Menikah dengan Mahar Tidak Dibayar Tunai, Bolehkah?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Menikah merupakan salah satu sunnah yang disyari’atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentunya dengan syarat dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Islam. Banyak diantaranya yang memutuskan untuk menikah tanpa memperhatikan aturan-aturan Islam, seperti masih mengikuti kepercayaan nenek moyang mulai dari alasan tradisi ataupun adat istiadat yang padahal sudah jelas-jelas melanggar syari’at.

namun, pada pembahasan kali ini, ada hal yang akan dibahas yaitu mengenai mahar. Seperti telah kita ketahui, mahar merupakan salah satu syarat sahnya suatu pernikahan. Lazimnya, orang memberikan mahar dengan cara tunai. Tetapi, ada juga yang tidak tunai karena alasan satu dan lain hal. Mengenai hal ini, bagaimana hukumnya dalam Islam?

Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits. Mahar pernikahan boleh dibayarkan tunai, juga boleh dibayarkan secara bertahap (tidak tunai). Ibnu Qudamah mengatakan,

ويجوز أن يكون الصداق معجلا ومؤجلا وبعضه معجلا وبعضه مؤجلا لأنه عوض في معاوضة فجاز ذلك فيه كالثمن

Mahar boleh disegerakan dan boleh ditunda. Boleh juga sebagian disegerakan, dan sebagian ditunda. Karena mahar termasuk bayaran dalam akad muawadhah (imbal-balik), sehingga boleh disegerakan atau ditunda, seperti harga. (al-Mughni, 8/22)

Baca Juga : Adakah Amalan Khusus yang Disyari’atkan Pada Bulan Dzulhijjah?

Keterangan lain disampaikan Syaikhul Islam ketika menjelaskan masalah surat nikah, yang tertulis jenis maharnya,

ولم يكن الصحابة يكتبون “صداقات” لأنهم لم يكونوا يتزوجون على مؤخر ؛ بل يعجلون المهر ، وإن أخروه فهو معروف ، فلما صار الناس يتزوجون على المؤخر والمدة تطول ويُنسى : صاروا يكتبون المؤخر ، وصار ذلك حجة في إثبات الصداق ، وفي أنها زوجة له

Dulu para sahabat tidak menulis mahar, karena mereka tidak menikah dengan mahar tertunda, namun mereka segerakan mahar. Andai mereka akhirkan, itu akan dikenal. Ketika masyarakat menikah dengan mahar tertunda, sementara waktunya panjang dan kadang lupa, maka mereka menulis mahar yang tertunda. Bukti tertulis ini menjadi dasar mahar terutang, dan bahwa wanita ini adalah istrinya. (Majmu’ Fatawa, 32/131)

Semua kembali kepada kesepakatan. Imam Ibnu Baz menjelaskan tentang teknis pembayaran mahar,

هذه المسألة ترجع إلى اتفاق الزوجين ، أو الزوج وولي المرأة ، إذا اتفقا على شيء فلا بأس به ، من تعجيل أو تأجيل ، كل ذلك واسع والحمد لله ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : (الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ)

Permasalahan ini kembali kepada kesepakatan suami-istri atau kesepakatan suami dan wali wanita. Ketika mereka sepakat dalam hal tertentu, tidak masalah, seperti menyegerahkan mahar atau menundanya. Semua itu longgar, walhamdulillah… berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kaum muslimin harus mengikuti kesepakatan mereka.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 21/89)

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Akan Berqurban? Perhatikanlah Larangan yang Harus Dipatuhi Berikut Ini!

Originally posted 2017-08-24 22:23:22.