Tidak Wajib Melaksanakan Shalat Fardhu Bagi Orang-Orang Yang Begini!

Sumber Foto Dari: ayoshalat.blogspot.co.id

HIJAZ.ID – Secara umum, tidak ada yang bisa membantah jika perintah melaksanakan shalat fadhu ialah wajib. Tanpa ada keraguan sedikit pun, setiap muslim sudah seharusnya menjalankan. Meninggalkan berarti dosa, bahkan bila dengan sengaja melalaikan dapat tergolong dalam definisi kufur pada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tidak ada satu alasan pun yang bisa menggugurkan kewajiban shalat, hingga usia benar-benar dicukupkan untuk pulang menghadap Allah. Sebab ianya adalah kunci agama, pedoman bagi kehidupan seorang manusia. Dengan shalat yang benar, akan berdampak pada perilaku keseharian. Dengan shalat yang khusyu’, akan mengalir jauh ke dalam hati yang tergambar pada mulianya aklak dan indahnya pembawaan.

Meski hukum asalnya adalah wajib, tetapi dengan ke-Maha Pemurahnya Allah memberikan kelapangan pada agama ini. Allah dengan Kebesaran-Nya memberikan kemudahan-kemudahan bagi hamba dalam menjalankan perintah-perintah agama. Ada sekian banyak keringanan, meski banyak pula manusia yang masih merasa keberatan. Ada berlipat kemudahan, meski berkali lipat manusia yang masih merasa kesulitan.

Ada pula sebagian manusia yang memudah-mudahkan. Mengambil yang paling mudah, meski terkadang keluar dari ketentuan. Meninggalkan yang dirasa sulit, padahal di dalamnya terkandung banyak kesempatan mengumpulkan bekal. Kesadaran manusia untuk mengabdi dengan kemampuan terbaik masih dalam terperosok. Jauh tertinggal dari kesadaran manusia akan pentingnya kehidupan dunia. Tidak malukah kita telah diberi kesempatan sekian puluh tahun, tapi ibadah masih begini-begini saja? Tidak ada peningkatan bahkan cenderung mengalami kemunduran?

Betapa Maha Bijaksananya Allah, meski menyembah-Nya adalah wajib yang tidak bisa ditawar lagi, tetapi Allah masih membukakan pintu-pintu keringanan. Dia membolehkan pada setiap hamba untuk tidak shalat. Allah mencabut kewajiban menjalankan shalat pada orang-orang yang sedang berada pada beberapa kondisi. Ialah tidur hingga terbangun, anak kecil hingga sampai dewasanya dan gila hingga tiba sadarnya.

Sebagaimana tertuang dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dan dishahihkan sanadnya oleh Syaikh Al-Albani, Pena diangkat dari tiga orang: orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia dewasa dan orang gila sampai ia sadar.

Baca Juga: Tidur Saat Shalat Jum’at? Bagaimana Hukum dan Apa Solusinya?

1) Tidur hingga terbangunShalat tidak menjadi wajib bagi orang-orang yang dalam keadaan tidur. Semisal tiba waktu shalat dan di antara kita ada yang tertidur, maka tidak wajib shalat baginya. Kewajiban menjalankan shalat akan kembali setelah ia terbangun dari tidurnya. Seketika itu pulalah sewajibnya ia mendirikan shalat yang tertinggal sebab tidurnya.

Perlu diperhatikan, pada kondisi tidur ini ialah sama sekali tidak sadar bila tiba waktu shalat. Sebab ada sebagian manusia, mungkin kita di antaranya yang meski sadar azan berkumandang, memilih untuk meneruskan tidur hingga terlewat waktu shalat. Sadarilah jika syaitan sedang bekerja meniupkan tipu daya. Menggoda agar kita terus tertidur dan kehilangan banyak keutamaan shalat, ialah berjamaah di masjid dan melaksanakannya di awal waktu.

Sebab itu di saat subuh, muadzin selalu mengingatkan bila shalat lebih baik daripada tidur. Pada saat yang sama syaitan terus berusaha agar mata dan telinga kita mengabaikan. Karenanya, bila sadar tiba waktu shalat, maka segerakanlah bangkit dan memohon perlindungan Allah. Jangan biarkan syaitan merasa bangga sebab kita menjadi korban tipu daya dan godanya.

2) Anak kecil hingga sampai dewasanya. Tidak ada kewajiban shalat bagi seorang anak yang belum tiba masa balighnya. Ia terbebas dari perintah dan kewajiban-kewajiban. Karenanya tidak ada dosa baginya bila dengan sengaja meninggalkan. Di masa-masa ini, Allah memberikan kesempatan bagi seorang anak untuk mendapat pelajaran dari orang tuanya. Agar ayah dan ibunya mendidik dan memberikan pemahaman. Hingga kelak sesaat setelah tiba masa balighnya, si anak sudah dengan sadar taat dan patuh pada kewajibannya. Menjalankan perintah serta menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya.

3) Orang gila hingga tiba sadarnya. Betapa Maha Pemurahnya Allah, Dia meringankan kewajiban menjalankan shalat bagi orang-orang yang diberikan ujian hilangnya kesadaran berpikir. Allah cabut tuntutan-Nya pada mereka yang dilanda penyakit gila. Termasuk untuk menjalankan kewajiban menegakkan tiang agama.

Maka selain daripada ketiga keadaan manusia di atas, tidak pernah ada alasan yang dapat meringankan kewajiban shalat. Sungguh jika kita benar menyadari, shalat bukanlah lagi sebagai sebuah tuntunan yang memberatkan. Ia adalah kenikmatan. Ia adalah kebutuhan. Sebagaimana makan, sebagaimana kenikmatan-kenikmatan dunia lainnya. Sebagaimana Rasulullah yang selalu rindu pada waktu-waktu shalat.

Baca Juga: Inilah 3 Waktu Mustajab Untuk Berdo’a!

 

 

 

Originally posted 2017-08-21 05:37:15.