Inilah 4 Tanda Orang Yang Shalatnya Diterima, Sudahkah Kita Termasuk di antaranya?

Sumber Foto Dari: embunkgs.blogspot.co.id

HIJAZ.ID – Sebagai manusia yang tiada daya dan upaya selain hanya berharap pada belas kasih Allah, tugas kita hanya terus berusaha memperbaiki diri, menyempurnakan penghambaan. Terus belajar agar apa-apa yang dikerjakan sesuai dengan yang diperintahkan dan dicontohkan baginda Nabi. Hingga berharap kuat agar di setiap tetes keringat bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, telah sempurna pedoman yang mestinya setiap manusia mempelajari. Agar setiap laku dan perbuatan semasa hidup sesuai dengan apa-apa yang telah dituntunkan, tidak melanggap apa-apa yang telah ditentukan pelarangannya. Terlebih lagi yang berkaitan dengan ibadah fardhu, yang sedari awal hingga akhirnya telah diajarkan oleh baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara ibadah fardhu yang jelas tuntunannya ialah shalat. Rasulullah telah memberikan teladan dan pedoman, bagaimana ibadah shalat yang benar dan sesuai dengan tuntunan Islam. Hingga suatu ketika beliau menegur seorang sahabat selepas shalatnya. Rasulullah memintanya untuk kembali mengulangi hingga tiga kali. Tak kuasa menghadirkan yang lebih baik dari yang dikerjakan, sahabat tersebut menyerah dan memohon petunjuk pada Rasulullah. Kemudian turunlah riwayat yang tertuang dalam sebuah hadist, shalatlah kamu sebagaimana Aku (Rasulullah) mengerjakan shalat.

Tersebab itulah, mengapa penting bagi kita untuk terus belajar dan sedikit demi sedikit menyempurnakan ibadah shalat. Sebab shalat yang tidak dilaksanakan sesuai tuntunan Nabi, terancam pada tidak diterimanya amalan dan menjadi sia-sia di sisi Allah. Sebagaimana peringatan Rasulullah yang tertuang dalam sebuah hadist, ” Pada hari kiamat nanti ada orang yang membawa shalatnya kepada Allah SWT. Kemudian dia mempersembahkan shalatnya kepada Allah SWT. Lalu shalatnya dilipat-lipat seperti dilipatnya pakaian yang kumal, kemudian dibantingkan ke wajahnya. Allah tidak menerima shalatnya.”

Tersebab shalat merupakan ibadah pokok yang berpengaruh pada banyak aspek kehidupan manusia, maka ukuran diterima atau tidaknya shalat yang sudah  dikerjakan bisa dilihat dari kualitas pribadi seseorang. Bila baik shalatnya, maka akan menjadi baik pula sisi kehidupan lain. Begitu pula jika buruk shalatnya, maka nilai-nilai Islam tidak akan benar terpancar di dalam diri dan pribadinya.

Baca Juga: Inilah 3 Waktu Mustajab Untuk Berdo’a!

Dalam sebuah hadist Qudsi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat orang-orang yang merendahkan dirinya-karena kebesaran-Ku, menahan dirinya dari hawa napsu karena Aku, yang mengisi sebagian waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, yang melazimkan hatinya untuk takut kepada-Ku, yang tidak sombong terhadap makhluk-Ku, yang memberi makan pada orang yang lapar, yang memberi pakaian pada orang yang telanjang, yang menyayangi orang yang terkena musibah, yang memberikan perlindungan kepada orang yang terasing.

Kelak cahaya orang itu akan bersinar seperti cahaya matahari. Aku akan berikan cahaya ketika dia kegelapan. Aku akan berikan ilmu ketika dia tidak tahu. Aku akan lindungi dia dengan kebesaran-Ku. Aku akan suruh Malaikat menjaganya. Kalau dia berdoa kepada-Ku, Aku akan segera menjawabnya. Kalau dia meminta kepada-Ku, Aku akan segera memenuhi permintaannya. Perumpaannya dihadapan-Ku seperti perumpamaan syurga Firdaus”.

1) Merendahkan diri, tawadhu. Shalat menjadi media bagi seorang manusia untuk menyadari rendah dan kecilnya ia di sisi Allah. Siapa pun ia, apa pun kedudukannya akan baris pada shaf yang sama, dan merekatkan dahi pada bumi yang sama. Dengan rela menyandarkan kepala tepat di belakang kaki saudaranya. Berdiri serupa barisan, di pimpin oleh satu orang imam. Sungguh tiada lagi perihal dunia yang menjadi pembeda, siapa kita saat menjalankan shalat berjamaah. Setiap manusia disamakan oleh rendahnya kedudukan, kecilnya kekuatan. Hanya nilai ketaatan yang kelak membedakan, dan pembedanya mutlak kuasa Allah tanpa seorang manusia pun mengetahui.

