Jika Merasa Ragu-Ragu, Apa yang Harus Dilakukan?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Dalam kehidupan ini, seringkali kita dihadapkan pada beberapa pilihan yang pada akhirnya memjebak kita pada perasaan ragu-ragu, antara memilih atau meninggalkan. Sebagi seorang muslim, dalam hal keragu-raguan, kita harus faham betul konsep dalam hal menanganinya. Karena, keragu-raguan datangnya daripada syaithan dan kita harus cepat dalam mengambil keputusan supaya tidak tergelincir dalam godaannya.

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal memaparkan perihal sikap ragu-ragu ini. Di antara maksud wara’ adalah memilih yang yakin dan meninggalkan yang ragu-ragu. Para ulama menyatakan bahwa wara’ adalah bagian dari ushul dan pokok agama kita. Di antara bentuk wara’ adalah meninggalkan hal yang meragukan. Sebagaimana ada hadits dari Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia menghafalkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perkataan berikut,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Tinggalkanlah segala yang meragukanmu dan ambillah yang tidak meragukanmu. Kejujuran akan mendatangkan ketenangan. Kedustaan akan mendatangkan kegelisahan.” (HR. Tirmidzi, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Baca Juga : Inilah Alasan Mengapa Islam Melarang Posisi Tidur Tengkurap

Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (3: 529) menyatakan bahwa yang dimaksud, tinggalkanlah yang meragukan, ragu apakah itu baik ataukah jelek, ragu apakah itu halal atau haram, pilihlah yang tidak meragukan yaitu yang diyakini baik dan halalnya.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari (4: 343) menyatakan makna hadits yaitu jika engkau ragu pada sesuatu, maka tinggalkanlah. Meninggalkan perkara yang masih ragu seperti ini termasuk dalam masalah wara’ yang cukup penting.

Seorang yang dikenal zuhud, Abu ‘Abdurrahman Al-‘Umari rahimahullah mengungkapkan bahwa seseorang disebut wara’ jika ia meninggalkan yang meragukannya dan ia pilih yang yakin yang tidak meragukannya.

Hasan bin Abi Sinan rahimahullah menyatakan bahwa tidak ada yang lebih ringan dari wara’, yaitu jika ada sesuatu yang meragukan, maka tinggalkanlah.

Al-Baghawi rahimahullah menyatakan bahwa perkara syubhat itu ada dua macam. Macam pertama, tidak diketahui dasar halal atau haramnya. Dalam hal ini bersikap wara’ yaitu meninggalkannya. Macam kedua, jika mengetahui dasar halal dan haramnya, maka ia harus  berpegang teguh pada hukum asal tersebut. Mengambil hukum tersebut tentu berdasarkan ilmu yang yakin.

Maka, berdasarkan uraian tersebut, sudah menjadi suatu keharusan ketika dihadapkan pada keragu-raguan, tinjau kembali dasar hukum daripada perkara yang sedang dihadapi tersebut.

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Perkara Ini Halal Namun Dibenci Allah Ta’alaa, Bagaimana Bisa?

Originally posted 2017-08-11 23:36:10.