Rasulullah, syaitan dengan bahagianya tertawa sebab keberhasilannya menipu manusia.

Tertuang dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, “Menguap adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, maka hendaknya ditahan semampu dia, sesungguhnya jika salah seorang dari kalian (ketika menguap) mengatakan (keluar bunyi): ‘hah’, maka setan tertawa.”

Baca Juga: Pintu Surga Yang Sering Kita Abaikan, Padahal Letaknya Teramat Sangat Dekat!

 

 

 

Originally posted 2017-08-07 06:38:23.