Para ulama mengatakan, “Kalau kita sudah berdiri di atas sajadah, sudah mengangkat tangan untuk takbir, ketahuilah bahwa kita sudah meninggalkan dunia ini, sudah meninggalkan Moskow atau Jakarta, sudah meninggalkan planet bumi ini, sudah Mi’raj menghadap Allah SWT. Seperti Rasulullah, kita sudah berada di Sidratul Muntaha”

Suatu ketika seseorang melihat Imam Ali Zainal Abidin sedang mengambil wudhu dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Saat ditanyakan kepadanya, “Wahai Imam, apa yang sedang terjadi padamu?” Imam Ali Zainal Abidin menjawab, “Engkau tidak mengetahui di hadapan siapa sebentar lagi aku berdiri?”

2) Menahan nafsu. Orang yang baik shalatnya, akan dapat mengendalikan hawa nafsunya untuk taat pada perintah dan larangan Allah. Dan itulah salah satu tanda diterimanya ibadah shalat. Sebab hawa nafsu yang ada pada diri semua manusia cenderung akan mengarahkan pada hal-hal yang bertentangan dengan apa-apa yang diperintahkan Allah. Tidak terkecuali godaan untuk ingkar dan lalai melaksanakan shalat.

Maka bagi siapa pun yang dengan shalat masih terus bermasalah dan tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya, ada yang semestinya diperbaiki dari caranya mengerjakan shalat. Sebagaimana tertuang dalam hadist Rasulullah, Ada orang yang diistimewakan Allah, dilindungi khusus sebagai orang-orang penting pada hari kiamat. Salah satunya adalah orang yang diajak kencan oleh seorang perempuan yang cantik, yang mempunyai pangkat yang tinggi, tapi dia menolaknya, seraya berkata,’Aku takut kepada Allah’. Itulah contoh orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya.”

3) Senantiasa memperbanyak dzikir kepada Allah. Tiada amalan yang utama dan lebih mudah dari senantiasa mengingat Allah. Di setiap perputaran waktu, di setiap pergeseran tempat, bahwa mengingat Sang Maha Kuasa ialah bentuk dari terpancarnya keimanan. Tidak ada yang patut diingat kecuali Allah, dan tidak ada yang patut dimintai perlindungan selain Rabbul ‘Alamin.

Tiada Tuhan melainkan Dia, tiada pula yang patut disembah kecuali Dia. Sebagai manusia sudah sewajibnya kita selalu berterima kasih pada Allah atas semua kenikmatan tiada tara, semua kemudahan tak terhitung. Setiap anugerah yang tak terkira jumlahnya. Bahwa hanya kepadanyalah tempat kita berasal dan mengembalikan segala sesuatu, urusan, persoalan, masalah dan ujian. Sadarilah sedini mungkin, bahwa kelak ruh kita pun akan diminta kembali ke peraduannya. Jasad akan dikembalikan ke dzat penciptaannya.

4) Meningkatnya solidaritas sesama manusia. Jelas dalam hampir semua ayat di Al-Qur’an, perintah shalat disandingkan dengan perintah menunaikan zakat. “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Makna dari bersandingnya dua perintah tersebut ialah, bahwa selain diwajibkan untuk menjalankan ibadah vertikal kepada Allah, setiap manusia juga sewajibnya sama-sama mengutamakan kualitas ibadah horizontalnya pada sesama manusia. Peduli pada yang lemah, sadar bahwa pada sebagian harta terdapat hak-hak orang lain.

Tumbuhkan kepedulian untuk senantiasa bersemangat membantu orang lain. Bukankah dalam sebuah hadist, Rasulullah menerangkan bahwa Allah akan memudahkan bagi siapa pun yang bersedia memudahkan urusan saudaranya? Bukankah menjaga hubungan baik pada sesama manusia dijanjikan pahala teramat istimewa?

Maka sudah sepatutnyalah, bagi orang-orang yang baik dan benar shalatnya, nilai-nilai dari shalat itu akan ditancapkan oleh Allah di dalam dirinya. Hingga terpancar pada tiap-tiap laku dan perbuatannya. Sebab itulah, keindahan Islam bukan hanya sebatas pengucapan lisan, tergambar lewat paras dan penampilan. Jauh daripada itu, keistimewaan Islam akan terlihat jelas pada setiap yang keluar dari lisan penganutnya, pada setiap yang dilakukan pemeluknya. Islam terletak pada hati, yang kemudian terpancar melalui adab dan kepribadian seorang manusia.

Baca Juga: Tidak Wajib Melaksanakan Shalat Fardhu Bagi Orang-Orang Yang Begini!

 

 

 

Originally posted 2017-08-21 11:25:42.