Apa Hukum Merayakan 17 Agustus? Inilah Jawabannya!

Sumber Foto Dari : Google
HJAZ.ID Setelah lebih dari seratus tahun dijajah, Indonesia kini telah merdeka selama 72 tahun. Untuk merayakan kemerdekaan ataupun kemenangan Indonesia tersebut, sebagian besar warga negara Indonesia mengadakan berbagai macam perlombaan, dan hadiah-hadiah untuk berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai para lansia juga ada yang mengikuti lomba tersebut. Sebagian besar penduduk Indonesia yang beragama Islam pun turut serta dalam lomba tersebut.

Adapun hukum merayakan kemerdekaan negara dengan bersenang-senang dalam lomba menurut Islam, pada dasarnya menurut Syaikh Dr Khalid Mushlih, murid dan menantu Ibnu Utsaimin, ada dua pendapat ulama dalam hal ini.

Sebagian ulama berpendapat bahwa perayaan kemerdekaan merupakan kegiatan yang tidak berkaitan dengan ritual/ ibadah, oleh karena itu pada dasarnya perayaan kemerdekaan ini diperbolehkan atau mubah. Mengingat tradisi dan budaya yang sudah berkembang luas tentang kegiatan merayakan kemerdekaan dengan bergembira sebagai ekspresi mengucap syukur atas kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga : Orangtua Susah Dinasehati, Bagaimana Solusinya Menurut Islam?

Buya Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah tidak memperkenankan ummat Islam untuk merayakan kemerdekaan dengan bersenang-senang, dan tidak melarang untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Maka Buya Yahya berpendapat bahwa untuk mengekspresikan rasa syukur kemerdekaan Indonesia dengan cara mendo’akan para pejuang, mengadakan lomba-lomba yang lebih bermanfaat seperti lomba menghafal Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Karena kemerdekaan menurut pengasuh Ponpes Al-Bahjah ini merupakan kemerdekaan untuk sebebas-bebasnya berkreasi dalam hal positif.

Sebagian ulama yang lain berbeda pendapat dan mengatakan bahwa merayakan itu adalah ied, sedangkan hukum asal ied itu haram. Hal ini berlandaskan pada hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang artinya:

“Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau bersabda, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha (Hari Nahr).” (HR. An-Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178)

Menurut sebagian ulama berdasarkan hadits tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak boleh menentukan hari tertentu dalam satu tahun untuk diisi dengan acara bersenang-senang dan main-main, karena terdapat banyak mudorot di dalamnya, serta sesuatu yang telah diganti itu semestinya ditinggalkan dan tidak boleh diambil.

Perbedaan pendapat tersebut merupakan rahmat bagi ummat Islam, karena dengan hal tersebut boleh ummat Islam mengambil pendapat yang pertama dan boleh pula mengambil pendapat yang kedua. Karena keduanya memiliki rujukannya masing-masing, dengan merujuk pada imam ulama yang dapat mempertanggung jawabkannya kelak di akhirat.

Wallahu A’lam Bisshowab

Baca Juga : Kecelakaan dan Penyesalan Bagi Orang yang Tidak Pandai Memilih Teman dalam Bergaul

Originally posted 2017-08-15 00:20:35.