Hati-Hati, Beberapa Dosa Besar Banyak Dilakukan Tanpa Sadar!

Sumber Foto Dari: www.ummi-online.com

HIJAZ.ID – Betapa berkali-kali Allah dan Rasulul-Nya mengingatkan kita agar terus belajar memperkaya ilmu dengan kajian dan pendidikan. Sebab ilmu dalam kehidupan seperti darah di dalam tubuh manusia. Baik tidaknya amalan, bernilai atau tidaknya sangat tergantung pada pengetahuan manusia tentang ajaran yang dituntunkan. Terselip sedikit saja hal-hal yang tidak ada dalam anjuran dan pedoman, maka jelas tertolak dan bahkan justeru dapat menjerumuskan manusia pada dosa dan siksa.

Maka belajar dan memperdalam ilmu-ilmu, khususnya yang erat kaitannya dengan perkara agama sangat difardhukan. Agar setiap kita mampu menakar, seberapa banyak bekal yang sekiranya sudah dikumpulkan, dan seberapa banyak dosa yang masih sulit ditinggalkan.

Sebab dalam keseharian, ada dosa-dosa yang tanpa manusia sadari terus dikerjakan. Mungkin karena tidak mengetahui, atau sudah terlalu nyaman hingga sulit meninggalkan. Demikianlah kerja syaitan, selalu berupaya keras mempengaruhi manusia agar merasakan kenyamanan pada apa-apa yang dilarang. Hingga manusia lupa jika yang terbaik bukanlah yang sedang diambilnya. Bahwa sesungguhnya sebaik-baik perkara ialah yang sesuai dengan kehendak Allah, meski mungkin tidak mudah dilakukan.

Ada saja dosa-dosa yang tergolong besar dan dekat dengan keseharian manusia. Maka mulailah menyadari, bahwa betapa pun nikmatnya dunia, ia akan berbatas waktu. Sebagian dari yang sementara memang begitu nikmatnya, tapi membuka peluang pada jauhnya kita dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka berhati-hatilah pada dosa, sebab sebesar biji sawi pun kelak akan mendapat balasan di hari kemudian.

1) Riba. Tidak perlu dipungkiri, begitu banyak mewabah di masyarakat kita, baik desa maupun kota. Fenomena pinjaman uang untuk kebutuhan sehari-harii atau modal usaha yang berbasis pada bunga. Sejumlah pinjaman yang diberikan, dan disyaratkan untuk mengembalikannya dengan jumlah yang sudah ditambahkan dengan bunga. Pekerjaan rentenir seperti peluang yang banyak orang tertarik menggelutinya. Padahal betapa Allah mengancam dengan seberat-beratnya ancaman. Tidak ada di dalam Al-Qur’an, ayat yang berisi ancaman bagi pelakunya dengan ancaman Allah yang akan langsung memeranginya, selain pelanggar shalat dan pelaku riba.

Bukan hanya bagi yang memberikan pinjaman, bagi si peminjam pun demikian. Dosa riba akan merata bagi siapa saja yang terjerumus atau terlibat di dalam transaksinya. Betapa Rasulullah menggambarkan, bahwa sekecil-kecilnya dosa riba ialah setara dengan menyetubuhi ibu kandung sendiri. Sebab ada 73 pintu dosa riba, dan yang terkecil sudah setara demikian itu. Bisa dibayangkan betapa besarnya dosa 72 pintu lainnya. Sungguh Allah akan melaknat pelaku riba kelak di akhirat, mereka akan berdiri sebagaimana berdirinya orang gila.

Baca Juga: Tidur Saat Shalat Jum’at? Bagaimana Hukum dan Apa Solusinya?

2) Riya. Makna sederhana dari riya yang dekat dengan keseharian manusia jaman ini adalah pamer. Menunjukkan pada orang apa-apa yang sedang dialami atau didapatkan, dengan berharap akan mendapat pujian-pujian dari sesama manusia. Terkhusus pada perkara-perkara ibadah. Sungguh berbuat riya atau memamerkan ibadah hanya akan membuatnya tak bernilai, sia-sia. Sebagaimana api yang membakar kayu menjadi abu. Di sisi manusia, mungkin pujian akan dengan mudah didapatkan. Tetapi di sisi Allah, ia hanya akan menjadi abu-abu yang tak sama sekali bernilai.

Bahkan bukan hanya tak bernilai, perilaku riya justeru bisa menjadi penyebab seorang manusia terjerumus ke dalam neraka-Nya. Sebab ada hasrat hati untuk tidak semata-mata beribadah karena Allah. Tidak menujukan penghambaan untuk semata-mata mendapat ridha Allah. Tidak menyadari jika sebaik-baik ganjaran ialah dari Allah.

3) Menyakiti tetangga. Menjalin silaturahim adalah perintah yang keutamananya sama dengan mengerjakan ibadah vertikal dengan Allah. Meski hari-hari ini, banyak dari kita yang lupa bahkan lalai, atau dengan sengaja mengabaikan. Sibuk pada urusan pribadinya, hingga lupa bahwa ada manusia di sebelah rumah yang perlu di sapa dan ditenun hubungan silaturahminya.

Pada sebagian yang lain jutsru dengan sengaja memutuskan hubungan dengan tetangganya tersebab perkara-perkara sederhana. Tidakkah kita menyadari sebuah teguran Rasulullah dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” 

Dalam penjelasan di hadist lain, bahwa tidak akan masuk surga pemutus, yakni pemutus tali silaturahmi. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap manusia untuk menjaga hubungannya pada sesama manusia. Menjaga perilaku dan adabnya agar tidak menyakitkan hati saudaranya. Agar tidak merusak hubungannya dengan tetangganya. Sebab kesalahan pada sesama manusia harus dimohonkan ampunanya pada sesama manusia pula. Teramat berat ancaman bagi siapa saja yang menutuskan tali silaturahmi, hingga baginda Nabi menegaskannya dengan kalimat “tidak ada surga.”

Baca Juga: Siapa Sangka, Ternyata Amalan-Amalan Sederhana Ini Pembuka Jalan Menuju Surga!

Originally posted 2017-08-18 23:51:35.