Benarkah Tidak Boleh Memotong Kuku dan Mencukur Rambut Saat Haid?

Sumber Foto Dari : Google
HIJAZ.ID Haid merupakan keadaan yang fitrah dialami setiap wanita setiap bulannya. Proses haid ini terjadi karena dipengaruhi oleh hormon reproduksi yang mengakibatkan meluluhnya dinding rahim, maka keluarlah darah. Wanita yang mengalami menstruasi atau haid dalam Islam dilarangan melakukan shalat, menyetuh Al-Qur’an, duduk di masjid dan lain sebagainya. Pelarangan ini diberikan kepada setiap wanita yang sedang mengalami menstruasi, karena keluarnya darah dari tubuh seseorang dinilai berisifat najis, dan secara otomatis tubuh wanita itupun sedang keadaan najis.

Perbedaan pendapat ulama mengenai beberapa larangan wanita saat haid dalam Islam, menjadikan Islam penuh warna. Ummat menjadi lebih selektif dalam memilih hukum yang lebih ringan dan sesuai untuk mereka amalkan. Seperti perbedaan pendapat mengenai hal-hal yang membatalkan wudhu di kalangan Imam Madzhab. Imam Syafi’i berpendapat persetuhan kulit antara laki-laki dan perempuan itu membatalkan wudhu, sedangkan menurut Imam Hanafi bersentuhnya kulit laki-laki dan perempuan tersebut tidak membatalkan wudhu sama sekali. Hal ini kemudian menjadi rahmat bagi ummat Islam di Arab, Mekkah, mengambil pendapat Madzhab Hanafi karena kondisi alamnya. Begitu pula Indonesia memilih pendapat Imam Syafi’i karena kondisi alam Indonesia yang mudah didapati air untuk wudhu.

Baca Juga : Penting Untuk Para Muslimah! Membaca Al-Qur’an Dalam Keadaan Haid, Bolehkah?

Adapun perbedaan pendapat antara boleh atau tidaknya wanita yang sedang haid memotong kuku dan rambutnya secara sengaja. Perbedaan ini menjadi rahmat bagi ummat Islam untuk saling memahami dan menghargai pendapat orang lain. Pembahasan mengenai boleh atau tidak memotong kuku dan rambut saat haid akan dibahas di paragraf selanjutnya.

Ketika wanita sedang haid, gugurlah sebagian kewajibannya sebagai muslim untuk shalat, berpuasa, dan lain sebagainya. Namun, apa boleh wanita saat haid memotong kuku dan ramputnya?

Madzhab Syafi’i muta’akhirin (generasi belakang) berpendapat bahwa wanita dan laki-laki dalam keadaan junub (tidak suci) tidak diperbolehkan untuk memotong kuku dan rambut. Pendapat larangan memotong kuku dan rambut tersebut bersumber dari pernyataan Imam Al-Ghozali dalam kitab karangannya Ihya’ ‘ulum al-Din yang berpendapat:


قال فى الإحياء-أى إحياء علوم الدين للأمام الغزالى- لا ينبغى أن يحلق أو يقلم أو يستحد-يحلق عانته -أو يخرج دما ، أو يُبين -يقطع -من نفسه جزًا وهو جنب ، إذْ ترد سائر أجزائه فى الآخرة فيعود جنبا ، ويقال : إن كَل شعرة تطالبه بجنابتها .

Yang artinya; “ Dinyatakan dalam Al-Ihya’: Tidak semestinya memotong (rambut) atau menggunting kuku atau memotong ari-ari, atau mengeluarkan darah atau memotong sesuatu bagian tubuh dalam keadaan junub, mengingat seluruh anggota tubuh akan dikembalikan kepada tubuh seseorang. Sehingga (jika hal itu dilakukan) maka bagian yang terpotong tersebut kembali dalam keadaan junub. Dikatakan: setiap rambut dimintai pertanggung jawaban karena janabahnya.

Tidak semua Madzhab Syafi’i sependapat dengan Imam Ghazali, sebagaimana diisyaratkan dalam kitab I’anat Tholibin (1/96 Maktabah syamilah) dengan pernyataan:


وفي عود نحو الدم نظر، وكذا في غيره، لان العائد هو الاجزاء التي مات عليها.

“Tentang akan kembalinya (anggota tubuh) semisal darah, pendapat ini perlu diselidiki lagi. Demikian pula (bagian tubuh) yang lainnya. Karena (bagian tubuh) yang kembali (dibangkitkan bersama dengan pemilik bagian tubuh itu) adalah bagian-bagian tubuh yang pemilik tubuh itu mati bersamanya (ada pada saat kematian orang tersebut)”

Dijelaskan dalam hadits dari Aisyah ketika mengikuti haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, setelah sampai di Mekkah Aisyah mengalami haid. Maka Rasulullah bersabda;

…..دعي عمرتك وانقضي رأسك وامتشطي

“Tinggalkan umrahmu, lepas ikatan rambutmu dan ber-sisir-lah…” (HR. Bukhari 317 & Muslim 1211)

Berdasarkan hadits sahih tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Rasulullah tidak mengisyaratkan untuk menyimpan rambut rontok dan melarang potong kuku ketika haid. Rasulullah justru memerintahkan untuk menyisir rambutnya yang pasti akan ada rambut yang rontok.

Wallahu A’lam Bisshowab

Baca Juga : Penting Bagi Wanita Mengetahui Hukum Menutup dan Menampakan Wajah, Mana yang Benar?

Originally posted 2017-08-10 05:19:10.