Hati-Hati dengan Pandangan ini yang Berujung Zina Mata

Sumber foto dari www.ummi-online.com
HIJAZ.ID Mata meruapakan organ yang pertama kali menilai tentang orang lain secara fisik, lantas dari hal ini sering memunculkan penilaian suka atau tidak suka, terutama terhadap lawan jenis. Tak dapat dipungkiri setiap hari aktivitas seseorang selalu betemu dengan lawan jenis, tak dapat dipungkiri pula bahwa fitrah perasaan manusia terkadang timbul dari hasil penilaian pandangan tersebut. Pada hakikatnya rasa suka selalu diringi dengan perasaaan untuk ingin memandang atau dipandang. Lalu bagaimana hukum tentang pandangan menurut Islam? Yuk simak ulasannya.

Zina mata merupakan suatu keadaan jika seseorang melihat sesuatu yang dilarang dalam agama, salah satunya yaitu memandang lawan jenis sampai menimbulkan syahwat. Dalam suatu hadits Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wassalam bersabda:

Sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya” (HR. Al Bukhari 6243).

Hukum Laki-Laki Memandang Wanita Bukan Mahram

Dalam suatu ayat Al Quran, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An Nur: 30)

Dalam suatu hadits dijelaskan pula bahwasanya, Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wassalam bersabda:

Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2769, hasan).

Baca juga: Membunuh Semut, Islam Melarang?

Hukum Wanita Memandang Laki-Laki Bukan Mahram

Laki-laki haram dalam memandang perempuan dengan nafsu, begitu pula sebaliknya. Dalam suatu ayat Al Quran, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Katakanlah kepada perempuan yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.” (QS. An Nuur: 31).

Dalam suatu hadits juga dijelaskan, dalam Shahih Bukhari bahwa Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wassalam bersabda:

Rasulullah melihat orang-orang Habasyah sedang bermain tombak di masjid pada hari Id. ‘Aisyah Ummul Mu’minin juga melihat mereka dari balik tubuh Rasulullah. Rasulullah pun membentangkan sutrah agar mereka tidak melihat ‘Aisyah, sampai akhirnya ‘Aisyah bosan dan enggan melihat lagi” (Tafsir Ibnu Katsir).

Zina mata merupakan pandangan yang disertai dengan bayangan-bayangan nafsu sehingga hal tersebut sangat tidak diperkenankan. Ibnu Bathal menjelaskan:

“zina mata, yaitu melihat yang tidak berhak dilihat lebih dari pandangan pertama dalam rangka bernikmat-nikmat dan dengan syahwat, demikian juga zina lisan adalah berlezat-lezat dalam perkataan yang tidak halal untuk diucapkan, zina nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan. Semua ini disebut zina karena merupakan hal-hal yang mengantarkan pada zina dengan kemaluan.” (Syarh Shahih Al Bukhari, 9/23)

An Nusafi dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwasanya:

Jika wanita menundukkan pandangannya terhadap lelaki yang bukan mahram itu lebih utama. Karena didahulukannya penyebutan ‘menjaga pandangan’ daripada ‘menjaga farji’ karena pendangan itu surat menuju zina dan pemicu syahwat pada farji. Bibit hawa nafsu adalah mata yang berambisi”.

Dalam Majmu’ Fatawa Mar’ah Muslimah 2/973 juga dijelaskan tentang sebab zina mata adalah dari pandangan yang jatuh pada nafsu syahwat, yaitu bahwa karena para wanita itu berjalan di pasar-pasar dan melihat para lelaki walaupun mereka berhijab, sehingga mereka bisa melihat para lelaki sedangkan para lelaki tidak bisa melihat mereka. Namun syaratnya, tidak terdapat fitnah dan syahwat. Jika menimbulkan fitnah dan syahwat maka haram, baik lewat televisi maupun secara langsung.

Dengan demikian seorang musim hendaknya mampu menundukkan pandangan, karena bisikan setan bisa saja menjerumuskan dari sekedar berawal dari pandangan. Jika benar perasaan merupakan anugerah, mencintai adalah fitrah, maka prosesnya pun haruslah berkah tanpa zina yang rawan singgah. Hanya kepada-Nya lah perasaan hendak dijaga, sesuai kaidah-kaidah agama dan syariat-Nya.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Baca juga: Syafaat Pada Hari Kiamat dapat Diperoleh dengan Amalan ini!

Originally posted 2017-08-13 11:26:56.