Bagaimana Hukum Mandi Sebelum Melaksanakan Shalat Jum’at?

Sumber Foto Dari: ww.upstatederm.com

HIJAZ.ID – Dalam tuntunan agama Islam, mandi difungsikan sebagai upaya untuk menghilangkan hadas kecil dan besar yang tersisa dari tubuh manusia. Sesungguhnya, kebiasaan masyarakat kita, khususnya di kawasan Asia, mandi bukan lagi merupakan sesuatu yang spesial sebab dilakukan setiap hari, bahan berkali-kali.

Meski begitu, kedudukan mandi di hari Jum’at menjadi menarik, sebab seorang muslim laki-laki diwajibkan untuk sebaik mungkin menyiapkan diri jelang pelaksanaan ibadah Jum’at. Mandi pada hari ini menjadi satu dari sekian syariat yang dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka berdasar pada ketentuan tersebut, melihat realitas di keseharian masyarakat yang dalam beberapa keadaan sulit untuk mandi sebelum pelaksanaan ibadah Jum’at, muncullah pertanyaan tentang bagaimana hukum mandi, hanya anjuran pelengkap syariat atau justeru kewajiban.

Terdapat dua pendapat yang sama kuat, menjadi dasar ketentuan tentang hukum mandi sebelum pelaksanaan ibadah Jum’at.

1) Pendapat yang mewajibkan mandi sebelum Jum’at. Sebagian ulama mewajibkan mandi sebelum melaksanakan ibadah Jum’at, yang didasarkan pada beberapa riwayat hadist.

Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad dan Tirmidzi, “Mandi Jum’at adalah wajib bagi setiap yang telah bermimpi (baligh).” 

Kemudian daam riwayat yang lain, Dalam Shahih Muslim disebutkaImam Muslim menerangkan, “Ketika Umar bin Khathab radliyallah ‘anhu berkhutbah di hari Jum’at, tiba-tiba Utsman bin ‘Affan masuk. Maka Umar memotong khutbahnya untuk menegurnya seraya berkata, “kenapa orang-orang terlambat setelah seruan dikumandangkan?” Utsman menjawab, “Ketika aku mendengar seruan Adzan, aku tidak dapat berbuat lebih daripada sekedar wudlu’ dan kemudian berangkat.” Maka Umar berkata, “hanya berwudlu? Bukankah kalian pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum’at hendaklah dia mandi.”

Dalil wajibnya mandi sebelum melaksanakan ibadah Jum’at juga tertuang dalam riwayat Imam Bukhari, “”Wajib bagi setiap muslim untuk mandi pada satu hari dari setiap tujuh hari, pada mandi itu dia mengguyur kepala dan badannya.”

Syaikh Abu Malik Kamal bin al Sayyid Salim dalam Shahih FIqih Sunnah, memilih pendapat ini. Beliau menjelaskan, “Diwajibkan mandi bagi siapa yang mendatangi shalat Jum’at, yaitu orang-orang yang diperintahkan untuk menunaikan shalat Jum’at, menurut pendapat ulama yang paling shahih, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan dalam Perkara-perkara yang mewajibkan mandi.”

Lebih tegas, Shafiyyurrahman al Mubarakfuri dalam Ithaf al Kiram Ta’liq ‘alaa Bulughul Maram menyatakan bahwa pendapat ini lebih absah, lebih rajih, dan lebih kuat daripada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Dan berpendapat dengan ini jauh lebih selamat.

Baca Juga: Inilah Shalat yang Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya!

2) Pendapat yang menyatakan tidak wajib. Sebagian ulama menetapkan hukum bahwa mandi sebelum dilaksakannya ibadah Jum’at tidaklah wajib. Mandi hanyalah salah satu dari syariat sunnah yang ketika dikerjakan mendapat satu keutamaan, namun bila tidak dikerjakan pun tidak mendapatkan dosa.

Artinya bagi siapa yang menginginkan tambahan pahala, maka mengerjakannya lebih baik. Dan bagi siapa yang merasa perlu mandi tersebab hadas besar, maka tentu diwajibkan baginya mandi sebelum melaksanakan shalat Jum’at.

Dalam riwayat Muslim dijelaskan, “Barangsiapa berwudlu’, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudlunya, kemudian mendatangi shalat Jum’at dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum’atnya.”

Pada hadist di atas tertuang makna bahwa sebelum melaksanakan ibadah Jum’at, seorang muslim hanya disyariatkan untuk mengambil wudhunya dan hendaknya ia memperbagus wudhunya.

Dalam riwayat berbeda, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad menerangkan, Barangsiapa yang berwudlu’, maka dia telah mengikuti sunnah dan itu yang terbaik. Barangsiapa yang mandi , maka yang demikian itu lebih afdhal.

Ibnu Hajar menuliskan hadist ini dalam Bulughul Maram setelah hadist yang menunjukkan diwajibkannya mandi di hari Jum’at. Kemudian Imam al Shan’ani dalam Subulus Salam mengatakan, “hadist ini menjadi dalil tidak wajibnya mandi.”

Mendukung pernyataan Imam al Shan’ani, dalam kitab Ithaf al Kiram, Al-Mubarakfuri menegaskan, “hadist ini menguatkan pendapat Jumhur bahwa mandi hari Jum’at tidak wajib.”

Berkaitan dengan peristiwa khutbahnya Umar yang menegur Ustman, para ulama berpendapat bahwa pada saat itu Umar membiarkan Ustman untuk melanjutkan ibadah Jum’atnya dan tidak menyuruhnya mandi lebih dulu. Maka para ulama sepakat untuk menetapkan ijma’ berdasar pada peristiwa tersebut, bahwa mandi bukan menjadi syarat sahnya shalat Jum’at dan hukumnya pun tidak wajib.

Lebih dalam Imam An-Nawawi membahasnya, “seandainya mandi Jum’at itu wajib, pasti Ustman tidak akan meninggalkannya. Dan jika wajib, pasti Umar dan para sahabat lainnya akan menyuruhnya mandi. Padahal status keduanya sebagai Ahlul Halili wal ‘Aqdi.”

Imam at-Tirmidzi menyimpulkan dari kisah ini, bahwa sesungguhnya hukum dari mandi Jum’at ialah bersifat pilihan, dan bukan sesuatu yang wajib.

Maka berdasar pada kedua pendapat di atas, yang semestinya kita utamakan bukanlah perbedaan pendapat dari sebagian ulama, tetapi bagaimana agar di saat Jum’at mendapatkan keutamaan yang sebanyak-banyaknya. Bila sudah tertanam di dalam hati kita untuk senantiasa mengejar keutamaan, maka bila dalam keadaan memungkinkan untuk mandi, sebaiknya dikerjakan. Kecuali tidak dalam keadaan yang bisa mengerjakan, maka kejarlah keutamaan lain yang bisa diupayakan.

Baca Juga: Inilah Golongan Orang yang Kekal di Dalam Neraka!

 

 

Originally posted 2017-08-25 04:28:53.