Siapakah yang Paling Bernilai di antara Kita?

Sumber Foto Dari: habiball.blogspot.co.id

HIJAZ.ID – Sifat dasar kebanyakan manusia teramat suka membandingkan, antara dirinya dengan manusia sekitarnya. Utamanya terhadap hal-hal yang erat dengan ukuran keduniaan, harta benda, derajat kedudukan, tahta kesukuan. Tidak jarang di antara manusia, bahkan salah satunya kita, merasa lebih baik dan lebih mulia dari manusia lain hanya tersebab perbedaan warna kulit, perbedaan suku dan budaya, perbedaan kepemilikan harta benda.

Sungguh sangat sulit memang menghindarkan perbandingan yang berujung pada munculnya kesombongan. Selalu ada saja sebab-sebab yang sesekali meracuni hati kita, hingga merasa lebih dari orang lain. Bukankah tidak ada sikap hati yang lebih berbahaya dari merasa lebih tinggi? Bukankah agama mengajarkan untuk rendah diri dalam keadaan apa pun? Bukankah semakin bertaqwa seorang manusia semakin merunduk bagai butir-butir padi yang tua di tangkainya?

Mengapa banyak manusia merasa lebih bernilai hanya tersebab ukuran-ukuran duniawi? Yang sebagian dari mereka justeru melupakan hakikat ukuran sesungguhnya. Apa gunanya harta benda, jika ianya tidak semakin mendekatkan kita pada Allah? Apa hakikat kedudukan jika adanya tidak justeru membuat kita takut pada perbuatan dosa? Apa inti dari ketaatan jika hadirnya tidak menjadikan kita semakin merunduk?

Baca Juga: Inilah 4 Tanda Orang Yang Shalatnya Diterima, Sudahkah Kita Termasuk di antaranya?

Dalam pandangan manusia, yang sejatinya hanya mampu mengukur sebatas penalaran fana, manusia bernilai ialah yang jaya hidup di dunia. Mereka yang berlimpah ruah harta, mereka yang sukses meraih tahta, mereka yang hidup dalam kegemilangan berkuasa. Tetapi sungguh semua itu tidak sama sekali bernilai di sisi Allah, bila tidak digunakan untuk mendapatkan ridha Allah. Tidak sedikit manusia yang tergiur meraih kehebatan dunia, hingga lalai meraih bekal terbaik menuju kehidupan di masa depan.

Sebab itu Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 13 dengan tegas mengingatkan, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Apa sejatinya ukuran bernilai tidaknya seorang manusia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Ialah taqwa. Seberapa seorang hamba mengutamakan agama dan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Seberapa keimanan seorang hamba mengakar kuat di dalam hatinya. Tidak lepas dalam sedetik waktunya kecuali ingat pada Rabbnya. Tiada sejengkal langkah pun di dunia tanpa mengharap ridha dan petunjuk-Nya.

Maka sungguh orang-orang yang beruntung ialah mereka yang senantiasa fokus pada upaya menyiapkan bekal di akhirat. Selalu menyempurnakan ikhtiar agar dapat dinilai baik di sisi Allah, bukan semata-mata baik di hadapan sesama manusia. Sebab berjuta manusia menilai baik seseorang, tidaklah jaminan ia baik menurut Allah. Dikenal baik kita di sebuah wilayah tertentu, belum pasti dinilai baik oleh masyarakat di wilayah yang lainnya. Tetapi bila kebaikan itu datangnya dari Allah, maka seisi langit dan bumi menyaksikan kebaikan itu.

Lantas apa yang menjadikan manusia masih terus menerus mengejar kehebatan dunia? Yang seringkali justeru membuat ia lupa pada mengejar persiapan menghadap Rabbnya. Lantas apa yang menjadikan manusia berlomba mengejar kebaikan dunia, sedang habis waktu untuk berusaha menghadirkan upaya terbaik. Lantas apa yang membuat manusia bangga pada parasnya, pada hartanya, pada tahta dan kedudukannya? Sedang yang bernilai di sisi-Nya ialah iman dan taqwanya?

Sebagaimana tertuang jelas dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah, Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.”

Baca Juga: 10 Golongan Orang yang Mengerjakan Shalat, Tapi Tidak Diterima Oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala!

Originally posted 2017-08-22 16:23:01.