Perhatikan Hukum Terkait Makan di Dalam Masjid!

Sumber foto dari islamiclandmarks.com
HIJAZ.ID Saat ini masjid bukan hanya sekedar tempat beribadah, namun juga dijadikan objek lainnya, seperti objek pariwisata, musyawarah, atau bahkan tempat berkumpul untuk makan bersama, misalnya pada saat buka bersama ketika Ramadhan. Juga seringkali masjid digunakan sebgai tempat singgah musafir dan melakukan aktivitas makan ditempat tersebut. Lantas bagaimana dengan hukum makan di dalam masjid? Apakah diperbolehkan? Berikut simak ulasannya.

Mengenai hukum makan di dalam masjid terdapat perbedaan antara beberapa madzhab. Ada yang memperbolehkan, ada yang memperbolehkan asalkan makanan ringan, adapula yang memakruhkan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Sahabat Abdullah bin Harits Az-Zubaidi mengatakan:

Di zaman Nabi Kami makan roti dan daging di dalam masjid. (HR. Ibnu Majah 3425, dan dishahihkan al-Albani)

Menurut ulama madzhab syafi’i, An-Nawawi  beliau berkata:

”Tidak mengapa makan dan minum di masjid, meletakkan makanan di masjid, dan mencuci tangan di masjid.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 2/174).

An-Nawawi mengatakan pula bahwasanya:

“As-Syafi’i dan para ulama syafi’iyah mengatakan, boleh bagi orang yang I’tikaf atau yang lainnya untuk makan, minum, dan membawa makanan di masjid. Demikian pula cuci tangan di masjid, selama kotorannya tidak mengganggu orang lain. Jika cuci tangan dilakukan di wadah, itu lebih bagus…. Para ulama syafi’iyah mengatakan, “Dianjurkan bagi orang yang makan untuk memasang alas atau semacamnya agar lebih menjaga kebersihan masjid.” (al-Majmu’, 6/534).

Baca Juga: Allah Akan Meninggikan Derajat & Para Malaikat Menaungi dengan Sayapnya Bagi Orang yang Melakukan Hal Sederhana ini!

Berdasarkan pendapat ulama madzhab hambali, Al-Buhuti, beliau mengatakan:

”Tidak masalah makan di dalamnya, yaitu di masjid, bagi orang yang i’tikaf dan yang lainnya. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Harits Radhiyallahu ‘anhu, ’Kami makan roti dan daging di dalam masjid, di zaman Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam.” (HR. Ibnu Majah), (Kasyaf al-Qana’, 2/371)

Sedangkan berdasarkan pendapat ulama madzhab Maliki, Imam Al-Baji, beliau mengatakan:

“Makan di masjid, dijelaskan dalam kitab al-Mabsuth, bahwa Imam Malik membenci makan daging atau semacamnya di masjid. Ibnul Qosim menambahkan dalam al-Uthbiyah: ’Termasuk juga makan di teras masjid. Sedangkan orang yang puasa, yang dia diberi Sawiq (adonan kurma dan tepung) atau semacamnya, atau semua makanan ringan, hukumnya tidak masalah.” (Al-Muntaqa Syarh Al-Muwatha, 1/311).

Berkaitan dengan makan yaitu khususnya makan bawang, terdapat hadits shahih yang menjelaskannya, yaitu bahwasanya dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

”Siapa yang makan bawang harus menjauhi kami atau menjauhi masjid kami. Dan hendaklah dia duduk di rumahnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Allah tidak mempersulit hamba-Nya, termasuk juga tentang kaidah makan. Meskipun demikian, terdapat adab makan yang patut dipahami oleh setiap muslim. Berkaitan dengan makan di dalam masjid, meskipun terdapat pendapat yang memperbolehkan namun akan lebih baik jika meskipun melakukan aktivitas makan  tetap memperhatikan kebersihan masjid sebgai tempat ibadah.

Wallahu A;lam Bisshawab

Baca Juga: Surah At-Taubah, Satu-Satunya Surah Al Quran Tanpa Bacaan Basmalah, Mengapa Demikian?

Originally posted 2017-08-22 13:48:23.