Akhwat Hati-Hati Jangan Memilih Calon Suami Karena Karir dan Gajinya?

Sumber Foto Dari : Google
HIJAZ.ID Maha Suci Allah yang menciptakan langit dan bumi serta menciptakan segalanya berpasang-pasangan. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 1
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍۢ وَٰحِدَةٍۢ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًۭا كَثِيرًۭا وَنِسَآءًۭ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًۭا

“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.” [QS. An Nisaa (4):1].

Islam mengajarkan umat muslim untuk memilih calon suami/ istri berdasarkan empat hal sebagaimana dalam hadits yang artinya:

“Wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, pilihlah karena agamanya maka itu akan membuatmu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Hadits tersebut sebagai landasan bagi para kaum adam dan hawa dalam memilih pasangan agar memilih calon pasangannya berdasarkan hartanya, keturunannya, kecantikan/ ketampanannya, atau karena agamanya. Agama Islam lebih menganjurkan untuk memilih karena agamanya. Karena seorang yang kuat agamanya, teguh imannya, maka besar juga tanggung jawabnya.

Baca Juga : Mengenal Ruqayyah, Putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dalam sebuah ceramah Ustadz Felix Siaw mengatakan bahwa jangan memilih suami berdasarkan gaji dan jabatannya. Kenapa tidak boleh berdasarkan gaji dan jabatannya? Padahalkan dalam hadits boleh memilih kriteria jodoh berdasarkan hartanya. Mari cari tahu jabatannya dalam paragraf selanjutnya.

Ustadz Felix juga melanjutkan ceramahnya dengan mengajukan pilihan lain setelah melarang memilih jodoh berdasarkan jabatan dan gajinya. Ustadz Felix Siaw berkata para akhwat harus hati-hati jangan memilih calon suami berdasarkan gajinya dan jangan memilih calon suami karena karirnya, tapi pilihlah calon suami karena potensi rezekinya.

Rezeki merupakan kenikmatan yang Allah Subhanallahu wa Ta’alla berikan kepada setiap hamba yang dikehendaki-Nya. Karir yang tinggi dan harta yang banyak tidak menjamin bagus potensi rejekinya, karena sejatinya rejeki itu yang kita nikmati, pakai, dan rasakan.

Ada orang yang gajinya kecil tapi potensi rejekinya besar, adapula yang gajinya besar (sepertinya) tapi potensi rejekinya kecil. Misalnya seorang yang kaya raya dapat memberi semua makanan, tapi nyatanya belum tentu bisa menikmati semua makanan karena rejeki nikmat sehat yang telah diambil. Sedangkan seorang Ustadz imam masjid di sebuah komplek yang tinggal di pojokan komplek, dan hanya punya satu motor. Karena berkahnya do’a, qodarullah seorang tetangga meminta untuk menggunakan mobilnya agar mobilnya berkah, dan ternyata beberapa tetangga yang lainpun protes serta meminta dijadwal pemakaian mobilnya karena sama-sama ingin dapat berkahnya.

Ustadz Felix Siaw mengambil kesimpulan bahwa sebelum membina rumah tangga, maka carilah pasangan yang memiliki misi sama yakni ingin keluarganya berkah dan meraih ridha Allah, bukan semata-mata mencari kesenangan dunia.

Wallahu A’lam Bisshowab

Baca Juga : Ketika Jodoh Terasa di Depan Mata Tapi Berlalu Begitu Saja, Berprasangka Baiklah!

Originally posted 2017-08-24 12:40:17.