Bedakan Saudara yang Halal dan Haram untuk Dinikahi!

Sumber foto dari abumujahidah.blogspot.com

Saudara merupakan orang yang memiliki ikatan kekeluargaan dengan kita, yang pada umumnya orang menilai semua saudara adalah mahram. Namun sebenarnya dalam Islam tidak semua saudara merupakan mahram, dalam pengertian mahram merupakan orang yang haram untuk dinikahi karena keturunan, karena sama ibu persusuan ataupun saudara kandung. Karena anggapan yang demikian sehingga terkadang ada pihak yang masih merasa tabu ketika ada seseorang menikahi saudara sendiri. Lalu bagaimanakah dengan hukum Islam terkait pernikahan dengan saudara? Saudara manasajakah yang halal dan haram dinikahi? Berikut simak ulasannya.

Berdasarkan dalil maka dihalalkan bagi seseorang yang ingin menikahi saudara sendiri yang bukan mahram, adapun yang bukan mahram telah disebutkan dalam ayat tersebut. Dalam Ayat Al Quran dijelaskan bahwasanya, Allah Subahanahu waa’ala berfirman:

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 50)

Baca Juga: Bus Jemaah Haji Calhaj Nyaris Jatuh ke Jurang, Inilah Bukti Allah Maha Kuasa!

Sedangkan yang dilarang dinikahi adalah saudara yang masih mahram. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Quran bahwasanya, Allah Subhanahu waa’ala berfirman:

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nisa: 23-24)

Dan juga dijelaskan dalam surah An Nur tentang relasi mahram, bahwasanya Allah Subhanahu waa’ala berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur: 31)

Pernikahan merupakan sunnah Rasul yang sangat dianjurkan. Selain sebagai penyempurna dari sebagian agama, pernikahan juga mampu menundukkan pandangan dari godaan hawa nafsu. Pernikahan merupakan ibadah dan akan lebih baik jika segera dilaksanakan bagi yang sudah mampu. Tentunya sebelum itu haruslah menentukan kriteria pasangan terlebih dahulu, terutama harus perlu diketahui hubungan mahram atau tidaknya calon pasangan. Sunguh hanya kepada Allah lah segala perasaan dan urusan hendak disandarkan.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Sering Sholat dengan Tergesa-Gesa, Perhatikan Hukum Ini!

 

Originally posted 2017-08-08 01:55:07.