Bersiul, Ternyata ini Hukumnya Dalam Islam!

Sumber foto dari azmi648.blogspot.com
HIJAZ.ID Di dalam Islam terdapat cara sendiri untuk merayakan sesuatu, terutama kegembiraan. Di dalam bersenda gurau pun Islam memiliki adab yang harus dipahami. Pada saat ini, bersiul merupakan hal wajar yang bahkan kadang tidak terpikir dilarang atau tidak hal tersebut. Meskipun sekedar siulan, hal ini tentunya diantur dalam Islam, lantas bagaimana dengan hukum bersiul dalam Islam? Simak ulasannya berikut ini.

Terdapat tiga pendapat mengenai hukum bersiul yaitu haram, makruh, serta diperbolehkan selama tujuannya bukan untuk beribadah.

  • Bersiul Diharamkan

Haramnya bersiul didasarkan pada salah satu ayat di dalam Al Quran, bahwa Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Sholat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan”. (QS. Al Anfal:35)
Al-Jashas dalam tafsirnya menyatakan terkait siulan bahwasanya:

“Siulan dan tepukan tangan dinamakan shalat, karena orang musyrikin menjadikan siulan dan tepuk tangan sebagai pengganti doa dan tasbih. Ada yang mengatakan, mereka bersiul dan bernyanyi ketika sedang beribadah.” (Ahkam al-Quran, 3/76)

Diterangkan pula dalam suatu fatwa tentang dilarangnya siulan dalam Islam. Bahwasanya:

“Bersiul itu dilarang, dalam bahasa arab fasih disebut al-Muka’. Dan ini tradisi Jahiliyah, dan termasuk akhlak yang buruk.” (Fatawa Lajnah Daimah, 26/390)

Karena meruoakan kebiasaan beribadah umat non Islam sehingga sangat dianjurka untuk meninggalkan kebiasaan tersebut. Syekh Al-Fauzan Hafizahullah berkaitan dengan siulan mengatakan:

“Seorang wanita tidak dibolehkan meninggikan suara di hadapan para lelaki, karena dalam suaranya terjadi fitnah. Tidak dengan siulan, tidak juga dengan lainnya. Kemudian siulan pun tidak dikenal oleh kebanyakan umat Islam baik masa lalu maupun sekarang. Ia termasuk kebiasaan buruk yang selayaknya ditinggalkannya, juga menunjukkan sedikitnya rasa malunya.” (Al-Muntaqa Min Fatawa Al-Fauzan, 10/60).

Baca Juga: Tepuk Tangan, Perbuatan Jahiliyah yang Diharamkan?
  • Bersiul Dimakruhkan

Hukum makruhnya bersiul didasarkan pada perkataan Syeikh Abdul Qadir Jailani, Syeikh Abdul Qadir Rahimahullah mengatakan bahwasanya:

“Makruh bersiul dan tepuk tangan.” (Al-Adab As-Syar’iyah, 3/375)

  • Diperbolehkan Bersiul Selama Bukan untuk Ibadah

Dalam hal ini diperbolehakna dengan tujuan bukan untuk beribadah. Pernyataan ini didasarkan pada perkataan Syaikhul Islam bahwasanya:

 “Orang-orang musyrikin berkumpul di masjidil haram, mereka tepuk tangan dan bersiul-siul. Mereka yakini itu ibadah dan cara shalat . Lalu Allah mencela tindakan mereka itu. Dan Allah sebut itu kebatilan yang dilarang.”(Majmu’ al-Fatawa, 3/427)

Dari ketiga dasar, maka disebutkan bahwa pendapat yang mendekati adalah pendapat yang kedua yang disampaikan oleh Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. Terlebih di sana ada riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan Mujahid, bahwa bersiul itu tradisi buruk umatnya Nabi Luth. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/276)

Dengan demikian, daripada melakukan sesuatu yang bukan kebiasaan umat Islam, akan lebih baik jika tidak melakukannya, dan akan lebih baik lagi jikalau mengamalkan kebiasaan umat muslim sendiri, misalnya bersholawat atau cara lain dalam mengungkapkan kebahagiaan. Semoga Allah senantiasa terus menuntun hati kita semua.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Memejamkan Mata Saat Sholat, Apakah Dilarang?

Originally posted 2017-08-23 14:35:32.