Tepuk Tangan, Perbuatan Jahiliyah yang Diharamkan?

Sumber foto dari kampungbaca.com
HIJAZ.ID Al Quran dan hadits merupakan sumber hukum dalam Islam yang mana di dalamnya terdapat kaidah-kaidah yang mengatur setiap perbuatan. Dengan dasar kaidah-kaidah itulah yang menjadi acuan bagi setiap muslim dan muslimah dalam bertindak. Tepuk tangan, merupakan hal yang sudah dianggap biasa dilakukan, di berbagai kesempatan acara bahkan terkadang di dalam konteks pengajian sekalipun. Dari tujuan memberi pujian atau sekedar besenda gurau. Lantas bagaimana dengan hukum bertepuk tangan menurut Islam? Apakah menyamai dengan perbuatan jahiliyah yang diharamkan? Simak ulasannya berikut ini.

Terkait dengan hukum tepuk tangan, telah dijelaskan dalam Al Quran surah Al Anfal yaitu kebiasaan tersebut merupakan kebiasan orang jahiliyah, bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Sholat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan”. (QS. Al Anfal:35)
Hukum tentang kebiasaan bertepuk tangan juga dijelaskan oleh Imam Ash Shan’ani bahwasanya:

“Ada pun menari dan bertepuk tangan, itu adalah perbuatan ahli kefasikan.” (Subulus Salam, 2/192)

Syaikh Abdurrahman As Si’di menyebutkan terkait hukum tepuk tangan:

“Yang dimaksud muka-an dan’tashdiyatan’ pada ayat ini ialah bersiul dan bertepuk tangan. Kedua perbuatan ini merupakan perbuatan yang teramat jahil…” (Taisir Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman As-Si’di).

Dalam Suatu hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban)

Karena kebiasaan bertepuk tangan bukanlah kebiasaan orang muslim, maka takbir lah yang  dianjurkan untuk dilakukan oleh orang muslim. Syaikh Abdullah Al-Bassam mengatakan:

“Oleh karena itu saya tegaskan kepada semua kaum muslimin agar mereka membiasakan takbir ketika ada sesuatu yang mengagumkan, dan itulah sunah nabi mereka, bukan dengan bertepuk tangan yang merupakan budaya musuh-musuh kita yang memasuki budaya kita, khususnya dalam acara pertemuan dan muktamar.” (Taisir Al-‘Alam Syarh ‘Umdatil Ahkam, 1/258)

Baca Juga: Berucap Sumpah Meskipun Dalam Bercanda, Haramkah?

Terdapat suatu pernyataan ulama bahwa  tepuk tangan untuk ritual ibadah maka hukumnya haram, sebagai hiburan maka dihukumi haram namun juga ada yang menghukumi makruh, namun jika anak kecil yang melakukan untuk menumbuhkan semangat maka dihukumi mubah. Dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Al-Makki Rahimahullah ulama madzhab Syafi’I bahwasanya:

“Dalam fatwa-fatwa Imam Ar-Ramli, Beliau ditanya tentang bertepuk tangan di luar shalat tanpa adanya kebutuhan. Beliau menjawab: jika seorang laki-laki bermaksud dengan tepuk tangannya itu adalah untuk senda gurau atau menyerupai wanita maka itu diharamkan, jika bukan karena itu, maka itu makruh.” (Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, 2/150)

Berkaitan dengan tepuk tangan, terdapat konteks yang memperbolehkan, yaitu untuk memperingatkan imam yang salah saat sholat, dan tepuk tangan dilakukan oleh makmum perempuan, sedangkan bagi laki-laki adalah bertasbih. Dalam suatu hadits dijelaskan bahwasanya:
Barangsiapa menjadi makmum lalu merasa ada kekeliruan dalam shalat, hendaklah dia membaca tasbih. Karena jika dibacakan tasbih, dia (imam) akan memperhatikannya. Sedangkan tepukan khusus untuk wanita.” (HR. Bukhari No. 7190 dan Muslim No. 421)
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah juga menyebutkan bahwasanya:

“Dibolehkan bagi laki-laki bertasbih dan bertepuk tangan bagi wanita, jika ada hal yang membuatnya tidak nyaman seperti: mengingatkan imam ketika berbuat kesalahan, memberi izin kepada orang yang akan masuk, atau memandu orang buta atau yang semisalnya.” (Fiqhus Sunnah,1/264)

Namun menurut Imam Malik ketentaun perempuan atau laki-laki sama saja yaitu dengan bertasbih, yaitu tasbih. Bahwasanya:

Imam Malik berkata: yang disyariatkan adalah yang mesti dilakukan oleh kaum laki-laki dan wanita semuanya adalah bertasbih, bukan bertepuk tangan. (Mir’ah Al Mafatih, 3/358)

Terdapat cara yang banyak dalam memberi pujian kepda seseorang, pun terdapat banyak cara pula dalam mengagumi dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam, sesuai sunnah yang telah dianjurkan. Maka akan lebih baik jika menggunakan kebiasaan muslim yang sesungguhnya, karena selain menerapkan syariat, di dalamnya tentu terdapat kebaikan dan pahala yang berlimpah.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Membagikan Daging Kurban, Sebaiknya Mentah atau Matang?

Originally posted 2017-08-21 08:36:53.