Siapakah yang Paling Kuat di antara Manusia?

Sumber Foto Dari: id.aliexpress.com

HIJAZ.ID – Tidak heran jika kebanyakan manusia terbuai oleh kenikmatan dunia. Terkecoh oleh segala sisi yang hakikatnya sementara. Sebab memang demikianlah cara syaitan memalingkan akhirat dari pandangan seorang manusia. Pelupuk matanya terhalang oleh orientasi fana yang nyaris tak akan bernilai kelak di kehidupan selepas kematian.

Semakin hari, perselisihan semakin nampak jelas menghantui setiap perjumpaan. Selalu ada saja masalah dan persoalan yang membuat kita terus merasa paling dari lainnya. Paling benar, paling tinggi, paling kuat. Bahkan se-sepele perkara dunia pun, di antara kita saling menjatuhkan, saling menumbangkan. Satu pihak merasa paling kuat hingga menindas pihak lain. Satu orang merasa paling kokoh hingga merasa orang lain tak lebih baik sebab dayanya yang jauh berbeda.

Si kuat kemudian merasa bisa melakukan apa saja kepada yang dianggap lemah. Berbuat sesukanya, mendzalimi semaunya. Sungguh wahai sekalian manusia, apakah kuatnya kita tersebab tenaga, tersebab bentuk fisik yang di atas rata-rata itu penting?

Apakah kuatnya seorang manusia di dunia bernilai? Apakah kokohnya seorang manusia di dunia dengan seketika memudahkan jalan ke surga-Nya? Sungguh tidak ada jaminan. Bahkan menjadi teramat sia-sia bila digunakan pada sisi-sisi keburukan yang jauh dari mengupayakan kemanfaatan.

Sebab penilaian kuat menurut manusia jauh berbeda, dengan penilaian kuat menurut Allah dan Rasul-Nya.

Jika siapa pun di antara kita yang merasa kuat fisiknya, teramat sederhana ukurannya. Tidak perlu beradu gelut untuk menentukan, marilah berlomba berbuat kebaikan. Memperbanyak amal kebaikan, menyempurnakan ikhtiar sebagai bekal kelak di hari kemudian. Sanggupkah kita menjalankan apa-apa sebagaimana Rasulullah menjalankan?

1) Menjalankan ibadah shalat di masjid. Tidak perlu dengan mengadu kekuatan fisik untuk bisa menentukan siapa yang kuat. Cukup buktikan dengan kuatnya melangkahkan kaki menuju masjid untuk shalat berjamaah. Menjaga agar istiqamah, terus berupaya menyempurnakan. Siapakah yang kuat di antara manusia? Bila jawabannya atlet binaraga, maka sudah pasti yang akan memenuhi masjid ialah binaragawan. Bila jawabannya seorang profesor, maka masjid akan penuh dengan shaf yang diisi oleh orang-orang alim. Bila jawabannya santri, maka kelak masjid akan penuh dengan generasi bersarung dan berpeci.

Maka siapakah yang kuat di antara manusia? Ia yang mampu menggerakkan kaki bahkan sebelum adzan berkumandang. Ia yang mampu menjaga jamaahnya, ia yang istiqamah menjaga kemuliaan awal waktunya.

Siapa yang lebih kuat dari Rasulullah. Hingga shalat sunnahnya membuat kaki beliau bengkak. Hingga seorang sahabat tak kuasa menahan beratnya shalat bersama sang baginda. Beliau khatamkan Qur’an di shalat sunnahnya. Berdiri tak terhitung lamanya, shalat tak terkira bagusnya. Mampukah kita menyamai, atau setidaknya mencoba mendekati? Lantas siapa yang kuat di antara manusia?

Baca Juga: 10 Golongan Orang yang Mengerjakan Shalat, Tapi Tidak Diterima Oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala!

2) Menahan amarah. Sebagaimana berkali-kali diingatkan oleh Rasulullah, bahwasanya yang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tapi yang mampu menahan amarahnya. Maka jelas tersampaikan, bahwa yang menang dalam bergulat justeru tidak menjadikan ia kuat di sisi Allah. Kemampuannya menahan amarahnya yang kelak akan bernilai, dan ialah si kuat sesungguhnya. Sebab musuh terbesar seorang manusia adalah nafsunya. Di saat marah, syaitan akan meniupkan benih-benih api ke dalam hatinya, hingga terbakar dan tersulut emosinya. Melampiaskan amarahnya hingga timbullah kerusakan, perkelahian, hancurnya hubungan sesama manusia.

Siapakah yang lebih kuat di antara manusia sebagaimana kuatnya Rasulullah menahan amarahnya. Di hujani kotoran setiap hari, beliau justeru menjadi penolong pertama orang yang mendzalimi. Dihinakan, dicaci maki, beliau justeru menyuapi si buta Yahudi setiap hari. Dilempari batu hingga berdarah pelipisnya, beliau menolak tawaran Malaikat Jibril untuk menumpahkan seisi gunung kepada orang-orang yang telah menyakiti. Beliau justeru mendoakan mereka agak kelak Allah turunkan hidayah kepadanya. Lantas siapakah yang kuat di antara manusia?

3) Menjalankan puasa sunnah. Banyak dari muslim tidak memahami, atau mungkin sengaja tidak ingin memahami. Bahwasanya ada syariat berpuasa sunnah yang pahalanya istimewa. Yang kebanyakan manusia paham dan kerjakan sebatas ibadah Ramadhan. Padahal dalam keseharian, ada sekian sunnah berpuasa yang jika dijalankan teramat istimewa ganjarannya. Sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada puasa di Senin-Kamisnya, ada puasa tiga hari di setiap bulannya (ayyamul bidh), ada puasa yang dilaksanakan per selisih satu harinya (puasa Daud), dan lainnya.

Sudah mampukah kita menjalankan apa-apa yang menjadi kebutuhan sebagai upaya pengumpulan bekal? Sudahkah kita merasa teramat kuat, hingga dengan bangga hati tersebab berbadan kekar, bertubuh tegap? Lantas sudah sekuat apa menurut definisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

Tidak malukah kita dengan anak seusia 4 tahun yang sudah mengkhatamkan hafalan Qur’an? Tidak malukah kita pada seorang nenek 80 tahun yang selama dua tahun berjuang menghafalkan ayat demi ayat-Nya hingga sempurna? Tidakkah kita merasa lebih lemah dari seorang anak buta yang dengan semangat luar biasa menghafalkan Qur’an, hingga enggan memilih sembuh dari butanya sebab khawatir akan lahirnya dosa-dosa?

Lantas seberapa kuatkah kita?

Baca Juga: Siapakah yang Paling Bernilai di antara Kita?

Originally posted 2017-08-23 01:46:09.