Mau Makan yang Mendatangkan Pahala? Begini Caranya!

Sumber Foto Dari: www.top10indo.com

Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita bersikap dalam kehidupan yang sesuai dengan tuntunan dan ajaran manusia terbaik, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada contoh dan teladan sebaik beliau, dan tidak ada pula syariat yang diajarkan tanpa menghadirkan kemanfaatan.

Mengikuti apa-apa yang telah dicontohkan Nabi dalam setiap aspek kehidupan bukan hanya dapat menghadirkan pahala kebaikan, tetapi juga akan sangat bermanfaat bagi berlangsungnya kehidupan. Sebagaimana saat makan, aktivitas yang kita kerjakan rutin setiap hari, setidaknya 3 kali dalam 24 jam. Rasulullah menyarankan agar di setiap perbuatan yang kita lakukan dapat bernilai pahala di sisi Allah. Agar hendaknya di setiap waktu kita bisa sedikit demi sedikit mengumpulkan tabungan kebaikan.

Makan dalam Islam sesungguhnya bukan hanya difungsikan untuk memenuhi hawa nafsu. Perut yang diisi semestinya diniatkan sebagai ikhtiar untuk meneruskan kehidupan, sebagai bagian dari rasa syukur kita pada Allah. Sebagai bentuk dari bekal meningkatkan ketaatan kepada-Nya. Sebagai sebab tegaknya tulang punggung, agar lebih kuat beribadah pada Allah.

Jika dengan makan kita bisa menghadirkan pahala-pahala, mengapa tidak diupayakan. Rasulullah telah memberikan tuntunan, hanya sebagian manusia yang lalai mengamalkan. Bukankah jelas sudah tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr ayat 7, Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.”

Saat makan, setidaknya kita memahami dan mencoba mengamalkan adab-adab yang sudah diajarkan oleh baginda Rasulullah.

(1) Membacakan basmalah dan hamdalah. Makan adalah salah satu dari aktivitas yang penting posisinya dalam Islam. Sebab itulah agar terhindar dari terlibatnya syaitan, Rasulullah mengajarkan agar mendahulukan membacakan kalimat Allah dan mengakhirinya dengan kembali memuji Allah.

Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Jika seseorang di antara kamu hendak makan, maka sebutlah nama Allah SWT. Dan jika ia lupa menyebut nama-Nya pada awalnya, maka bacalah, ’Bismillahi awwalahu wa akhirahu’ (Dengan menyebut nama Allah SWT pada awalnya dan pada akhirnya).”

(2) Makan dengan tangan kanan. Makanlah dengan tangan kanan, sebab syaitan makan dengan tangan kirinya. Usahakanlah sebaik mungkin untuk makan dengan yang kanan, kecuali jika terdapat berbagai keterbatasan dan tidak memiliki pilihan selain tangan kiri. Lagi-lagi, hindari syaitan yang ikut memakan makanan yang disuapkan dengan tangan kiri. Dalam riwayat Muslim, jelas Rasulullah menyampaikan, Jika salah seorang diantaramu makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya dan jika ia minum maka hendaklah minum dengan tangan kanannya. Sebab syaitan itu makan dan minum dengan tangan kirinya.”

Selain sunnah, secara medis tangan kanan memiliki enzim lebih banyak, yang fungsinya membantu dalam proses pencernaan makanan.

Baca Juga: Ternyata Ada Umat Islam yang Kafir, Inilah Penyebabnya!

(3) Tidak bersandar ketika makan. Perilaku semacam ini sering ditemui pada manusia era kini. Budaya yang menurut mereka modern, gaya makan yang katanya ke Barat-Baratan ternyata berseberangan dengan yang diajarkan oleh Rasulullah. Bersandar saat makan bukan merupakan sesuatu yang disukai Rasulullah.

Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari, “Aku tidak makan dengan posisi bersandar (muttaki-an).”

(4) Menjilati tangan ketika makan tanpa sendok dan garpu. Bagi sebagian besar orang, adab ini mungkin menjijikan. Lihat saja betapa budaya kekinian telah mengubah paradigma syariat menjadi paradigma modernisasi. Tengoklah jika ada orang yang menjilati jari-jarinya setelah makan di tempat umum, pasti lingkungannya seperti menyoroti dan menilainya sebagai sesuatu yang tidak lazim. Padahal begitulah anjuran Rasulullah. Tersebab kita tidak mengetahui di mana letak keberkahan, maka hendaknyalah diikhtiarkan hingga sisa-sisa di jari tangan.

Sebagaimana tertuang jelas dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah, Jika salah seorang diantaramu makan, maka hendaklah ia menjilati jari-jemarinya, sebab ia tidak mengetahui dari jemari mana munculnya keberkahan.” 

(5) Tidak mencela makanan yang tidak disukai. Tidak perlu melihat orang lain, bahkan diri kita pun seringkali demikian. Ketika merasakan makanan yang tidak disukai, seketika kemudian mengomentari dengan kata-kata tidak baik. Sungguh yang demikian bukan ajaran baginda Nabi. Jika dihadapkan pada hidangan makanan yang rasanya tidak kita sukai, maka cukuplah diam. Jangan mencela meski memang tidak nyaman dimakan. Berhenti memakannya sudah sangat cukup, jangan imbuhi dengan perkataan yang jatuh kepada mencela-cela makanan.

Rasulullah dengan tegas mengingatkan dalam hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah tidak pernah sedikit pun mencela makanan. Bila beliau berselera, beliau memakannya. Dan jika beliau tidak menyukainya, maka beliau meninggalkannya.”

Demikianlah sedikit dari sekian banyak adab-adab yang bisa kita upayakan, agar di saat makan pun mampu mengikhtiarkan pahala-pahala kebaikan. Sebab mengikuti Rasulullah dan menegakkan sunnahnya, akan membawa kita pada golongan orang-orang yang kelak mendapat syafaatnya di hari perhitungan.

Baca Juga: Berhati-Hatilah! Ternyata Jin Suka Tinggal dan Makan di Rumah yang Begini!

Originally posted 2017-08-09 11:46:53.