Antara Tarian Seorang Perempuan dan Hukumnya dalam Islam

Sumber foto dari m.tempo.co
HIJAZ.ID Menari merupakan salah satu bagian dari kebiasaan dalam kehidupan saat ini, baik dalam segi hiburan atau lainnya. Terutama bagi sebaaian kaum perempuan, terkadang tarian merupakan bagian bagian dari hobi yang ditekuni. Lantas bagaimana dengan hukum perempuan yang menari? Simak ulasannya sebagai berikut.

Terkait dengan tarian terdapat beberapa perbedaan pendapat, ada pendapat yang mengharamkan adapula pendapat yang memperbolehkan seorang wanita menari asalkan tidak berada di depan laki-laki yang bukan mahram.

Adapun pendapat yang melarang terkait tarian. Dalam suatu pernyataan telah disebutkan, bahwasanya:

“Ada pun menari dan bertepuk tangan, itu adalah perbuatan ahli kefasikan.”. (Subulus Salam, 2/192)

Disebutkan pula oleh Al-Qurthubi bahwasanya:

 “Ulama berdalil dengan ayat ini untuk mencela kegiatan menari dan menekuni tari.”

Imam Abul Wafa’ Ibnu Aqil Rahimahullah juga mengatakan:

“Al-Quran telah menegaskan larangan menari. Allah berfirman, (yang artinya): “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong.’ Allah mencela berjalan dengan sombong. Dan menari itu lebih buruk dari pada itu.” (Tafsir al-Qurthubi, 10/263).

Terdapat pendapat pula yang membolehkan bahwa tarian (yang baik) secara umum tidak diharamkan, Al-Imam al-Ghazali mengatakan pula terkait tarian atau yang biasa disebut dengan Ar- Raqsh, yaitu bahwasanya:

 “Ar-Raqsh adalah penyebab di dalam menggerakan kegembiraan dan kesemangatan, seandainya haram, niscaya Siti Aisyah tidak akan melihat kepada Habasyah tersebut bersama Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam untuk melihat mereka menari “.(Ihya Ulumiddin : 2/300)

Baca Juga: Akad Nikah di Masjid, Bagaimanakah Hukumnya?

Adapun pendapat yang memperbolehkan tarian dengan syarat tidak mengundang hawa nafsu (berlenggak-lenggok). Syaikh Mayhur Hasan Salman mengutip dari an-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj, bahwasanya:

“Dibolehkan menari selama tidak berlenggak-lenggok seperti yang dilakukan banci. Tarian para wanita di acara walimah, jika berlenggak-lenggok atau goyang-goyang pinggul sebagaimana yang dilakukan wanita nakal, maka hukumnya haram. Adapun tarian maju mundur, untuk menunjukkan kegembiraan, sebagaimana yang dilakukan ibu-ibu, ini tidak masalah”.

Disebutkan pula oleh Al-Munawi terkait tarian bahwasanya :

“Hingga kamu mengetahui Yahudi dan Nashoro orang-orang yang keras bahwa dalam agama kami ada keringanan “, ucapan ini diucapkan oleh Habasyah di saat hari raya, Nabi melihat mereka dalam keadaan menari dan bermain dengan senjata. Dalm hal ini ada keringanan dalam melihat kepada permaianan yakni jika permainan itu tidak ada gitar dan suling “.(Faidh al-Qadir : 3/436)

Sedangkan disebutkan bahwa tarian seorang perempuan dihadapan suaminya itu diperbolehkan. Syaikh Masyhur Hasan Salman mengatakan bahwasanya:

“Tarian wanita yang tidak dilihat lelaki, itu dibolehkan. Adapun tarian seorang istri di hadapan suaminya, hukumnya halal apapun keadaannya”.

Dengan demikian, maka terdapat pendapat yang mengharamkan karena menyerupai ahli kefasikan terdapat pula pendapat yang memperbolehkan seorang perempuan menari selama ia mampu menutupi aurat, tidak berlebihan, serta tidak mengundang syahwat. Dan untuk para istri diperbolehkan untuk menari di depan suaminya. Bagaimanapun lewat tarian atau bukan sudah seharusnya seorang perempuan mampu menjaga dirinya dari hal-hal yang dilarang agama, salah satunya yaitu memperlihatkan aurat serta mengumbarnya yang berujung pada munculnya syahwat. Semoga senantiasa selalu dijauhkan dari hal-hal yang mampu melanggar syariat Islam.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Perhatikan Adab Ta’aruf Sebelum Menikah

Originally posted 2017-08-24 13:32:35.